Uki Agustin Jefriani, Guru Tidak Tetap Jadi Tim Penguji Sertifikasi Pendidikan Profesi di UM - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Uki Agustin Jefriani, Guru Tidak Tetap Jadi Tim Penguji Sertifikasi Pendidikan Profesi di UM
Uki Agustin Guru SMPN 6 Batu (Foto : Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Figur

Uki Agustin Jefriani, Guru Tidak Tetap Jadi Tim Penguji Sertifikasi Pendidikan Profesi di UM

Satukanal.com, Batu – Berlokasi di SMPN 6 Batu, tampak perempuan bernama Uki Agustin Jefriani, yang merupakan seorang Guru Tidak Tetap (GTT) di SMP tersebut.

Meskipun dirinya merupakan seorang suru tidak tetap, namun bisa menjadi tim penguji Sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Malang (UM).

Suasana SMPN 6 Batu yang terletak di Desa Ginipurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu nampak sepi. Pembelajaran secara daring membuat siswa tak diharuskan berangkat ke sekolah. Hanya terlihat beberapa guru yang sedang sibuk melakukan berbagai aktivitas.

Meskipun dirinya bukan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun semangatnya untuk memajukan pendidikan tetap tinggi. Ceritanya, ia menjadi seorang pengajar bermula dari 13 tahun yang lalu. Saat itu, dia yang sudah menikah diarahkan oleh sang suami untuk berprofesi sebagai guru.

Pekerjaannya yang tidak terlalu banyak menyita waktu dan dianggap cocok untuk seorang perempuan membulatkan tekadnya. Meskipun latar belakang yang dimilikinya bukanlah seorang sarjana pendidikan.

“Saya adalah lulusan Akutansi, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya. Tapi setelah memperoleh akta mengajar atau akta IV di Universitas Budi Utomo Malang, saya langsung menjadi guru di SMPN 6 Batu,” ucap ibu satu anak ini.

Debutnya mengajarnya bersamaan dengan pertama kali dibukanya sekolah tersebut. Jadi Uki termasuk ke dalam satu diantara banyak orang yang babat alas disana. Tantangan dalam mengajar tentu ditemuinya. Apalagi dengan wilayah Ginipurno yang termasuk pinggiran otomatis berpengaruh pada SDM setempat.

Diawal mengajar ia mengatakan sangat banyak kenakalan siswa terjadi. Mulai dari murid yang malas hingga tidak mau meneruskan sekolah. “Daerah sini dulu merupakan angka tertinggi putus sekolah. Maka dari itu, pemerintah memutuskan membangun sekolah disini,” paparnya.

Pengalaman menarik selama mengajar juga ia dapatkan. Uki pernah didatangi orang tua siswa dengan luka lebam diwajahnya. Ternyata sosok ibu tersebut mendapatkan pukulan dari anaknya yang merupakan siswa SMPN 6 Batu lantaran tidak mau pergi sekolah.

Baca Juga :  PPKM Darurat, Angkutan Umum Melarat

Dengan penuh kasih sayang ia datang kerumah dan berusaha membujuk siswa laki-laki tersebut. Meski mendapatkan perlawanan dan tidak ujug-ujug diterima, niat baiknya membuahkan hasil. Siswa itu mau kembali lagi bersekolah hingga lulus. Tak berhenti disitu, ia juga mau untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Beberapa tahun kemudian, perempuan 35 tahun tersebut mengikuti sertifikasi PPG di UM. Pendidikannya itu dilewati tanpa biaya sedikitpun, lantaran beasiswa dari pemerintah pusat. Sampai saat dia lulus di tahun 2019. Karena sempat menjadi ketua kelas, ia mendapatkanrelasi dan komunikasi dengan dosen yang ada.

Tahun berikutnya setelah pandemi mulai mewabah ia mendapatkan kabar jika UM membutuhkan guru pamong atau tim penguji untuk PPG. Salah satu ketentuannya yakni menguasai teknologi. Hal tersebut diperlukan karena pembelajaran kebanyakan dilakukan lewat aplikasi penguhubung jarak jauh.

“Saya dihubungi pihak kampus. Ketentuannya tidak perlu PNS tapi masa bakti harus diatas 10 tahun,” ungkapnya.

Setelah mendaftar, lantas ia melakukan tes sesuai ketentuan. Mulai dari tes wawancara hingga tulis. Beberapa saat kemudian perempuan yang tinggal di Desa Ngagglik, Kecamatan Batu tersebut dinyatakan lulus.

Tetapi ia tidak serta-merta mendapatkan sertifikat. Pelatihan dari pusat harus dilakoninya selama dua minggu. Ia mengaku sempat kaget melihat lembaran ketentuan ketika akan melakukan pelatihan. Disalah satu poin berbunyi “Harus berstatus PNS”.

Dengan ragu, dia menanyakan hal tersebut kepada pihak UM. Disitu mereka menjawab jika tidak tahu-menahu terhadap regulasi dari pusat. “Mereka hanya bilang untuk tetap melanjutkan saja. Karena semua peraturan yang mengatur langsung dari pusat,” tuturnya.

Baca Juga :  Es Campur Mbah Said, Melegenda Sejak 1954 di Sejuknya Kota Batu

Pelatihan yang berisi tentang cara membimbing mahasiswa PPG akhirnya tuntas dilewati. Dia menjadi tim penguji dan pembimbing yang sebagian besar pesertannya berstatus PNS seluruh Indonesia.

Uki tetap bangga meskipun statusnya belum beranjak dari GTT lebih dari 10 tahun. Menurutnya pangkat bukanlah hal penting untuk tetap berjuang memajukan pendidikan. Kesenangan lebih malah didapatkannya ketika bisa berbagi ilmu satu sama lain.

Dari kepercayaan menjadi mentor itu, ia bisa melihat adanya kesenjangan pendidikan yang berada di Tanah Air. Perempuan berkulit putih tersebut berkata bahwa banyak teman guru diluar Jawa yang sangat tertinggal dibandingkan di kota-kota besar.

Mereka bahkan tidak bisa mempraktikan penggunaan metode pembelajaran. Layaknya teori yang diberikan. “Bagaimana mau maju? Fasilitas mereka jauh dari kita. Murid-murid disana masih banyak yang bersekolah tanpa menggunakan seragam dan sepatu,” katanya.

Ia berharap agar GTT yang ada lebih terperhatikan lagi. Adanya program Pegawai Pemerintah Perjanjian Kerja (P3K) diharapkan menjadi angin segar bagi guru dengan masa bakti diatas sepuluh tahun.

Apalagi masih banyak guru non PNS yang hanya bergaji Rp 300 hingga 400 ribu saja per-bulannya. “Kasihan mereka, mau ikut Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) juga sudah tak memenuhi syarat umur. Jadi semoga bisa diprioritaskan untuk P3K,” ujar kelahiran 12 Januari 1986 tersebut.

Uki juga memeberi pesan untuk GTT lain supaya tetap semangat dalam berkarya dan memberi inovasi baru. Ia percaya jika status bukan patokan untuk tetap bisa memajukan dunia pendidikan. Siapapun dan dimanapun dia, akan bisa selagi memiliki niat.

 

 

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait