WHO: Pasien Isolasi Mandiri Covid-19 Wajib Punya Oksimeter - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
WHO: Pasien Isolasi Mandiri Covid-19 Wajib Punya Oksimeter
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

WHO: Pasien Isolasi Mandiri Covid-19 Wajib Punya Oksimeter

SATUKANAL.com, NASIONAL– WHO mengeluarkan pedoman baru terkait perawatan pasien covid-19. Aturan itu menyebut kini penggunaan Oksimeter wajib bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri.

Menurut WHO, pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri dengan gejala ringan sebaiknya menyediakan pulse oximeter atau alat oksimetri nadi. Hal ini dilakukan untuk mengecek kadar oksigen secara rutin. Dan melihat apakah kondisi pasien memang cukup dirawat di rumah atau perlu dirawat ke RS.

“Pedoman baru yakni pasien Covid-19 di rumah harus menggunakan oksimetri nadi, yang mengukur kadar oksigen, sehingga Anda dapat mengidentifikasi apakah di rumah kondisinya memburuk, atau akan lebih baik dirawat di rumah sakit,” kata Juru bicara WHO Margaret Harris dikutip dari Reuters.

Cara penggunaan oksimeter

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dr Adria Rusli, SpP(K, dilansir dari detik.com menyebut cara menggunakan pulse oximeter atau oksimeter cukup sederhana.

Ia menyebut untuk menggunakannya cukup menaruh alat tersebut di ujung telunjuk jari. Kemudian, oksimeter akan mensensor kadar oksigen di dalam jaringan. “Sangat simpel kok, itu tinggal tempel di jari tunggu beberapa menit, keluar angkanya, saturasi oksigennya,” lanjutnya.

Baca Juga :  3 Ketentuan Jelang Sholat Tarawih Berjamaah Pada Ramadhan 2021

Alat tersebut bisa mengukur kadar oksigen di jaringan, sehingga bisa sebagai alat pendeteksi dini (happy hypoxia). Happy hypoxia sendiri dapat membuat pasien COVID-19 mengalami sesak napas tiba-tiba dan berakhir fatal.

Cara melihat hasil oksimeter

Dikutip dari Mayo Clinic, cara melihat kadar oksigen normal menggunakan oksimeter ada diantara 95 hingga 100 persen. Sementara angka di bawah 90 persen dinilai terlau rendah. Beberapa dokter melaporkan, pasien COVID-19 masuk ke RS dengan kadar oksigen di 50 persen atau lebih rendah.

Meski demikian, penggunaan oksimeter tidak dapat berjalan secara maksimal apabila adaa beberapa hal yang mempengaruhi, seperti:

  • Pewarna kuku

Penggunaan pewarna kuku perlu dihndari ketika menggunakan oksimeter, karena dapat mempengaruhi efektivitas kerja pilse oximeter. Warna cat kuku bis amnyerap cahaya yang dipancarkan oleh oksimeter sehingga mengganggu pendeteksian kadar oksigen dalam darah.

  • Cahaya berlebih

Cahaya berlebih ketika penggunaan oksimeter dapat mempengaruhi hasil menjadi kurang akurat. Untuk itu, saat menggunakan oksimeter penting jika tidaak terpapar cahaya terang secara langsung agar oksimeter dapat bekerja secara baik.

  • Pergerakan
Baca Juga :  Ongkos Haji 2021 Bakal Naik 9,1 Juta

Pergerakan yang berlebih saat oksimeter sudah dipasang di jari dapat memicu akurasi hasil yang kurang tepat. Meminimalkan gerakan pada tubuh khususnya jari perlu dilakukan agar bentuk gelombang dari hasil cenderung menentu dan dapat terdeteksi dengan baik.

Saran dari WHO

WHO menyarankan agar pasien Covid-19 ditempatkan dalam posisi tertentu yang efektif dapat meningkatkan aliran oksigen. Dokter oleh WHO jura disarankan menempatkan  pasien dalam posisi tengkurep di depan mereka yang terbukti  mampu meningkatkan aliran oksigen.

Saran lain dari WHO yaitu penggunaan antikoagulan dosisi rendah untuk mencegah penggumpalan  darah di pembuluh darah. Penggunaan dosisi yang lebih rendah disarankan daripada dosisi yang lebih tinggi. Hal ini lantaran, dosis yang lebih tinggi dapat memicu masalah lain yang kemungkinan akan timbul.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait