Upaya Penanganan Pasca Banjir, Bupati Mojokerto Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Upaya Penanganan Pasca Banjir, Bupati Mojokerto Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Upaya Penanganan Pasca Banjir, Bupati Mojokerto Salurkan Bantuan Bagi Warga Terdampak

Satukanal.com, Mojokerto – Ratusan rumah penduduk kembali terendam banjir di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Padahal, banjir di kawasan Desa Tempuran  tersebut sempat surut pada Rabu (6/1/2021). Namun kini banjir kembali merendam permukiman penduduk dan ketinggian air mencapai 27 sentimeter sampai 45 sentimeter.

Penyebab banjir kembali merendam permukiman di Desa Tempuran lantaran hujan intensitas tinggi mengguyur daerah di aliran sungai termasuk Kabupaten Mojokerto. Sehingga, debit air sungai Avour Watudakon meluap dan membanjiri permukiman di Desa Tempuran.

Dampak banjir juga merendam fasilitas umum seperti bangunan sekolah, tempat ibadah dan balai desa setempat. Dapur Umum (DU) Dinas Sosial Kabupaten Mojokerto kembali dibuka untuk memenuhi kebutuhan makan warga terdampak banjir di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Banyaknya warga yang terdampak banjir, pada Rabu pagi (3/3/2021) Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menyerahkan bantuan logistik bagi warga Desa Tempuran Sooko. Pada kegiatan penyaluran bantuan tersebut, Bupati Ikfina juga turut memberikan beberapa arahan.

“Tidak ada yang bisa menangani masalah ini sendiri. Semua pihak terkait harus sinergis, kerja cepat, dan cancut taliwondo (kerja dengan segenap kemampuan, tidak berpangku tangan dan kerjasama)”. Ujarnya.

Penyaluran bantuan ini merupakan perpanjangan masa darurat yang ditetapkan berlaku mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2021 (untuk Dusun Tempuran dan Dusun Bekucuk). Bantuan terdiri dari air bersih dalam 8 tandon berkapasitas 3.000 liter atau 24.000 liter sesuai kebutuhan, yang didistribusikan pada masyarakat tiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

Baca Juga :  Mayang Rontek, Tarian Khas Mojokerto Menyiratkan Nilai Filosofis Kehidupan

Warga Desa Tempuran yang terdampak banjir juga mendapat bantuan 604 paket sembako (mie instan, minyak goreng, gula pasir, kopi instan, teh, air minum kemasan), 3.000 kg beras dan 15 dus lauk pauk.

Pihak Kementerian ESDM juga turut menyalurkan bantuan dengan melakukan pengeboran air. Hal tersebut dilakukan karena sumber air Dusun Bekucuk berasa asin dan keruh. Untuk Desa Tempuran, pengeboran telah dilaksanakan pada 2020 lalu. Selanjutnya perlu tindaklanjut instalasi perpipaan ke rumah-rumah warga.

Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga memberi bantuan tanggap darurat perbaikan tanggul untuk beberapa desa terdampak. Antara lain 4.000 lembar karung glangsing dan 20 lembar gedek guling (Desa Sambiroto), 1.000 lembar karung glangsing (Desa Jampirogo), 3.000 lembar karung glangsing, 20 lembar gedek guling, beras 100 kg dan 3 dus lauk pauk (Desa Sooko), dan 1.500 lembar karung glangsing (Desa Ngingasrembyong).


Selain bersinergi, Bupati Ikfina mendorong agar peningkatan pembangunan di desa bisa dilaksanakan secara cepat demi terlaksananya desa tangguh. Mulai tangguh di bidang sosial, pendidikan anak dan tangguh secara global.

Bupati Ikfina mendorong kepala desa untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan, pada wilayah masing-masing sesuai potensi. “Kita rumuskan agar ke depan proses perencanaan pembangunan desa, sudah punya platform yang jelas. Sehingga bisa tahu kapan akan dilaksanakan di tahun 2021, tahun 2022 dan seterusnya. Kita ingin mewujudkan desa tangguh dalam segala hal,” Ungkapnya.

Baca Juga :  Bernah De Vallei, Berkonsep Ekowisata Cocok Dikunjungi Keluarga

Senada dengan itu, Wakil Bupati Muhammad Albarraa pada kesempatan ini menekankan agar semua dapat dikomunikasikan dengan baik dan ada solusi atas sebuah problem. Menurutnya, bencana banjir tidak hanya berdampak pada lingkungan saja, melainkan juga dapat berdampak pada roda perekonomian masyarakat.

Slamet Kades Tempuran, dalam pertemuan bersama ini menyampaikan beberapa faktor lapangan yang dinilai menjadi salah satu pemicu banjir. Slamet mengatakan bahwa sistem penyaringan sampah pada Dam Sipon, ukurannya terlalu kecil sehingga menyebabkan penyumbatan.

Maka dari itu, Slamet ingin agar hal tersebut dapat dijadikan periksa dan tindaklanjut penanganan. Mulai dari kesiapan alat penghancur sampah secara otomatis pada sistem penyaringan, sudetan saluran sungai untuk mengalihkan sebagian atau seluruh aliran air banjir, memaksimalkan pompa Dusun Bekucuk dan Desa Tempuran, pipanisasi air bersih, drainase pinggir jalan TPS 3R untuk pemilahan sampah.

M. Zaini Kepala Pelaksana BPBD menjelaskan, bahwa terdapat ada tiga fase dalam penanganan bencana. Yakni pra bencana, masa tanggap bencana dan pasca bencana. Zaini menyebut bahwa Kabupaten Mojokerto berada pada fase masa tanggap bencana, karena belum dilakukan simulasi uji bencana, namun banjir sudah datang.

Untuk itu, selain memaksimalkan jalannya Destana (Desa Tanggap Bencana), Zaini telah menyiapkan inovasi Keluarga Tahan Bencana, Tempat Ibadah Tanggap Bencana, dan fasilitas umum berkonsep tanggap bencana.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska 
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait