Tetap Produksi Meski Jarang Pembeli - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Tetap Produksi Meski Jarang Pembeli
BERITA HIGHLIGHT

Tetap Produksi Meski Jarang Pembeli

Satukanal.com, Malang – Banyak pengusaha Unit Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kalang kabut dengan kondisi akhir-akhir ini. Pandemi yang tak kunjung surut membuat wisatawan luar kota yang hadir tak kunjung pasang. Seperti yang dialami salah satu UMKM kripik di Kecamatan Dau, Kabupatan Malang ini.

“Sangat menurun dibandingkan sebelum pandemi. Sekarang pembeli belinya hanya dikit-dikit saja,” ujar pemilik usaha kripik apel, Hendika Wichaksana hari ini (27/4). Menurutnya fenomena tersebut lantaran toko oleh-oleh yang menjadi langganannya tak mau menimbun barang terlalu banyak. Kondisi sepinya pelancong menjadi alasannya.

Omzet yang didapatkannya pun jatuh dari kata normal kini. “Dulu dalam sehari bisa mendapatkan laba Rp 3,5 juta. Tapi sekarang turun lebih dari 60 persen dari itu,” imbuhnya. Hendika sapaan akrabnya yang biasa mengirim 1 ton kripik apel per tiga bulan, sekarang frekuensinya harus jauh menurun. Dalam seminggunya dia hanya bisa menjual satu kwintal saja.

Baca Juga :  ASN Dilarang Mudik, "Kalau Nekat Sudah Ada Sanksi"

“Bagaimana lagi, produksi harus tetap jalan karena ada karyawan juga,” katanya. Setiap harinya ada 50 kilogram kripik apel yang diproduksi. Dengan jumlah permintaan yang rendah, terpaksa dia harus menimbun beberapa kilogram olahannya.

“Waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pernah nimbun sampai 1,5 ton. Untungnya kripik ini kan kalau sudah dikemasan bisa tahan hingga satu tahun,” jelasnya.

Harga olahan apel ini mencapai kisaran Rp 75 sampai 100 ribu setiap satu kilonya tergantung dari kualitas yang telah disortir. Bahan baku apel yang digunakan adalah apel jenis manalagi. Jenis tersebut digunakan karena teksturnya yang keras. Membuat kripik terasa renyah saat sudah digoreng.

Baca Juga :  Fatwa MUI Jatim Sebut Rapid Tes, GeNose dan Swab Tes Diperbolehkan Saat Puasa

Musim hujan yang datang juga membuat apel sebagai bahan baku utama lebih murah. Banyak petani yang lebih memilih untuk menjual hasil buminya untuk diolah kembali dari pada dijual secara langsung. Alasannya adalah olahan akan lebih awet dari pada hanya berupa buah saja.

Apel yang digunakan pun juga bukan kualitas nomor satu. “Kalau tidak segera laku atau diolahkan maka akan segera busuk. Dengan diolah sebagai kripik bisa lebih tahan lama,” terang pria berambut gondrong ini.

Ia berharap kedepannya olahan khas ini bisa menjadi komuditas ekspor yang tentunya bisa berimbas pada kesejahtraan masyarakat sekitar.

 

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait