SATUKANAL.COM
Pandemi
BERITA COVID-19 EKONOMI HIGHLIGHT LIPUTAN KHUSUS

Terdampak Pandemi, Pedagang Sate Jamur Go-Digital Omset Puluhan Juta

SATUKANAL, KEDIRI – Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19) memberi dampak yang sangat buruk terhadap perekonomian. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya. Tidak banyak orang yang mampu bertahan hidup dan mencukupi kebutuhan mereka akibat pandemi ini. Bahkan, banyak perusahaan besar yang turut gulung tikar akibat tidak dapat menyesuaikan dengan situasi ini.

Namun, bagi orang tertentu situasi ini justru bisa dimanfaatkan untuk meledakkan omset bisnis. Tentu saja, mereka adalah orang-orang yang mampu beradaptasi dengan kondisi ini. Pada situasi seperti ini, mereka dituntut merubah cara dagang dan pola interaksi dengan pembelinya.

Hal inilah yang dialami juga oleh para pedagang di sekitaran Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri. Mereka adalah pedagang yang setiap hari minggu menjagakan penghasilan jualan saat Car Free Day (CFD). Ketika situasi pandemi, gelaran CFD di Simpang Lima Gumul ditutup oleh pemerintah setempat. Sehingga mereka tidak lagi dapat membuka lapak fisik di sana.

Ali Saipuddin (45) misalnya, seorang penjual sate jamur yang menggantungkan pengasilannya melalui lapak saat CFD. Dengan adanya penutupan gelaran CFD, penghasilannya mandek total, sementara kebutuhan harian terus berjalan. Sebagai kepala rumah tangga, dirinya harus mencukupi kebutuhan keluarga dan kedua anaknya yang berada di pondok pesantren.

Bagi Ali Saipuddin atau biasa disapa Kang Ali, kesulitan ekonomi saat kondisi pandemi menuntutnya untuk memutar kepala. Kang Ali mulai berpikir melampaui batas untuk bangkit dari keterpurukan itu. Ia pun menyadari bahwa jualannya tersebut tidak lagi diandalkan hanya di lapak fisik.

Dengan segala ke-gaptekannya, Kang Ali mulai belajar kepada salah satu temannya. Kebetulan, ia memiliki seorang teman yang mahir dalam dunia digital marketing. Dari situ Kang Ali mulai belajar bagaimana memasarkan produknya lewat dunia digital dan media.

Pilihan Kang Ali merupakan lompatan yang luar biasa bagi orang seumurnya. Ia harus belajar banyak hal tentang dunia digital, pasar online, dan promosi melalui media sosial. Dengan tekad yang kuat, akhirnya Kang Ali mulai memasarkan produknya lewat online.

“Meskipun bukan milenial ya, sebagai orang yang hidup di zaman milenial gini ya harus tetap paham to dengan yang namanya digital. Apalagi kondisinya seperti ini menuntut orang-orang seperti saya ini untuk beralih ke dunia digital. Mau bertahan bagaimanapun, suatu saat nanti bakal berubah juga,” ungkap Kang Ali.

Baca Juga :  Puluhan Pemuda Kediri Geruduk Kantor Bawaslu

Namun, dengan produk sate jamur yang ia jual, tentu saja merupakan jenis makanan yang tidak dapat bertahan lama. Dengan menggunakan jasa pengiriman makanan, bersyukur produknya mulai laku lagi meski masih lingkup Kediri saja. “Tapi produk saya kan sate, makanya perlu cari cara biar jualan saya bisa online,” lanjutnya.

Dengan promosi yang dilakukan di online, hasil penjualannya mulai merangkak naik, meskipun penghasilan tersebut belum seberapa jika dibandingkan saat ia berjualan di CFD. Hal itu tidak sedikitpun menyurutkan semangatnya untuk terus mempromosikan produknya sembari terus berinovasi.

Dengan kemahirannya dalam mengolah bumbu yang khas, akhirnya Kang Ali menciptakan produk baru. Bumbu yang biasanya dicampur dengan sate kini ia jual terpisah dengan packing khusus. Harapannya, bumbu sate ini bisa dikirim kemanapun secara simpel dan tidak ribet.

Bumbu sate dalam kemasan ini kemudian ia kembangkan menjadi tiga varian. Pertama, bumbu sate kemasan siap saji yang berupa bumbu cair. Kedua, bubu sate kering yang bisa bertahan hingga satu bulan. Ketiga, bumbu sate kering pedas yang telah disediakan sambal khusus.

“Bumbu yang basah ini tidak bisa dikirim ke tempat yang jauh mas. Kalau yang kering ini bisa dikirim sampai ke luar negeri juga bisa,” bebernya sambil menunjukkan produk bumbu sate jualannya.

Dengan berbekal gawai jadul dan laptop mini pinjaman temannya, Kang Ali semakin gencar mempromosikannya secara online, baik melalui marketplace maupun lewat media sosial yang ia miliki.

Tidak disangka, produk inovatifnya kini mulai dikenal masyarakat lewat online. Produk inovatif bikinannya itu langsung digemari oleh masyarakat dan omset penjualan mulai melonjak.

Puncak penjualan produknya ini terjadi saat menjelang Hari Raya Idhul Adha lalu. Di saat orang-orang di rumah aja, hari raya adalah waktu yang tepat untuk bersama keluarga. Mereka tidak repot untuk kemana-mana, namun bisa menikmati resep sate dengan bumbu yang dibuat oleh ahlinya.

Baca Juga :  KPU Kabupaten Kediri Fasilitasi 4.138 Pemilih Disabilitas

“Ya kalau omset, alhamdulillah lumayan. Patut saya syukuri, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan lebih,” ungkap Kang Ali yang sedang melayani pembeli melalui marketplace miliknya, Jum’at (18/9).

Taksiran terakhir, omset penjualan rata-rata setiap bulannya mencapai 10 juta rupiah. Penjualannya pun tidak terbatas hanya di Kediri saja malainkan sampai ke luar Jawa. Paling jauh, pernah ia melayani pembelian dari Kalimantan.

Produk bumbu sate, kemasan 250 gram dijual dengan harga 30 ribuan per pack. Sementara itu, jika pembelian lebih dari 10 pack akan mendapat harga khusus. Program semacam diskon inilah yang sampai saat ini digemari oleh pelanggan sate jamurnya Kang Ali.

Selain itu, konsep penjualannya juga membuka peluang untuk para reseller atau orang-orang yang berkenan untuk menjual ulang produknya. Dengan konsep reseller ini produknya semakin marak di pasaran online. Kini produknya telah memiliki 10 reseller yang berasal dari berbagai kota.

Dengan tampilan sederhananya, Kang Ali bisa dibilang sebagai ahli dalam membuat sate dengan resep citra rasa bumbu yang khas. Ini wajar, karena ia telah menjalani bisnis sate lebih dari dua puluh tahun lalu. Setelah ia belajar meracik bumbu ini kepada tukang sate dimana-mana, lalu pada tahun 2000-an ia membuka usahanya sendiri dengan berjualan sate.

Kini, berkat usahanya Kang Ali mulai kewalahan melayani konsumen yang mulai membludak di berbagai daerah. Kang Ali melibatkan tiga temannya yang juga kehilangan pekerjaan akibat dampak pandemi Covid-19. Satu dari mereka membantu meracik bumbu sampai packing, satu lagi mengurus promosi di media dan marketplace, dan satu lagi mengurus foto produk dan pengiriman.

“Kita kan memang harus berbagai. Katanya, orang yang paling baik yaitu yang bermanfaat untuk yang lainnya. Saya bisanya berbagi dalam kerjaan, ya opo jare Gusti (apa kehendak Tuhan, red.)” pungkasnya.

 

Pewarta : Isnan
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait