Warga Berdaya, Cafe Wow dan Desa Wisata di Lereng Wilis Belum Dapat Perhatian Pemerintah | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Cafe wow
Cafe Wow. (Foto: Isna)
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Warga Berdaya, Cafe Wow dan Desa Wisata di Lereng Wilis Belum Dapat Perhatian Pemerintah

SATUKANAL, KEDIRI – Beberapa tahun belakangan, wisata yang mengekplorasi keindahan alam menjadi tren. Terlebih, wisata di ketinggian yang instagramable.

Desa-desa wisata bermunculan. Desa yang awalnya biasa saja pun disulap sedemikian rupa menjadi jujugan wisatawan. Alam yang masih asri dan hijau jadi daya tarik. Sangat cocok untuk melepas penat efek rutinitas di kota sehari-hari.

Salah satunya, bisa dinikmati di Cafe Wow. Cafe yang berdiri di atas ketinggian 650 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini terletak di komplek Sumber Podang, Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.

Sang pemilik, Adi Hasto Utomo, tak muluk-muluk. “Saya hanya ingin membuat tempat yang menyuguhkan rasa nyaman,” katanya.

Semua bermula saat Adi yang dulunya berprofesi sebagai jurnalis program wisata di sebuah stasiun televisi swasta mendatangi di Desa Joho pada 2011 silam. Ketika itu, ia terkagum-kagum saat disambut musik lesung.

Sambutan itu menurutnya sangat khas. Terlebih, setelah masuk lebih dalam, Adi melihat potensi Desa Joho sangat besar.

Desa yang berada di ketinggian ini memiliki panorama khas, yakni bentang Gunung Wilis. Meski demikian, tidak mudah menerjemahkan potensi desa ini menjadi desa wisata.

Sebab, delapan tahun silam, jalanan masih tanah, akses jalan masih belum sebaik saat ini. Perlahan, dengan bahan dan modal seadanya, Adi mulai membangun Cafe Wow pada 2012.

“Saya bikin Wow supaya memicu ada kegiatan di desa ini. Saya coba konsep wisata kampung edukasi dua tahun setelahnya, sekitar 2014,” ujar Adi.

Dari situ, ia memberdayakan potensi alam hingga sumber daya manusia. Pengunjung yang membeli satu paket wisata, akan tinggal di rumah penduduk selama tiga hari dua malam.

Wisatawan bisa mengikuti kegiatan sehari-hari pemilik rumah. “Bisa ke sawah, menanam padi, ada juga yang berkebun kopi,” imbuh pria yang hobi fotografi ini.

Paket ini laris manis. Banyak wisatawan khususnya dari kota besar yang berkunjung. Selain paket bermalam, Adi juga mengemas wisata edukasi untuk anak sekolah dan paket outbond di tanah dekat perkebunan warga.

Mereka bisa belajar macam-macam pencaharian warga. Ada ternak lebah madu, menganyam bambu, berkebun, hingga berternak ke sawah.

Bangunan pertama Cafe Wow kurang lebih hanya seluas separuh ruang kelas sekolah. Tapi, begitu menginjakkan kaki di sana, suasana sejuk seketika menyelimuti. Memang, dari bagian paling atas ini pengunjung bisa menyaksikan lekuk Gunung Wilis di kejauhan.

Dari bagian bawah cafe ini, mata juga akan dimanjakan dengan pemandangan air terjun di kaki Gunung Wilis, kebun durian yang tampak di kejauhan, dan aliran Sumber Podang yang mengalir jernih.

Meski menggunakan nama cafe, tapi jangan dibayangkan kalau menu di Cafe Wow adalah menu makanan modern kebarat-baratan dengan harga selangit. Menu yang disediakan Cafe Wow justru kental dengan kearifan lokal.

Salah satu yang paling terkenal, sebut Adi, adalah nasi goreng tiwul. Di masyarakat, tiwul dikenal sebagai bahan makanan pokok pengganti beras.

“Karena ada daerah tandus yang tanahnya tidak bisa ditanami beras. Jadi, tiwul ini alternatifnya. Bahkan di beberapa tempat tiwul identik dengan kaum menengah ke bawah,” ungkap Adi.

Namun, di Cafe Wow, tiwul justru menjadi sajian yang dicari-cari. Bumbu nasi goreng tiwul ala berbeda dengan nasi goreng pada umumnya. Gurihnya berasal dari teri yang menjadi satu dengan bumbu.

Pengunjung yang mencoba nasi goreng tiwul, imbuh Adi, hampir selalu kembali dan memesan menu yang sama. Selain nasi goreng tiwul, yang jadi andalan Cafe Wow adalah kopi jagung.

Kopi jagung diproduksi oleh warga Desa Joho dari kebun kopi di ujung desa. Biji kopi yang telah kering digoreng dengan campuran jagung. Rasanya khas, dan harganya sangat murah. Hanya Rp 3 ribu per cangkir.

Butuh waktu enam bulan bagi Adi untuk mengenalkan Cafe Wow pada publik. Akhir 2012, cafe ini mulai dikenal. Bupati Kediri sempat hadir menilik cafe ini.

Sayang, Pemkab Kediri belum memberi perhatian lebih pada kampung wisata Desa Joho yang pernah meraih juara empat nasional ini. Pemkab ‘hanya’ pernah membantu pengerasan jalan.

Sejauh ini, pengembangan Cafe Wow dikelola secara mandiri oleh Adi. Ia merogoh kocek pribadi untuk memperbaiki cafe ini. “Perhatian pemerintah kurang, padahal retribusi juga diminta, padahal ini bukan objek wisata Pemkab, alasannya dibenturkan oleh Perda. Retribusi dipungut, tapi pemerintah tidak ikut ngopeni (merawat, red),” keluh Adi.

Bahkan, gara-gara retribusi, tak sekali dua ia mengalami gesekan dengan warga. Warga sampai memportal jalan masuk dan menarik tarif cukup tinggi pada pengunjung.

Selain pengerasan jalan, pihak Pemkab belum pernah mengunjungi Cafe Wow lagi sejak 2014. Padahal, selain menyumbang retribusi, Adi juga turut memberdayakan masyarakat.

Sebut saja pramusaji dan pegawai Cafe Wow. Serta masyarakat yang terlibat pada kampung wisata edukasi.

Adi berharap, pemerintah bisa lebih memperhatikan potensi desa ini. Salah satunya dengan membantu promosi. Sebab, pria lulusan sekolah pariwisata ini bercita-cita menjadikan warga Desa Joho bermental desa wisata.

“Mengubah perilaku masyarakat itu yang paling tidak mudah. Misalnya saja masyarakat yang masih menjemur pakaian di depan rumah, atau kandang-kandang ayam di depan rumah. Apa yang mau dijual pada wisatawan? Apa mereka beli tiket masuk untuk melihat jemuran, kan tidak?” papar Adi.

Kekayaan alam Desa Joho menyimpan potensi besar untuk dikembangkan. Terlebih, setiap 1 Suro penanggalan Jawa, gelaran Festival Sumber Podang rutin dilaksanakan. Yakni mandi bersama di sumber yang diyakini dapat melebur kesalahan.

Adi masih harus berpikir ulang bila akan mengembangkan seluruh potensi di desa ini tanpa campur tangan pemerintah. Selain pemodalan, menyamakan visi misi dengan masyarakat bukan pekerjaan mudah.

Pria yang tinggal di Mojoroto, Kota Kediri ini berharap pemerintah lebih membuka mata. “Potensinya besar, akses dari kota cukup mudah. Kita bisa tunjukkan keramahan bukan hanya melalui senyuman pada pengunjung, tapi juga melalui manajemen yang baik,” pungkasnya.

Pewarta: Isnatul Chasanah

    Kanal Terkait