Wisata Budaya Gunung Kawi, Harmonisasi 5 Agama Serta Sederet Kisah Menarik Lainya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Wisata Budaya Gunung Kawi, Harmonisasi 5 Agama Serta Sederet Kisah Menarik Lainya
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Wisata Budaya Gunung Kawi, Harmonisasi 5 Agama Serta Sederet Kisah Menarik Lainya

Satukanal.com, Malang – Apabila diantara kalian pernah berkunjung ke objek Wisata Budaya Gunung Kawi yang berlokasi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Dilokasi wisata tersebut nantinya kalian akan menyaksikan sendiri bagaimana 5 agama yang hidup secara rukun dan harmonis.

Sholikin selaku Juru kunci Ciamsi Klenteng Dewi Kwan Im, menceritakan jika Objek Wisata Budaya Gunung Kawi dulunya adalah sebuah tempat menimba ilmu yang didirikan oleh Eyang Djoego (Raden Mas Soeryo Koesmono atau Kiai Zakaria II) dan Eyang Iman Soedjono (Raden Mas Iman Soedjono).

Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono merupakan sosok ulama atau Wali Allah yang berperan menyebarkan agama Islam pada masa Perang Diponegoro (1825-1830). Sosok Eyang Djoego masih keturunan dari Diponegoro. Sedangkan, Eyang Iman Soedjono masih keturunan atau trah silsilah dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Jogjakarta.

Kedua tokoh ini, selain menyebarkan agama Islam, juga ikut membantu mengusir penjajah di wilayah Gunung Kawi. Keduanya juga mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dan agama tanpa memandang ras, suku, agama hingga bahasa.

Bahkan, setiap murid diwajibkan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan mereka masing-masing. Tanpa harus terpaku kepada kepercayaan gurunya yang beragama Islam. Eyang Djoego dan Eyang Iman Soedjono wafat pada 1871 dan 1876.

Baca Juga :  Pameran Seni Rupa di DPRD Kota Malang Berakhir

Keduanya wafat hanya berselang 5 tahun. Hingga saat ini makam keduanya di objek Wisata Budaya Gunung Kawi masih sering dikunjungi peziarah mulai dari orang biasa sampai pejabat publik. Di Objek Wisata Budaya Gunung Kawi ini juga terdapat akulturasi budaya dari 5 agama.

“Di sini gereja ada, pura di atas ada, keraton, wihara, masjid, klenteng,” tegasnya.

Nilai sejarah yang melekat pada objek Wisata Budaya Gunung Kawi menjadikannya sebagai tujuan ziarah atau wisata religi. Warga dari berbagai etnis dan agama datang ke pesarean (pemakaman) tersebut untuk berziarah.

Beberapa etnis seperti Madura, Jawa serta Tionghoa kerap ke lokasi tersebut. Bagi warga keturunan Tionghoa yang kebanyakan non-muslim, sosok di balik makam tersebut merupakan nenek moyangnya. Sehingga tidak sedikit etnis Tionghoa yang datang ke makam tersebut.

Ternyata banyak juga orang yang berdatangan untuk ngalap berkah di area pesarean Gunung Kawi ini. Mereka datang untuk meminta pesugihan, berdoa dan berziarah sehingga hal ini secara tidak langsung membuat daerah tersebut makin ramai.

Selain menjadi lokasi dimana 5 agama yang hidup secara rukun dan harmonis, objek Wisata Budaya Gunung Kawi juga menyimpan sederet fakta menarik. Berikut adalah beberapa fakta yang telah dirangkum Satukanal.com.

1. Pernah dianggap sebagai tempat persembunyian PKI

Pada tahun 1965 lalu, Nasib kurang beruntung melanda Kraton Gunung Kawi. Kondisi politik indonesia yang tidak stabil pada masa itu, menyebabkan kraton ini ditutup karena sebagai sarang anggota PKI yang bersembunyi. Namun, tempat ini kembali dibuka pada tahun 1974.

Baca Juga :  Tertinggi di Jatim, Cukai Hasil Tembakau Kabupaten Malang 80 Miliar

2. Tempat pertapaan para raja

Lokasi wisata Kraton Gunung Kawi ini dahulu juga pernah menjadi lokasi pertapaan beberapa raja di Jawa. Para raja tersebut mencoba melakukan pertemuan spiritual dengan meminta petunjuk kepada Mpu Sindok. Salah satu raja yang melakukan pertapaan di lokasi itu adalah Prabu Kameswara dari kerajaan Kediri. Beliau memilih untuk turun tahta dan melakukan pertapaan di tempat ini. Tak hanya itu, beliau juga mengikuti jejak Mpu Sindok yaitu moksa.

3. Pohon Dawandaru dipercaya mendatangkan keberuntungan

Terletak di area pemakaman, pohon dawandaru (pohon keberuntungan) ini disebut juga sebagai shian-to atau pohon dewa oleh orang Tionghoa. Para peziarah sering menunggu dahan, buah ataupun daunnya yang jatuh. Konon kanya bila disimpan, dapat menambah kekayaan untuk orang tersebut. Namun seperti namanya, dibutuhkan kesabaran hingga berbulan-bulan untuk menunggu beberapa bagian dari pohon itu jatuh.

 

 

 

 

Pewarta : Viska 
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait