SATUKANAL.COM
BERITA

Tingkatkan PAD Sampai Rp 400 Juta, Investor Ini Siap Sulap Wisata Wendit Jadi Wisata Andalan

Taman Wisata Air Wendit di Pakis, siap untuk berbenah dengan pengelolaan baru dan tentunya berorientasi pada pertumbuhan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Setelah sejak lama, terbilang jalan di tempat dan bisa dikatakan minim menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).

Kondisi tersebut yang akhirnya membuat Pemkab Malang mengambil langkah untuk melakukan perubahan manajemen pengelolaannya. Serta mengerucut pada konsep pengelolaan dengan model perjanjian kontrak manajemen. Dimana, salah satu investor asal Jawa Barat, yaitu PT Inti Composite Figlasindo Utama, siap menjadi pihak pengelola wisata serta menanamkan sahamnya sebesar Rp 15 miliar selama dua tahun pertama pembenahan.

Hal ini dibenarkan oleh perwakilan PT Inti Composite, Daru Pambudi yang menyampaikan, pihaknya serius menjalin kontrak dengan Pemkab Malang terkait pengelolaan taman wisata air Wendit.

Baca Juga :  Kerjasama WCC Dian Mutiara dan Kelurahan Gadingkasri dalam Penyuluhan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Bahkan, dirinya menyampaikan telah memiliki konsep perubahan untuk meningkatkan citra wisata wendit. “Konsep kita tentunya menjadikan Wendit sebagai wisata yang tetap terjangkau. Dengan perubahan di berbagai fasilitas yang sekarang dan tentunya jauh lebih baik. Tetap terjangkau tapi tidak murahan,” kata Daru.

Selain penambahan fasilitas tersebut, pihak investor ini juga bersiap untuk menerapkan konsep wisata yang juga bisa dinikmati pada waktu sore menjelang malam. Misalnya dengan adanya penambahan fasilitas air mancur yang disorot beberapa lampu sehingga terlihat kerlap-kerlipnya. Serupa air yang menari-nari.

Dengan berbagai kesiapan investor tersebut, pihak Pemkab Malang juga menghitung keuntungan destinasi wisatanya bila dikelola pihak ketiga. Dimana, dari beberapa hasil koordinasi dengan pihak ketiga dalam beberapa waktu lalu, dihasilkan hitungan kasar sumbangan PAD wisata wendit setiap tahunnya bisa mencapai Rp 400 juta.

Baca Juga :  Kerjasama WCC Dian Mutiara dan Kelurahan Gadingkasri dalam Penyuluhan Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Selain itu pajak porporasi tiket sebesar 20 persen pun bisa mendongkrak hitungan kasar keuntungan bagi daerah. Walaupun, di tahun pertama dan kedua, ketentuan tersebut tidak utuh dijalankan. Yakni, investor hanya dikenai pajak porporasinya sebesar 10 persen.

Dengan perjanjian selama 20 tahun pengelolaan, serta potensi PAD dengan nilai ratusan juta setiap tahunnya tersebut. Tentunya konsep kerjasama dalam pengelolaan destinasi wisata menjadi pilihan strategis. Dibandingkan misalnya masih dikelola oleh BUMD Kabupaten Malang yang sampai tahun 2018 lalu masih belum bisa memaksimalkan potensi wisata sebagai penopang PAD.

Kanal Terkait