Tidak Punya Hak SIM hingga Tak Boleh Bekerja, Inilah Larangan-Larangan bagi Kaum Wanita di Arab Saudi - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA

Tidak Punya Hak SIM hingga Tak Boleh Bekerja, Inilah Larangan-Larangan bagi Kaum Wanita di Arab Saudi

Setiap warga negara memang berhak beraktivitas seperti yang mereka inginkan. Namun, apa jadinya jika hendak melakukan sesuatu, malah dilarang negara. Itulah yang terjadi pada kaum perempuan di negara Arab Saudi.

Ya, Arab Saudi adalah negara Islam. Jadi, kebijakan dan peraturan pemerintah bersumber pada tuntunan agama Islam.

Dilansir dari akun youtube Daftar5, berikut 11 hal lumrah di negara lain yang berkaitan dengan perempuan, namun dilarang di Arab Saudi.

1 . Tidak Boleh ke Mana-Mana

Di kebanyakan negara, perempuan bebas berpergian ke mana-mana. Namun, hal itu tidak berlaku di Arab Saudi. Sebab,  negara ini tidak memperkenankan seorang perempuan berpergian tanpa ditemani mahram (keluarga) atau suaminya.

Hal ini juga berlaku bagi perempuan saat hendak berpergian keluar negeri, bekerja, kuliah, hingga operasi.

Jika seorang perempuan ada kepentingan penyidikan atau ada keperluan di kantor polisi, maka si mahram atau suaminya harus bisa mengidentifikasi hingga berbicara mewakili perempuan tersebut.

Wajar saja, di Arab Saudi setiap perempuan memang diwajibkan berjilbab. Sehingga tidak bisa menanggalkan hijabnya meskipun dalam proses penyidikan.

Meski sepintas tampak mengekang perempuan, kenyataannya wanita di negara itu merasa tidak keberatan. Bahkan, seolah menuntut agar kebijakan ini terus terealisasi.

2 . Tidak Punya Hak untuk SIM

Beberapa tahun lalu, pemerintah Arab Saudi  memang melarang perempuan untuk berkendara. Salah satunya dengan melarang para wanita memiliki surat izin mengemudi (SIM).

Hingga akhirnya, pada September 2017 lalu, pemerintah saat itu mulai melakukan perubahan peraturan. Yakni, seorang wanita diperkenankan untuk berkendara dengan syarat harus mendapatkan izin dari wali mereka (orang tua atau suami). Perombakan ini mulai diberlakukan sejak Juni 2018 lalu.

3 . Tidak Boleh Naik Transportasi Umum

Selain seorang wanita harus didampingi mahram atau mendapatkan izin dari wali yang bersangkutan saat bepergian, kaum hawa di sana juga dilarang menggunakan transportasi umum.

Jika dalam keadaan mendesak, para perempuan biasanya akan menggunakan jasa layanan kereta. Namun, bukan di gerbong sembarangan. Biasanya, di ujung kereta, terdapat gerbong khusus bagi para wanita.

Tidak hanya itu. Keterbatasan bagi perempuan saat menggunakan transportasi umum juga terjadi pada mode transportasi lain yang ada di Arab Saudi. Misalnya saat hendak mengendarai bus. Kebanyakan perusahaan bus di Arab Saudi menolak para penumpang perempuan. Inilah yang membuat mereka biasanya memilih untuk berjalan kaki saat hendak berpergian.

4 . Berpakaian Syar’i

Kebijakan ini mungkin terdengar wajar. Maklum saja, sebagai negara yang menjunjung tinggi norma agama Islam, Arab Saudi memang mewajibkan semua perempuan untuk mengenakan pakaian syar’i.

Pakaian tersebut biasanya berupa busana terusan berwarna hitam. Selain itu, ada ketentuan jika pakaian yang digunakan harus tebal serta longgar dan harus menutup aurat.

Dengan pakaian semacam ini, perempuan hanya bisa menunjukkan wajah, telapak tangan, dan kaki. Itu pun biasanya juga harus tertutup, seperti menggunakan kaus kaki dan sarung tangan.

Baca Juga :  Wisata di Malang Boleh di Buka Anak Kecil Dilarang Masuk, Sutiaji: Saya Belum Bisa Beri Saran

Di beberapa daerah  di Arab Saudi, juga ada yang mewajibkan perempuan untuk mengenakan niqab (penutup wajah). Dengan ketentuan seperti itu, hanya bagian mata saja yang tidak tertutupi.

Belakangan diketahui, putra mahkota Muhammad Bin Salman berpandangan jika perempuan berhak menolak aturan yang sudah ditetapkan tersebut. Namun, sepertinya opsi itu tidak terlalu dipilih oleh perempuan di Arab Saudi. Mereka biasanya masih mempertimbangkan opini publik jika tidak mengenakan pakaian syar’i. Sebab, jika ada wanita yang diperkosa dalam keadaan tidak mengenakan pakaian syar’i, mereka akan ditetapkan bersalah.

5 . Tidak Terlalu Perlu Pendidikan Tinggi

Jika melihat persentase jumlah sarjana, Arab Saudi memang didominasi  kaum hawa. Namun, jika ditelisik lebih jauh, hal itu bukan berarti pendidikan yang didapat perempuan selalu mendapatkan kualitas yang lebih baik daripada yang didapatkan seorang pria.

Misalnya saat hendak melanjutkan studi ke luar negeri. Selain harus mendapatkan izin dari wali, para wanita yang hendak melanjutkan studi ke beda negara hampir dipastikan tidak akan mendapatkan beasiswa. Bahkan, meski sudah mengenyam pendidikan, kebanyakan perempuan di Arab Saudi memilih untuk tidak bekerja.

6 . Tidak Boleh Bekerja

Di banyak negara lain, perempuan memilih untuk meniti karir. Namun, fenomena tersebut hampir dipastikan tidak terjadi di Arab Saudi.

Diperkirakan, hingga saat ini hanya ada sekitar 17 persen perempuan  Arab Saudi  yang bekerja. Sedangkan sisanya memilih untuk tinggal di rumah dan menghabiskan waktu untuk merawat anak.

Meskipun secara ketentuan hukum agama Islam memang tidak melarang perempuan bekerja, para kaum hawa di sana harus mendapatkan izin dari sang wali kalau ingin meniti karir.

Meskipun boleh bekerja, secara tidak langsung, ada kebijakan jika hanya ada tiga pekerjaan yang diperkenankan untuk perempuan. Yakni menjadi dokter, perawat, atau pendidik.

Sedangkan bagi perempuan yang ingin berkiprah menjadi pengacara dan terjun di politik, dipastikan karirnya tidak akan secermelang pria. Sebab, wanita hanya mendapatkan gaji yang sedikit dan tidak berhak memperoleh bonus seperti asuransi kesehatan.

Perusahaan yang menyediakan pekerjaan bagi perempuan jumlahnya juga sangat sedikit. Sebab, banyak ketentuan dan anggaran yang harus dipenuhi. Misalnya, ada toilet khusus, pintu masuk yang dipisah dengan pria, serta akomodasi untuk rekreasi.

7 . Menikah Tidak Butuh Cinta

Umumnya, dua sejoli yang saling mencintai akan memutuskan lebih serius dan memilih melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Namun di Arab Saudi, cinta bukanlah syarat utama bagi pria dan wanita untuk menikah.

Hal inilah yang membuat fenomena nikah muda marak terjadi di Arab Saudi. Lantaran tidak ada batasan umum minimal,  banyak perempuan Arab Saudi yang menikah meski belum memasuki masa pubertas.

Kondisi semacam itu,l biasanya membuat kaum hawa berhenti sekolah. Pernikahan dini juga berdampak pada kesehatan perempuan. Ironisnya, saat memasuki masa hamil dan kelahiran, tidak sedikit yang berujung kematian.

Baca Juga :  Apresiasi Anak Muda sebagai Penerus Bangsa, Sutiaji: Indonesia Berada Dipundak Kalian Semua

8 . Tidak Boleh Terima Tamu

Di Arab Saudi, seorang perempuan memang dilarang  menerima tamu. Bahkan jika ada teman perempuan yang berkunjung, hanya diperbolehkan berbincang-bincang di ruangan khusus yang disediakan di rumah mereka.

Tidak seperti peraturan sebelumnya, saat berkunjung kevrumah temannya, seorang perempuan memang tidak terlalu diwajibkan untuk mengenakan pakaian syar’i. Namun, saat hendak bertamu, biasanya perempuan akan melewati pintu khusus. Perlu diketahui, rumah di Arab Saudi kebanyakan terdapat dua pintu utama. Yaitu untuk perempuan dan laki-laki.

9 . Laki-laki Hampir Selalu Benar

Di Indonesia, banyak remaja yang berpendapat jika Mr Right (pria) akan selalu salah di hadapan Mrs Always Right (wanita). Maka, di Arab Saudi  hal itu tidak berlaku. Sebab, seorang pria di sana hampir selalu benar di hadapan wanita.

Maklum saja, di Arab Saudi pemisahan gender memang sangat mutlak terjadi. Selain tidak diperkenankan menerima tamu, seorang perempuan juga tidak diizinkan untuk berkomunikasi dengan pria yang bukan mahramnya.

Hal itu juga berlaku di tempat wisata, rumah makan, dan transportasi. Biasanya, bagi pria dan wanita, selalu dibedakan tempatnya. Karena dasar inilah, perusahaan Barat yang membuka bisnisnya di Arab Saudi mau tidak mau harus menuruti peraturan tersebut jika tidak ingin kehilangan segmen pasar. Meski sempat mendapatkan kecaman, nyatanya pemerintah di sana sepertinya memilih untuk tidak menggubris kritikan atas kebijakan tersebut.

10 . Tidak Sama dan Setara dengan Pria

Di Arab Saudi, kesaksian seorang perempuan tidak terlalu berguna. Bahkan jika ingin menggugat suaminya, sedikitnya diperlukan enam saksi pria.

Wajar saja, kebijakan yang diterapkan lebih mengarah pada adat dan tradisi Islami, bukan ketentuan hukum seperti yang diterapkan oleh kebanyakan negara yang ada di belahan dunia lainnya.

Selain gugat cerai, jika ada seorang anak yang diketahui bahwa ayah kandungnya bukanlah warga Arab Saudi, maka anak tersebut juga tidak bisa menjadi warga negara Arab Saudi.

Bila mengacu kepada Alquran, jatah warisan memang lebih banyak diberikan kepada kaum Adam. Sedangkan perempuan mendapatkan jumlah yang sedikit. Bahkan, di beberapa kasus, tidak jarang wanita akan dihapus dari daftar ahli waris.

11 . Tidak Boleh Ikut Olahraga

Kaum wanita di Arab Saudi yang memiliki passion di bidang olahraga sepertinya hanya bisa gigit jari. Mereka dilarang menekuni aktivitas olahraga.

Hal ini bukan tanpa alasan. Pemerintah dan masyarakat di sana memang tidak terlalu suka terhadap kaum hawa yang mengeluti karir di bidang olahraga.

Tidak hanya itu. Siapa saja wanita yang ingin berkiprah di dunia olahraga juga tidak akan mendapatkan pelatihan dan pendidikan khusus. Bahkan, di Arab Saudi, tidak semua alat olahraga bisa digunakan perempuan. (*)

Kanal Terkait