Trauma Healing, Kurangi Depresi Anak-anak Korban Tanah Longsor di Nganjuk - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Trauma Healing, Kurangi Depresi Anak-anak Korban Tanah Longsor di Nganjuk
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Trauma Healing, Kurangi Depresi Anak-anak Korban Tanah Longsor di Nganjuk

SATUKANAL.com, NGANJUK – Bencana dahsyat, tanah longsor terjadi Minggu (14/2) di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, RT 01 RW 06 Kecamatan Ngetos, Nganjuk. Akibatnya belasan korban masih dalam pencarian, serta kondisi puluhan rumah warga rusak parah.

Terdata oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebanyak 182 warga, berada di pengungsian di SDN Ngetos, Nganjuk. Terdiri dari warga masyarakat berusia dewasa dan anak-anak.

“Yang saya utamakan anak-anak, karena mental mereka belum tertata. Apabila dibandingkan dengan usia dewasa,” tutur IPTU Nanik Yuliati, saat melakukan Terapi Healing kepada anak-anak di pengungsian, Satukanal.com, Senin (16/2/2021).

Dikatakan mereka (anak-anak) menyaksikan secara langsung kejadian dahsyatnya bencana tanah longsor. Bahkan, beberapa diantara mereka sempat tertimpa reruntuhan papan rumah dan tanah. Sehingga anak-anak mengalami goresan luka ringan dan berat.

Selang satu hari pasca terjadi bencana, terlihat tautan wajah anak-anak merasa ketakutan hebat. Tidak sedikit diantara mereka menangis dipelukan orang tuanya. Nanik dan tim Trauma Healing lain berusaha mengajak ngobrol dan bermain.

Hal tersebut dilakukan, agar anak-anak sedikit lupa kejadian bencana yang terjadi Minggu (14/2) malam. “Alhamdulillah ini sudah lumayan. Sebagian sudah mau diajak bermain dan komunikasi. Sebagian berada di dalam pengungsian, mungkin masih capek,” ucap Nanik.

Berada di luar area pengungsian, Nanik dan Tim Healing lainnya melakukan pendampingan kepada anak-anak sampai psikis kembali normal. Upaya lain pengembalian psikis anak-anak, seperti  pemberian makanan yang disukai yakni susu dan kue.

Dia mengungkapkan, jumlah anak-anak yang didampingi sebanyak 30 hingga 40 anak berada di dalam pengungsian. Pendekatan dari hati ke hati dilakukan agar dapat melupakan peristiwa bencana yang menimpa anak-anak.

“Contoh kecilnya, mereka (anak-anak) sudah bisa diajak bermain. Tidak seperti di awal, masih shock. Pagi diem aja, sekarang sudah lari-lari. Kami kasih yel-yel juga, agar timbul semangat,” lanjutnya.

Pada Tim Trauma Healing, selain  IPTU Nanik juga disebutkan dari instansi Bayangkari, Tagana, dan Elemen organisasi masyarakat lainnya. Hal tersebut untuk mengantisipasi hal terburuk dampak bencana tanah longsor kepada anak-anak.

“Dampak terburuk yang terjadi ialah trauma psikis ke anak. Kalau tidak didampingi, dikhawatirkan mengalami ketakutan. Takut kembali ke rumah dan terbayang becana seperti kemarin,” tutupnya.

 

 

 

 

 

Pewarta: Anis Firmansah
Editor: Redaksi Satukanal

    Kanal Terkait