Ujung, Kesenian Adu Rotan Yang Dulunya Jadi Ritual Meminta Hujan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Ujung, Kesenian Adu Rotan Yang Dulunya Jadi Ritual Meminta Hujan
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Ujung, Kesenian Adu Rotan Yang Dulunya Jadi Ritual Meminta Hujan

SATUKANAL.com, MOJOKERTO– Kesenian Ujung menjadi satu diantara banyak kesenian di Mojokerto yang masih tetap dilestarikan. Kesenian ini biasa digelar di Desa Salen, kecamatan bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Kesenian Ujung tumbuh sebagai kesenian rakyat yang merupakan visualisasi perjuangan Raden Wijaya Kerajaan Majapahit ketika mengalahkan bala tentara Tartar. Adegannya penuh dengan aksi saling cabuk satu sama lain selayaknya seorang petarung yang sedang beraksi.

Alunan musik tradisional menjadi penanda dimulainya pertandingan di kesenian ujung ini. Dua pemain secara bergiliran akan melakukan adu ketangkasan dengan cara saling memukul dengan kayu rotan. Mereka diwajibkan bertelanjang dada, tanpa mengenakan pakaian atau pelindung apapun.

Sementara itu, di atas panggung terdapat empat orang yang bertugas sebagai pengatur  jalannya pertandingan. Sebutannya  yaitu Kemelandang atau wasit dalam permainan ujung. Satu diantaranya bertindak sebagai Kemelandang utama, sedangkan dua lainnya bertugas mencari calon pemain. Kemudian, satu orang lagi berperan sebagai penggendong bokor berisi beras kuning untuk ditaburkan saat pertandingan.

Baca Juga :  Pelaksanaan PPKM Mikro Mojokerto, Dana Desa Bisa Dimanfaatkan 8 Persen

Tak lupa, kedua pemain juga dibekali dengan sebatang rotan. Rotan ini berfungsi untuk senjata sekaligus menyabetkannya kepada lawan sembari mengikuti irama gamelan. Kedua pemain itu selanjutnya saling dihadapkan untuk diadu.

Aba-aba diberikan oleh Kemelandang  sebagai tanda bahwa pemain mendapat giliran melayangkan pukulan ke arah lawan. Pemain lain juga mempunyai kesempatan untuk membentangkan rotan sebagai upaya menangkis serangan. Menurut Kemelandang sebagai wasit pertandingan, kedua pemain sama-sama mendapatkan tiga kali giliran untuk memukul dan menangkis.

Anehnya, para pemain sama sekali tidak menampakkan kesakitannya di wajah meski pukulan batang rotan berkali-kali melayang di tubuh mereka dan nampak membekas. Bahkan sepanjang pertandingan, para pemain terlihat tetap melemparkan senyum lebar sambil menari.

Di awal kemunculannya, Ujung sendiri merupakan sebuah ritual meminta hujan. Dulunya, masyarakat percaya jika ada pemain yang mengucurkan darah pada pertandingan itu maka hujan akan turun pla.

Baca Juga :  Gantikan Pungkasiadi Sementara, Didik Chusnul Yakin Resmi Jadi Pelaksana Harian Bupati Mojokerto

“Dulu banyak dipakai ritual memohon hujan dan sesuatu ke sang Hyang Widhi. Sekarang murni menjadi kesenian. Ada nilai keterampilan dan ketangkasan. Tak hanya ngedu wong (mengadu orang), tetapi harus ada keahlian dari para pemainnya,”ujar salah satu Kemelandang Ujung.

Namun seiring berkembangnya zaman, Ujung digelar sebagai sebuah kesenian yang umumnya dilakukan saat rangkaian ruwatan atau sedekah desa hingga hajatan. Kesenian Ujung ini juga seakan menjadi pererat kerukunan warga. Sebab, warga dari penjuru daerah ikut turun untuk menjadi pemain di pertandingan tersebut.

Untuk itu, saat ini dalam pertandingan Ujung tidak ditentukan siapa yang menang maupun kalah. Pertandingan dilakukan dengan menjunjung sportivitas. Di akhir pertandingan pun, mereka juga diwajibkan untuk saling bersalaman. Agar tidak terjadi dendam satu sama lain.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait