Upaya Melokalisir Dampak, Bisakah Konsisten? - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Upaya Melokalisir Dampak, Bisakah Konsisten?
Operasi pasar cabai bagi pelaku UMKM/ foto: Anis Firmansyah
HIGHLIGHT LIPUTAN KHUSUS

Upaya Melokalisir Dampak, Bisakah Konsisten?

Kenaikan harga cabai rawit dikeluhkan pelaku usaha mikro. Banyak usaha yang menggunakan bahan baku cabai terancam merugi. Padahal, kenaikan ini diprediksi terus terjadi dan memuncak pada April – Mei 2021.

MATAHARI mulai beringsut di atas kepala. Siti Zulaikah berdiri tengah antrean warga yang mengular di halaman kantor Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopusmik) Kabupaten Kediri, Jumat, 12 Maret 2021 menjelang siang. Siti berdiri di antara tanda titik putih, batasan jarak sebagai bagian dari protokol kesehatan Covid-19.

Hampir setengah jam antre, Siti melakukan pendaftaran dan pendataan ulang pada meja pertama. Lalu di meja kedua, pelaku UMKM sambal pecel ini menukarkan lima kuponnya. Satu kupon yang senilai Rp50 ribu mendapatkan satu kilogram cabai rawit. Siti memperoleh lima kilogram cabai rawit, batas maksimal penukaran kupon.

Pagi itu, Pemerintah Kabupaten Kediri menggelar operasi cabai yang ditujukan untuk pelaku Usaka Mikro Kecil Menengah yang bahan bakunya cabai. Jumlah kupon yang disediakan sebanyak 200 lembar. Total cabai 300 kilogram didatangkan dari sentra pertanian cabai di Kecamatan Puncu dan Kepung.

“Semoga bisa berdampak positif bagi pelaku UMKM. Mereka tidak harus bangkrut karena kenaikan harga cabai. Kita (Pemerintah) akan terus menjaga agar harganya tetap stabil,” kata Bupati Kediri Hanindito Himawan Pramono.

Tak pelak, operasi pasar ini menjadi berkah bagi pelaku UMKM yang berbasis cabai. Siti, pelaku UMKM pecel menyambut gembira operasi pasar cabai ini. “Alhamdulillah, sangat terbantu dengan operasi pasar ini. Karena, kenaikan harga cabai sangat mempengaruhi usaha saya,” kata Siti kepada satukanal.com.

Lonjakan harga cabai dipasaran, berdampak penurunan produksi sambal pecel Siti hampir 40 persen. Dulu produksi setiap bulan kurang lebih 48 kilogram sambal kacang. Sekarang, hanya kisaran 32 kilogram kacang sambal.

Siti berharap operasi pasar cabai rawit ini tak hanya sekali dilakukan. Seharusnya, operasi pasar ini rutin dilakukan, dengan areal yang tersebar, sehingga dapat membantu pelaku usaha.

Diperkirakan Memuncak April-Mei 2021

Harga cabai senilai Rp120 ribu/kg dianggap spektakuler. Setara dengan harga daging. Namun, angka itu belum puncaknya. Harga cabai diprediksi akan terus merangkak.

Bupati Hanindito Himawan memperkirakan harga cabai akan mengalami puncak fluktuasi pada bulan April hingga Mei, dengan harga mencapai Rp150 ribu/kg.

Menurut pria yang akrab dipanggil Mas Dito ini, kegiatan operasi pasar cabai murah sengaja dilakukan untuk membantu para pelaku UMKM. Dengan tingginya harga cabai saat ini, para pelaku UMKM masih bertahan dan mendapatkan keuntungan.

Selanjutnya, kegiatan operasi pasar ini akan dievaluasi dengan melihat antusiasme dari para peserta pelaku UMKM.

“Melihat dulu antusiasme dari para pelaku UMKM yang hadir. Ada yang minta setiap hari, satu bulan sekali, kita lihat dulu ke depannya seperti apa. Habis ini akan saya putuskan untuk dievaluasi,” pungkasnya.

Sebagai upaya melokalisir dampak kenaikan harga cabai rawit, Operasi pasar tak cukup dilakukan sekali. Perlu konsistensi dan kesungguhan pemerintah kabupaten dengan peningkatan intensitas operasi pasar dengan sasaran yang tepat, yakni pelaku usaha yang terkait dengan cabai rawit.

Tak Berpengaruh Banyak Terhadap Ekonomi Masyarakat

Sementara itu, menurut pakar ekonomi Universitas Brawijaya Malang, Wildan Safitri, kenaikan harga cabai tidak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian masyarakat di Kota Malang. Tolak ukurnya, inflasi Kota Malang hanya sebesar 1,42% pada bulan Februari 2021, ketika harga cabai hampir mencapai Rp100 ribu/kilogram.

“Tidak berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat karena persentasenya masih di bawah tiga persen,” kata Wildan.

Inflasi sebesar 1,42% di wilayah Malang Kota, menurut Wildan masih relatif kecil dan masih dalam batas toleransi.

Uniknya, di wilayah Malang Kota, komoditas cabai justru mengalami deflasi. Hal ini, dalam pandangan Wildan, karena tidak begitu banyaknya permintaan cabai di wilayah Kota Malang.

Dengan adanya pandemi Covid-19 yang berdampak pada tidak banyak mahasiswa menetap di Malang. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi daya beli pasar.

“Ketika jumlah mahasiswa yang banyak pulang serta adanya pembatasan sosial juga banyak restaurant yang juga tidak seramai dulu, itu membuat demandnya tidak terlalu tinggi,” terang Wildan.

 

 

Pewarta : Anis Firmansah dan Adinda
Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait