Tenggelamnya KM Lintas Timur, Keluarga ABK Perjuangkan Hak Pekerja - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Tenggelamnya KM Lintas Timur, Keluarga ABK Perjuangkan Hak Pekerja
BERITA

Tenggelamnya KM Lintas Timur, Keluarga ABK Perjuangkan Hak Pekerja

Satukanal.com, Surabaya – Tenggelamnya Kapal Motor (KM) Lintas Timur milik PT Citrabaru Adinusantara di Perairan Bangai Laut, Sulawesi Tengah, yang terjadi pada tahun 2019 lalu. Masih menyelimuti duka mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan.

Menurut kesaksian korban KM Lintas Timur yang selamat. Tragedi tersebut terjadi karena kondisi mesin kapal yang tiba-tiba mati, disertai cuaca buruk, mengakibatkan gelombang cukup tinggi. Sehingga, posisi kapal tidak bisa dikendalikan bahkan ikut terhempas gelombang besar.

KM Lintas Timur yang diketahui mengangkut semen, dari hasil liputan di lapangan menjelaskan bahwa, Kapal tersebut ditumpangi oleh 18 Anak Buah Kapal (ABK). Namun, dalam data jumlah awak kapal milik PT Citrabaru Adinusantara, mengklaim hanya terdapat 16 ABK yang menjadi korban tenggelam.

Setelah kapal mengalami kecelakaan dan tenggelam, pihak Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan Kantor Pencarian Dan Pertolongan Palu melakukan pencarian ABK yang belum ditemukan. Namun, pada September 2019 pihaknya masih belum dapat menemukan korban.

Pada 11 September 2019, Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan Kantor Pencarian Dan Pertolongan Palu menerbitkan Surat Keterangan yang menjelaskan bahwa, korban dinyatakan belum ditemukan pada tragedi tenggelamnya KM Lintas Timur.

Berdasarkan temuan pada Maret 2021 ini, terdapat 5 keluarga korban yang masih menuntut hak-hak dari pekerja yang belum dipenuhi oleh PT Citrabaru Adinusantara selaku pemilik dari KM Lintas Timur.

Baca Juga :  52 KA Lokal di Daop 8 Surabaya Kembali Beroperasi

Salah satunya korban atas nama Yoga Rezka Maulana, pihak keluarga yang masih keberatan akan keputusan dari PT Citrabaru Adinusantara pun melayangkan gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Pihak keluarga yang didampingi oleh Kuasa Hukumnya yakni Hakim Yunizar, SH, selaku advokat dari Firasadi & Associates, telah melayangkan gugatannya dengan No Perkara : 37/Pdt.Sus-PHI/2021/PN.Sby.


Sebelum pada tahap persidangan, telah dilakukan proses perundingan bipatrit. Namun, pada proses perundingan ini gagal. Faktor penyebab kegagalan tersebut salah satunya, tidak adanya kesepakatan dari kedua belah pihak yakni pihak PT Citrabaru Adinusantara dan keluarga korban bernama Yoga.

“Hari ini Kamis (18/3/2021) sidang pertama. Sebelumnya sudah melewati proses bipatrit. Namun, dalam proses tidak mencapai kesepakatan antara kedua pihak, karena dari PT Citrabaru Adinusantara sendiri hanya memberikan ganti rugi sebesar 40 juta, adapun kenaikan hanya 10 juta” ujar Hakim pada Satukanal.com.

Menurut pemaparan Hakim, pihak keluarga korban masih merasa keberatan. Hal tersebut dikarenakan, PT Citrabaru Adinusantara perusahaan yang menaungi korban, tidak memenuhi hak-haknya yang meninggal akibat kecelakaan kerja.

“Hak-hak tersebut salah satunya, hak asuransi/jaminan kecelakaan kerja dan kematian, hak santunan, hak atas ganti rugi barang, hak upah yang belum dibayarkan dan hak atas pesangon.” tutur Hakim.

Baca Juga :  52 KA Lokal di Daop 8 Surabaya Kembali Beroperasi

Hakim mengatakan, Pemberian santunan harusnya mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan, mengenai hak santunan dan hak ganti rugi barang. Pada PP tersebut mengatur apabila pekerja meninggal dunia akibat kecelakaan kerja, besaran santunan yang harus diberikan minimal Rp 150 juta.

Selain berpedoman pada PP tersebut, Hakim selaku Kuasa Hukum dari penggugat juga mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan kecelakaan kerja dan Jaminan Kematian, serta Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengenai hak upah yang belum dibayarkan dan hak pesangon.

Hakim menjelaskan, dalam hal ini PT Citrabaru Adinusantara juga berkewajiban untuk tetap membayarkan upah para pekerja yang belum diberikan. “Karena belum ada pemutusan hubungan kerja, maka hak upah pekerja harus tetap dibayarkan” ujar Hakim.

Sebagai informasi, pada gugatan yang dilanyangkan kepada PT Citrabaru Adinusantara, Hakim menyebutkan besaran gugatan tersebut sebanyak Rp. 508.624.153. Besaran tersebut merupakan hasil akumulasi dari hak-hak yang harus diterima korban bernama Yoga.

“Perincian pada gugatan sebanyak Rp. 508.624.153. Harapannya, apa yang menjadi tuntutan pekerja harus di penuhi” Ungkap Hakim.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait