SATUKANAL.COM
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Twitter Mulai Batasi Konten yang Dimanipulasi

SATUKANAL – Twitter memang memiliki magic. Konten-konten yang viral di platform ini, bisa jadi tolok ukur isu-isu yang jadi perhatian. Namun, masih juga ditemui konten viral ini hasil manipulasi, bahkan hoaks.

Terbaru, Twitter berencana untuk membatasi penyebaran konten yang dimanipulasi. Termasuk video “deepfake” sebagai bagian dari langkah untuk melawan informasi yang salah yang dapat mengakibatkan kekerasan atau bahaya lain.

Kebijakan itu diumumkan setelah Twitter meminta pendapat pada penggunanya. Terkait, cara-cara untuk mengurangi “media yang dimanipulasi” pada platform online yang dapat menipu orang. Misalnya, konten-konten bermuatan kampanye pemilihan atau memicu kekerasan dan kerusakan fisik.

Twitter, yang bersama dengan platform media sosial lainnya telah berjuang untuk menanggapi kekhawatiran atas informasi yang salah. Kebijakan baru ini dengan menyertakan “label” peringatan untuk tweet yang mencakup gambar atau video yang dimanipulasi, dan penghapusan tweet.

Langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran yang berkembang atas video “deepfake” yang diubah menggunakan kecerdasan buatan, bersama dengan jenis manipulasi lainnya untuk menipu pengguna media sosial.

Twitter Vice President of Trust and Safety, Del Harvey mengatakan kebijakan baru ini tidak hanya membahas masalah besar, tetapi juga jenis manipulasi lainnya. Yakni konten-konten yang memuat “pemalsuan” atau “penipuan ringan”.

“Kami ingin mengatasi setiap insiden yang diakibatkan karena media (konten) yang telah diubah (dimanipulasi) atau dibuat-buat,” tegasnya.

Twitter bakal menjajal kebijakan baru ini pada 5 Maret mendatang. Pihaknya juga memperingatkan pengguna untuk memilah gambar atau video yang diunggah. Selain itu, pengguna juga bisa menambahkan keterangan dalam unggahan dengan tautan ke informasi lebih lanjut tentang subjek.

“Anda mungkin secara tidak sengaja berbagi berita palsu atau manipulasi yang mungkin merugikan,” kata Yoel Roth, Group Product Manager Ashita Achuthan.

“Selain itu, kami dapat memberi label tweet yang berisi berita palsu dan manipulasi untuk membantu orang memahami keaslian media dan untuk memberikan konteks tambahan,” lanjutnya.

Faktor-faktor yang akan dipertimbangkan oleh Twitter ketika memutuskan konten apa saja yang dimanipulasi secara curang atau dibuat-buat akan mencakup seberapa besar konten itu diedit; apakah audio telah di-dub atau dihapus, dan apakah gambar-gambar itu adalah simulasi.

Juga pada daftar konten yang dilarang adalah ancaman terhadap privasi atau kebebasan berekspresi dalam bentuk stalking\menguntit atau sikap yang tidak diinginkan dan obsesif; konten ditargetkan yang mencakup kiasan, julukan, atau materi yang bertujuan untuk membungkam seseorang; penindasan atau intimidasi.

Roth mengatakan, Twitter akan berusaha untuk proaktif dalam kebijakan tersebut. “Untuk mengurangi beban pengguna Twitter yang melapor kepada kami,” tuturnya.

Bersamaan dengan menunjukkan label peringatan pada gambar yang dipalsukan sebelum “disukai” atau dibagikan, Twitter akan mencegahnya agar tidak dimasukkan dalam konten yang direkomendasikan dan akan memberikan informasi tambahan yang dimaksudkan untuk melawan kesalahan persepsi.

Twitter mengatakan aturan baru itu didasarkan pada survei terhadap pengguna di AS serta umpan balik atau feedback dari orang-orang di seluruh dunia pengguna Twitter.

Secara global, lebih dari 70 persen pengguna Twitter yang menyuarakan pendapat mengatakan bahwa tidak melakukan tindakan apa pun terhadap tweet yang disalahgunakan akan berdampak buruk, menurut Achuthan dan Roth.

Pewarta: (Mg) Nuha Faza
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com/Afp

Kanal Terkait