Wahyu Syahputra, Tak Miliki Ijazah Bukan Jadi Hambatan Kreatifitasnya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Wahyu Syahputra, Tak Miliki Ijazah Bukan Jadi Hambatan Kreatifitasnya
Wahyu saat menujukkan hasil topeng buatannya (Foto: Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Wahyu Syahputra, Tak Miliki Ijazah Bukan Jadi Hambatan Kreatifitasnya

Meski otodidak, Wahyu Syahputra menjadi satu-satunya pengrajin tersisa di Kampung Topeng

Satukanal.com, Malang Terik mentari menyelimuti langit siang itu. Namun, panasnya tak menyurutkan masyarakat melakukan kegiatan selayaknya waktu normal. Lalu lalang kendaraan tetap menghiasi jalanan Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Ketika wartawan Satukanal.com tiba di sebuah Kampung Tematik yang biasa dikenal dengan sebutan Kampung Topeng, muncullah seorrang lelaki remaja dari salah satu rumah. Di kampung topeng ini, menjadi tempat beberapa keluarga binaan Dinas Sosial tinggal dan diberdayakan menjadi pengrajin topeng.

“Dari media ya mas?, monggo di sana saja,” sapanya ramah sembari menunjuk sebuah gazebo di area destinasi wisata. Ia adalah Wahyu Syahputra, satu-satunya pengrajin topeng yang tersisa di kampung tersebut. Meski umurnya terbilang muda, dirinya bisa membuat topeng dengan handal.

Awal kisahnya dalam mempelajari pembuatan topeng ditapaki pada tahun 2017. Saat itu, Wahyu hanya mencontoh pembuatan topeng dan mempraktikannya secara otodidak. “Sebenarnya di awal ada 10 orang yang dilatih membuat topeng, tapi saya tidak ikut. Tiba-tiba beberapa tahun kemudian saya tertarik, iseng saja untuk mencoba,” ujarnya.

Riuh Wisata Kampung Topeng yang mulai surut menyebabkan semua pengrajin berhenti. Alasan tidak ada perputaran ekonomi jadi yang paling lantang diucapkan. Hal tersebutlah yang menjadikannya satu-satunya pengrajin topeng tersisa.

Baca Juga :  Pengecekan Exit Tol Singosari, 114 Kendaraan Putar Balik

Berbekal ilmu juga kemahirannya dalam membuat topeng. Siapa yang akan menyangka jika lelaki 19 tahun ini sama sekali tak berjenjang pendidikan. Sempat bersekolah dan duduk di bangku kelas 1 SD, ia dikeluarkan oleh sang kepala sekolah. Alasannya, karena ia tertangkap basah sedang mengamen di jalanan Kota Malang.

Selang beberapa waktu, Wahyu bertemu dengan Safe Street Child (SSC) Malang dari Universitas Brawijaya. Mereka merupakan komunitas peduli anak jalanan yang memberikan pembelajaran kepada mereka. Karena itu, meski tak bersekolah ia bisa dengan lancar membaca dan menulis.

Melalui komunitas tersebut, pria asli Sukun itu diarahkan untuk bersekolah kejar paket. “Saat itu dipaksa, tapi tidak jadi lulus. Karena tidak ada kendaraan untuk ikut ujian,” katanya.

Setelah Kampung Topeng aktif, ia berhasil meninggalkan jalanan. Pesanan topeng yang terus berdatangan membuatnya bisa mencukupi kebutuhan tanpa perlu turun ke jalan. Anak ke 3 dari 5 bersaudara ini mengatakan jika tidak ada niat awal menjadi pengrajin topeng untuk berjualan.

Banyak dari para pengamen daerah tersebut juga berhenti imbas eksisnya wisatawan. Namun, ketika musim pandemi datang semua berubah. Kunjungan hampir sepi setiap harinya. Jangankan untuk ekonomi, pengeluaran operasional sebagai perawatan pun tidak tertutupi.

Ketika masih ramai, penjualan topeng bisa meliputi hingga Singapura. Harga yang dipatok juga relatif terjangkau. Berkisar dari Rp 35 ribu hingga 300 ribu. Tergantung dari jenis bahan dan ukurannya. Ia mengungkapkan topeng tersebut biasa digunakan sebagai souvenir pada acara penikahan.

Baca Juga :  Kota Malang kembali Zona Orange

Pembuatan topeng juga membutuhkan waktu yang cenderung lama. Untuk topeng berbahan fiber, memakan waktu kurang lebih satu jam. Jika bahan sudah siap seluruhnya. Pada jenis ini, pencampuran resin menjadi hal yang paling sulit dan menentukan dalam proses pembuatan.

Sedangkan pada topeng kayu, proses pemahatan membutuhkan konsentrasi dan ketelitian lebih tinggi. Untuk satu topeng bisa memakan waktu hingga 3 hari lamanya. biasanya, ia menggunakan kayu sengon, tipe kayu yang lembut dan mudah dipahat.

“Kalau berbicara pakemnya, memang kayu. Tapi untuk fiber karena lebih mudah dan tidak begitu mahal saja,” ucap Wahyu Syahputra.

Karakter pewayangan Jawa dan Malangan merupakan karakter yang dibuatnya. Ia berharap agar Wisata Kampung Topeng bisa hidup kembali. Karena dengan itu, ekonomi akan kembali berputar dan tidak perlu kembali ke jalan lagi.

“Semoga bisa lebih sukses lagi kedepannya. Eksisnya Kampung Topeng juga hal yang saya tunggu-tunggu. Siapa yang mau kembali ke jalan, jika ada pekerjaan yang lebih baik lagi,” tutup lelaki kelahiran 27 Mei 2002 tersebut.

 

 

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait