Topeng Emas Puspo Sariro Saksi Kemunculan Tari Topeng Malangan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Topeng Emas Puspo Sariro Saksi Kemunculan Tari Topeng Malangan
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Topeng Emas Puspo Sariro Saksi Kemunculan Tari Topeng Malangan

Satukanal.com, Malang – Alunan musik tradisional gamelan dan gerakan lemah gemulai dengan wajah tertutup topeng serta aksesori yang beragam seolah-olah mampu membawa penikmat kembali ke suasana masa lampau. Tari tradisional yang kental akan nuansa spiritual ini juga menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang luhur serta nilai-nilai tentang keselarasan hidup dengan alam dan dunia gaib.

Malang Raya yang merupakan gabungan dari tiga wilayah, yakni Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, yang mana Kota Malang menjadi pusat dari Malang Raya. Selain Kota Malang yang identik dengan Kota Pendiidkan. Wilayah Malang Raya sendiri ternyata juga memiliki beragam kesenian dan budaya didalamnya.

Kesenian merupakan salah satu budaya yang lekat dengan masyarakat, termasuk masyarakat Malang. Masyarakat Malang memiliki banyak kesenian tradisional yang mencerminkan jati diri budayanya, salah satu yang paling terkenal ialah tari topeng Malangan.

Itulah yang pertama kali tersirat dalam satu di antara kesenian kebanggaan Kota Malang, Jawa Timur, salah satunya yakni tari topeng malangan. Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Malang ini.

Itulah sebabnya, kesenian ini tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jatim yaitu Kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar Kota Malang.

Tepatnya, kesenian ini telah muncul sejak zaman Mpu Sendok. Saat itu, topeng pertama terbuat dari emas, dikenal dengan istilah Puspo Sariro (bunga dari hati yang paling dalam) dan merupakan simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahandanya, Dewa Sima.

Seiring perkembangan jaman dan gejolak politik, tari topeng juga mengalami perubahan. Mulanya, tari topeng mengalami akulturasi dengan budaya hindu. Hal ini terlihat dari cerita yang ditampilkan berasal dari kisah klasik India.

Baca Juga :  Manghadapi Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik 2021, Pemkot Malang Gelar Workshop

Kemudian saat jaman kerajaan Kertanegara di Singosari cerita tari topeng diadaptasi dari kisah – kisah kepahlawanan ksatria Jawa. Saat Islam masuk ke Jawa, tari topeng bergeser peran sebagai media dakwah ulama untuk menyebarkan agama Islam.

Tari topeng Malangan adalah pertunjukkan kesenian tari di mana semua pemerannya menggunakan topeng. Secara umum, cerita yang diangkat sebagai konsep tarian adalah cerita Panji Asmoro Bangun.

Kisah Panji adalah kumpulan cerita yang berasal dari tanah Jawa periode klasik. Banyak versi terkait dengan cerita panji, hanya saja inti cerita selalu berputar dalam kisah asmara Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati dengan Putri Sekartaji atau Candra Kirana, Raden Gunungsari, Dewi Ragil Kuning dan lainnya.

Karena memiliki beragam versi cerita yang berbeda-beda, maka semuanya dikelompok dalam satu kategori yang dikenal dengan lingkup panji. Meskipun begitu, cerita dalam tari topeng juga dikembangkan dengan menceritakan kehidupan sosial dan cerita humor.

Karena pada umunya ada 4 karakter yang ditampilkan dalam tari topeng. Karakter tersebut antara lain protagonis, antagonis, tokoh lucu dan tokoh makhluk hidup lainnya.

Gending yang digunakan biasanya dimulai dari gending giro, lalu gending eleng – eleng, kemudian krangean, dilanjutkan loro – loro dan gending gondel, terakhir gending sapu jagad. Tarian dibuka dengan beskalan lanang (topeng bangtih), kemudian jejer Jawa, jejer sabrang, perang gagal (selingan tari bapang), gunungsari-patrajaya, perang brubuh dan terakhir bubaran.

Pada umumnya, tari topeng Malangan ini dibawakan dalam beberapa sesi. Sesi pertama adalah gendang giro. Ini merupakan iringan musik gamelan yang menandakan pertunjukan akan dimulai sekaligus mengundang para penonton untuk segera menyaksikan pertunjukan.

Baca Juga :  Kolak Goblok, Kudapan Istimewa Khas Poncokusumo Malang

Sesi kedua adalah salam pembuka yang biasa dilakukan untuk menyapa penonton sekaligus menyampaikan sinopsis cerita yang akan dibawakan dalam tarian. Sesi ketiga adalah sesajen, yaitu ritual yang dipercayai dapat memberikan keselamatan pada penonton dan pemain dan pertunjukan berlangsung dengan lancar.

Sedangkan pada sesi terakhir masuk dalam inti atau puncak acara, yaitu pertunjukan tari topeng malangan. Karakteristik budaya malangan yang kuat terletak pada jenis topeng yang digunakan. Topeng Malangan memiliki warna yang unik, sehingga mudah membedakan dirinya dengan topeng dari daerah lain.

Selain itu, ornamen atau ukiran topeng Malangan juga lebih detail. Salah satu perbedaan yang menonjol ada pada topeng untuk tokoh para ksatria. Karakteristik topeng malangan juga diperkuat dengan kombinasi lima warna dasar, yaitu merah, putih, hitam, kuning, dan hijau.

Pada masing-masing warna tersebut menyimbolkan keberanian, kesucian, kebijaksanaan, dan kebahagiaan. Secara umum terdapat sekitar 76 karakter tokoh yang digolongkan dalam empat kelompok besar. Kelompok pertama adalah tokoh panji yang dicirikan dengan pemuda tampan, baik hati sekaligus pemberani.

Kelompok kedua adalah tokoh antagonis yang dicirikan dengan sikap yang berbanding terbalik dengan tokoh panji. Ini disimbolkan dengan corak topeng dengan mata bulat besar dan bertaring. Kelompok ketiga adalah abdi yang disimbolkan dengan ornamen unik pada ukiran topeng dan kelompok keempat adalah tokoh binatang sebagai pelengkap cerita.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaki Satukanal

Kanal Terkait