Terompet Sebabkan Difteri, Pedagang Keluhkan Penjualan Merosot | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Pedagang terompet legendaris di Kediri, Sunoto. (Foto: Isna)
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Terompet Sebabkan Difteri, Pedagang Keluhkan Penjualan Merosot

SATUKANAL, KEDIRI – Selama ini, perayaan malam pergantian tahun selalu identik dengan terompet dan kembang api. Namun setidaknya dua tahun terakhir, pedagang terompet mengeluhkan penjualan terompet yang terus menurun.

Bahkan, Sunoto, penjual terompet legendaris di depan Golden Swalayan Kota Kediri mengaku dagangannya hanya laku 100 buah sejak 25 Desember lalu.

Pria yang sudah menjadi pedagang terompet sejak tahun 1984 ini tak tahu menahu alasan terompet tak lagi diminati. Namun, pria renta ini menduga bahwa salah satu alasan sepinya penjualan terompet akibat beredarnya isu meniup terompet bisa menyebabkan penyakit difteri.

“Iya, sempat beredar kabar meniup terompet bisa kena difteri. Mungkin itu salah satu alasan terompet jadi sepi,” ujar Sunoto, jelang pergantian tahun.

Satukanal.com melakukan konfirmasi terkait isu ini. Hasilnya, dr. Yasinta Putri Astria membenarkan jika terompet berpotensi terhadap penularan penyakit difteri.

“Benar. Penularan kuman difteri bisa melalui udara, liur, dan kontak langsung dengan penderita,” sebutnya saat dikonfirmasi lewat telepon.

Penularan akan lebih tinggi risikonya jika satu terompet digunakan oleh banyak orang. “Terutama jika orang tersebut pembawa bakteri atau pengidap difteri,” imbuhnya.

Alhasil, penghasilan Sunoto dari berjualan terompet terjun bebas. Empat tahun silam, omzet yang diterima Sunoto jelang tahun baru mencapai Rp 20 juta.

Tahun 2018, omzetnya kurang lebih Rp 5 juta. Namun, tinggal hitungan jam sebelum tahun berganti 2020, dagangannya hanya laku sekira 100 buah.

“Tahun lalu masih sampai 1000 biji, tahun ini sangat sepi,” ujar pria yang mulai berjualan terompet di Semarang itu.

Jika tak habis, pria 61 tahun ini akan membawa pulang kembali dagangannya. “Untuk tahun depan. Yang saya jual ini juga ada yang sisa tahun kemarin,” sebut Sunoto.

Hal yang sama dikeluhkan Sumiyati, pedagang terompet di depan Polres Kota Kediri. Tiap tahun, wanita paro baya ini membawa dagangan dari Wonogiri, Jawa Tengah.

Ia berjualan sejak 2012. Namun, tahun ini ia mengaku penjualannya paling sepi dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dulu, pesta kembang api malam tahun baru di sekitar sini, jadi terompet laris. Kalau sekarang terpusat di Gumul, jadi di sini sepi,” ujarnya.

Sementara, ia tak mampu membawa dagangannya ke Simpang Lima Gumul. Sehingga ia tetap berjualan di depan Polres Kota Kediri.

Berbeda dengan Sunoto yang berjualan sejak seminggu lalu, Sumiyati baru menggelar dagangannya Selasa (31/12/2019). “Laku sih dikit-dikit, kira-kira 10 biji, nggak kaya dulu,” keluhnya.

Ia menyebut, gawai menjadi salah satu faktor turunnya penjualan terompet. “Ada yang lebih menarik (daripada terompet, red.),” katanya.

Padahal, harga terompet tak mahal. Termurah, terompet dari bahan baku kertas hanya sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu. Sementara, terompet bentuk naga berkisar Rp 20 ribu dan terompet plastik sekira Rp 25 ribu.

Pewarta: Isnatul Chasanah

Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait