Zona Subduksi Lempeng, Intensitas Gempa di Malang Naik 3 Tahun Terakhir | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
download
Ilustrasi saat musim-musim cuaca ekstrim (Foto: Suarasurabaya.net)
BERITA HIGHLIGHT RISET

Zona Subduksi Lempeng, Intensitas Gempa di Malang Naik 3 Tahun Terakhir

SATUKANAL, MALANG – Hingga saat ini, gempa bumi menjadi salah satu kejadian alam yang bisa tercatat tetapi sulit terprediksi. Masyarakat pun terus diminta waspada akan terjadinya gempa, terutama di kawasan pesisir seperti di Kabupaten Malang dan sekitarnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Karangkates mencatat, ada peningkatan intensitas gempa bumi di sekitar perairan selatan Malang dalam tiga tahun terakhir. Salah satunya karena pantai selatan Jawa dilewati oleh zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.

BMKG mencatat, sepanjang tahun 2019 total kejadian gempa bumi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya yang terekam oleh Stasiun Geofisika Malang mencapai 727 kejadian. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan tota kejadian gempa bumi pada tahun 2018 yaitu 662 kejadian gempa bumi.

Sementara pada 2017 lalu, ada 557 gempa bumi yang terekam seismograf. Untuk kejadian pada 2019, gempa bumi paling banyak terjadi pada bulan Agustus dengan jumlah 80 kejadian dan paling rendah bulan Juni dengan jumlah 38 kejadian.

Baca Juga :  Pemkot Malang: Perkantoran Diminta Lakukan Swab Mandiri Untuk Pegawainya

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Karangkates, Musripan mengungkapkan bahwa gempa bumi dirasakan yang tercatat di tahun 2019 sebanyak 26 kejadian. Angka ini lebih banyak dibanding pada tahun 2018 yaitu 14 kejadian.

“Gempa dengan magnitude terbesar M 6.9 kedalaman 602 kilometer (km) dirasakan III MMI di Madura dan II MII di Malang pada tanggal 19 September 2019,” tuturnya.

Sementara pada awal 2020 ini, tepatnya pada 5 Januari, gempa tektonik magnitudo (M) 4,8 terjadi di Malang, Jawa Timur. BMKG menjelaskan gempa yang terjadi itu merupakan jenis gempa menengah. “Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa menengah akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia,” terangnya.

Episenter gempa terletak pada koordinat 8,73 LS dan 112,50 BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 66 km barat daya Kabupaten Malang di kedalaman 76 km. Gempa dirasakan dalam skala II MMI di Sawahan, Nganjuk; Tempursari, Lumajang; Ponorogo; dan Trenggalek. Guncangan juga dirasakan di Karangkates, Malang; Tulungagung; dan Blitar dalam skala III MMI. Beberapa warga sempat berlarian ke luar rumah karena terkejut akibat guncangan gempa yang terjadi dengan tiba-tiba.

Baca Juga :  Malang Kembali Zona Merah Covid-19, Pemkot Hentikan Operasional Bioskop

“Dalam hal fenomena gempa bumi sejauh ini masih sulit untuk diprediksi dengan tepat. Tetapi potensi gempa bumi selalu ada, khususnya di wilayah pantai selatan Malang yang juga belum bisa diketahui kapan itu akan terjadi,” imbuhnya.

Potensi gempa yang disusul tsunami pun mungkin terjadi. Namun, Musripan menyebut bahwa BMKG tentunya akan memberikan informasi atau peringatan (warning) jika ada gempa berpotensi tsunami. “Karena tsunami di wilayah Jawa Timur diakibatkan dari gempa besar dengan rata-rata 20-30 menit terjadi setelah gempa bumi,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, di seluruh pantai selatan Jatim sering terekam aktivitas gempa, baik wilayah Malang maupun wilayah lainnya. “Seringnya aktivitas gempa bumi ini terjadi disebabkan karena di sepanjang pantai selatan Jawa Timur dilewati oleh zona subduksi lempeng. Zona tersebut terbentuk akibat dari tumbukan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia,” pungkasnya.

Pewarta: M Ali Bisri
Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait