WCC Dian Mutiara Ungkapkan Kekerasan Pada Perempuan Meningkat Di Era Pandemi Covid-19 | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
WCC Dian Mutiara Ungkapkan Kekerasan Pada Perempuan Meningkat Di Era Pandemi Covid-19
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

WCC Dian Mutiara Ungkapkan Kekerasan Pada Perempuan Meningkat Di Era Pandemi Covid-19

SATUKANAL.com, MALANG– Pandemi covid-19 tidak membuat angka kekerasan pada perempuan menurun. Hal tersebut diungkapkan Sri Wahyuningsih dari WCC Dian Mutiara, Kota malang.

Kerentanan seorang perempuan untuk menjadi korban baik itu dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan sehari-hari seakan menjadi hal penting untuk disuarakan.

Dilansir dari komnas perempuan ditemukan bahwa sepanjang Maret-Mei 2020 periode awal pandemi covid-19 ada 1.299 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk anak perempuan. Rinciannya, 784 kasus kekerasan (66%) terjadi di ranah privat, 243 kasus (21%) di ranah publik, 24 kasus (2%) kasus di ranah negara dan 129 kasus (11%) tergolong sebagai kekerasan berbasis online.

“Hasil kajian ini juga memperlihatkan bahwa intensitas kasus kekerasan di masa pandemi Covid-19 mengalami perubahan. Perempuan korban kekerasan mengalami kekerasan fisik yang lebih parah dibanding sebelumnya. Tekanan terjadi baik karena kondisi ekonomi keluarga, pembatasan ruang gerak maupun beban domestik yang bertambah sehingga meningkatkan stres dan memicu kekerasan dalam rumah tangga yang lebih parah,” dilansir dari laporan bertajuk ‘Melayani dengan Berani: Gerak Juang Pengadaan Layanan dan Perempuan Pembela HAM di Masa Covid-19’.

Sedangkan data terbaru yang diadukan ke Komnas Perempuan terkait kasus Kekerasan Terhadap Gender Berbasis Siber mencapai 659 kasus hingga oktober 2020 melonjak drastis dari angka 281 kasus pada tahun sebelumnya. Berdasarkan pemberitaan media selama pandemi ini, komnas perempuan juga menyoroti banyaknya kekerasan seksual yang mengorbankan laki-laki baik anak-anak maupun dewasa.

Terlepas dari penjabaran diatas, sepanjang 2016-2019 Komnas Perempuan mencatat adanya 55.273 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan langsung ke Komnas perempuan maupun ke lembaga layanan masyarakat ataupun pemerintah. Dari jumlah di atas 8.964 kasus dicatatkan sebagai tindak perkosaan dan kurang dari 30% laporan tersebut yang diproses secara hukum.

Baca Juga :  Ringankan Perekonomian Pekerja Seni dan Pelaku Usaha, Pemkot Batu Berikan BST Profesi

“Di Kota Malang sendiri, kasus perceraian di era pandemi berkisar kurang lebih 2000 kasus. Dan dari sekian banyak kasus kekerasan pada perempuan di Kota Malang, didominasi oleh perempuan yang sudah menikah. Lalu diikuti oleh mahasiswa yang cenderung khawatir, apabila melaporkan kasusnya. Maka akan terhalang untuk menyelesaikan studinya” ungkapnya.

Hal itu pulalah yang kemudian digaris bawahi oleh Sri Wahyuningsih dari WCC Dian Mutiara terkait peningkatan kasus di era pandemi covid-19 ini. Sri Wahyuningsih mengatakan bahwa dari lembaga Dian Mutiara terdapat banyak laporan terkait kekerasan seksual maupun kekerasan pada perempuan dewasa dan anak.

Sri Wahyuningsih menyebutkan bahwa dari sekian banyak laporan yang diadukan ke WCC Dian Mutiara, kasus terbanyak dialami oleh perempuaan yang telah berkeluarga. Menurutnya pandemi berdampak pada keterbatasan ekonomi keluarga. Misalnya adanya PHK dari perusahaan tempat kepala rumah tangga bekerja. Sehingga dapat mempengaruhi kesenjangan ekonomi pada keluarga.

“Terlebih lagi  untuk para perempuan yang sudah mendapat status janda dari perceraiannya. Rata-rata, para janda ini mendapatkan beban untuk menghidupi anak-anaknya secara mandiri. Hal ini tentu saja menambah beban sebagai seorang single parent dalam berkehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Pihak WCC Dian Mutiara juga mencatat bahwa kekerasan tidak hanya terjadi di kalangan perempuan berumah tangga, tetapi juga perempuan lajang remaja. Dalam hal ini, kekerasan berbasis gender sering terjadi. Baik itu dalam hubugan asmara maupun hubungan pertemanan.

Baca Juga :  Kabupaten Malang Perketat Prokes dan Waspadai Dua Klaster, Usai Masuk Zona Oranye

“Banyak diantara mereka yang juga mendapat perlakuan tidak mengenakkan. Dan itu merupakan kekerasan berbasis gender,” jelasnya melanjutnya.

Menurut Sri wahyuningsih, meskipun demikian perempuan menikah lebih berani melaporkan KRDT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang dialaminya termasuk menggugat cerai dibandingkan perempuan remaja pada masa pacaran.

“WCC Dian Mutiara sendiri sudah gencar-gencarnya melakukansosialisasi terkait adanya lembaga pengaduan di Kota Malang. Bahkan saya dan rekan-rekan senantiasa dan tak lelah untuk tetap mengedukasi terkait kasus kekerasan dan tempat mana yang dapat digunakan sebagai tempat pengaduan,” terang belia u menegaskan.

Di akhir pernyataannya, Sri wahyuningsih berpesan kepada masyarakat kususnya perempuan untuk berani melaporkan kekerasan yang terjadi terhadap diri mereka melalui lembaga-lembaga seperti WCC Dian Mutiara ataupun Rumah Keadilan. Tak Lupa dalam rangka 16 HAKTP, ia juga menyuarakan untuk segera disahkan nya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

“Selama ini korban banyak yang lansung melaporkan ke komnas perempuan, sedangkan sebenarnya ada lembaga terdekat yang bisa dijangkau untuk membantu mereka dalam menangani kasusnya. Meskipun dari pihak kami sudah gencar melakukan sosialisasi. Untuk itu, saya berharap dengan adanya sosialisasi ini, mereka menjadi lebih sadar dan paham atas semua bentuk kekerasan berbasis gender yang dialaminya. Dan saya berharap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera disahkan.” Ungkap Sri Wahhyuningsih kepada tim satukanal.com.

 

 

Pewarta: Adinda A.I.U.
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait