SATUKANAL.COM
Transformasi Teknologi dan Pertumbuhan Industri Kreatif di Indonesia
Sumber: theaseanpost.com
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Transformasi Teknologi dan Pertumbuhan Industri Kreatif di Indonesia

SATUKANAL – Transformasi teknologi yang cepat telah mengubah ekonomi dunia, dan juga berpengaruh pada lanskap ekonomi negara-negara anggota ASEAN. Dalam perkembangannya, mengelola sumber daya dan kreativitas manusia bisa melampaui pendapatan dari eksploitasi kekayaan sumber daya alam (SDA).

Menurut United Nations Institute for Training and Research (UNITAR), ekonomi kreatif (ekraf) adalah sektor paling dinamis dari ekonomi global. Ekraf juga memiliki kekuatan transformatif untuk pembangunan sosial-ekonomi.

Didorong oleh kreativitas, sektor ini berpusat pada produk dan layanan yang mewujudkan konten kreatif, teknologi, nilai-nilai budaya, dan tujuan pasar. Produk-produk ini mengandalkan ide, pengetahuan, keterampilan, hingga sisi-sisi tradisi.

Banyak negara yang kini menggunakan kombinasi budaya dan perdagangan sebagai strategi promosi yang kuat. Sektor budaya yang menggabungkan kegiatan seni dan komersial bermunculan di kota-kota di seluruh dunia.

Menurut World Bank, pada 2015, 11 pendapatan sektor kreatif menyumbang US $ 2.250 miliar untuk produk domestik bruto global (PDB), tumbuh 15 persen setiap tahun.

Kekuatan ekonomi kreatif didasarkan pada sumber daya manusia yang berkualitas, mengadopsi pengalaman manusia, kecerdasan, dan kreativitas sebagai aset utamanya. Karya seni, arsitektur, buku, teknologi inovatif, dan seni visual semuanya berasal dari pengetahuan manusia.

Industri kreatif memainkan peran penting dalam perekonomian. Patrick Cooke, Editor Regional untuk Asia di Oxford Business Group melihat Indonesia berada pada posisi yang baik untuk ekonomi kreatif.

Dia menyampaikan bahwa negara ini memiliki keuntungan dari pasar internal besar yang didorong oleh konsumsi untuk mendukung pertumbuhan sektor kreatifnya.
Pemerintahan Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo mengakui pada 2015 potensi industri kreatif Indonesia untuk meningkatkan konsumsi domestik dan untuk meningkatkan pendapatan devisa.

Baca Juga :  TKW Kabupaten Kediri di Hongkong Beber Fakta Seputar Virus Corona

Pemerintah kemudian mengamanatkan pembentukan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan tugas memelihara pertumbuhan sektor kreatif, serta perlahan-lahan menghilangkan ketergantungan pada komoditas ekspor. Targetnya adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain ekonomi kreatif global pada tahun 2030.

Menurut Bekraf, industri kreatif Indonesia berkontribusi 7,4 persen terhadap PDB negara. Sektor kreatif Indonesia telah tumbuh positif setiap tahun. Pada 2017, ekonomi kreatif berkontribusi US $ 71,8 juta terhadap PDB, meningkat pada 2018 menjadi US $ 78,9 juta.

Pada 2019, jumlahnya diperkirakan meningkat 9,6 persen dari tahun sebelumnya menjadi US $ 86,9 juta. Sektor ini juga menyumbang 14,3 persen dari penyerapan tenaga kerja Indonesia.

Bekraf juga memainkan peran dalam mencocokkan perusahaan kreatif dengan investor, mirip dengan bantuan yang diberikan kepada perusahaan makanan start-up, Matchamu, yang mampu mendirikan pabrik di Yogyakarta, setelah mendapatkan investor.

Ekonomi kreatif di Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh karena berbagai faktor, termasuk pemerintah menawarkan peluang untuk pengembangan industri, populasi kelas menengah yang terus tumbuh dan pasar konsumen yang besar untuk produk-produk kreatif.

Bekraf telah meminta pemerintah untuk mengintensifkan upaya untuk meningkatkan ekspor produk kreatif. Badan ini telah menyelenggarakan festival dan pameran dagang untuk mempromosikan produk kreatif Indonesia dengan potensi untuk ekspor. Bekraf bahkan telah merevisi target ekspornya menjadi delapan persen lebih tinggi, dari US $ 20 miliar pada 2018 menjadi US $ 21,8 miliar pada 2019.

Baca Juga :  Dinsos Kabupaten Kediri Banjir Pengajuan Kartu Indonesia Pintar dari Kecamatan

Namun, masih ada kendala yang tercatat di lapangan. Salah satunya yakni faktor produktivitas dan distribusi. Sejumlah produsen masih kesulitan memenuhi permintaan ekspor yang besar, misalnya dengan alasan produsen tidak siap untuk mengirimkan produk ke 300 juta konsumen kelas menengah dari Cina.

Berdasarkan data oleh Bekraf dan Badan Pusat Statistik (BPS), industri kreatif Indonesia masih menghadapi tantangan berat ke depan karena kesulitan keuangan. Data menyatakan bahwa pada 2017, sekitar 92,4 persen pemain industri dibiayai sendiri atau swadaya dan tidak menerima dana dari luar baik melalui pinjaman bank atau bantuan perusahaan fintech.

Kini semakin banyak orang Indonesia yang menawarkan produk ekonomi kreatif, sekaligus menciptakan pasar yang mendorong industri kreatif. Mulai dari hiburan seperti film dan musik, hingga kerajinan tangan yang unik, aplikasi smartphone yang bermanfaat, makanan yang sedang tren, dan banyak lagi lainnya.

Industri kreatif memiliki potensi untuk menghasilkan pekerjaan yang berharga dan bermartabat di era otomasi industri yang pesat. Tetapi membuka potensi penuh dari ekonomi kreatif akan menjadi tantangan bagi Indonesia.

Pewarta: (Mg) Nuha Faza
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com

Kanal Terkait