SATUKANAL.COM
Tertimpa PHK Masal, Warga Kediri Sukses Berwirausaha Jual Jamu
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Tertimpa PHK Masal, Warga Kediri Sukses Berwirausaha Jual Jamu

Satukanal.com, Kediri – Kondisi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi masa keterpurukan bagi seorang pekerja perusahaan swasta. Namun pria berusia 43 tahun asal Kabupaten Kediri ini, mampu bangkit dari keterpurukan tersebut dengan berwirausaha.

Nyamat Rachman, asal desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, telah bekerja selama 20 tahun disalah satu perusahan besar swasta di Surabaya. Hal tersebut dilakoninya, hingga masa PHK masal tiba pada tahun 2017.

Siapa tak menyangka, bermula dari kasus PHK tersebut menjadi awal pintu kesuksesan dalam berwirausaha. “Setelah itu saya pulang ke Kediri, karena rumah saya berdekatan rumah Pak Gatot selaku Pengusaha Tahu Kediri. Dari situ saya sering diajak mengikuti pelatihan dan seminar, akhirnya saya termotivasi,” kata Nyamat Rachman, selaku pemilik usaha jamu, kepada Satukanal.com, Sabtu (7/11/2020).

Baca Juga :  Terkait Perlindungan dan Pemenuhan Hak Disabilitas, Akan Masuk dalam Raperda Kabupaten Kediri 2021

Berangkat dari motivasi tersebut, ia berani mencoba membuat produk resep jamu pertamanya yakni kunir asem. Selanjutnya dengan dibantu sang istri, ia menitipkan produk tersebut di Toko Pusat oleh-oleh khas Kabupaten Kediri.

Selain kunir asem, ia mengembangkan varian produk lain seperti Sinom Jawa, Teh Rempah, Markisa, Jeruk Nipis Perasan (Jeniper), dan Minuman Sari Labu Madu dengan merek dagang Mashacky. “Untuk awal-awal kita penuh komplain, karena yang menurut kita bagus belum tentu bagus dipenglihatan orang lain. Hingga mengalami tujuh kali revisi. ,” terangnya.

Ia juga mengungkapkan, dalam penjualan jamu tersebut ia mampu melakukan penjualan sebanyak 30 hingga 50 botol per hari. Apabila ditotal, dalam satu bulan mampu mencapai 1000 botol.

Baca Juga :  Dampak Pengurangan Dana BOS, Sekolah Madrasah Kabupaten Kediri Potong Gaji Guru Hingga 40 Persen

Dalam satu botol kemasan sebanyak 500 Mili liter, dengan harga jual Rp6500 rupiah. “Kurang lebih 1000 botol, tergantung kalau pas ada event-event. Seperti pameran itu terus bertambah, bahkan sehari saya pernah 200 botol,” ucapnya.

Sebelum masa pandemi Covid-19, ia mengaku dapat melakukan penjualan hingga ke luar kota. Seperti daerah Gresik, Surabaya, dan Lumajang.

Namun saat ini hanya membatasi penjualannya hanya di wilayah Kediri Karisidenan. Dengan total lokasi pelanggan sebanyak 23 tempat, meliputi pusat oleh-oleh Kediri, gerai pakaian, gerai warung, dan juga gerai pencucian mobil.

“Produk minuman ini bisa diterima oleh masyarakat, keunggulannya ialah tanpa endapan dan bahan pengawet,” tutupnya.

Pewarta : Anis Firmansah
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait