Temuan Kepala Kala di Sungai Kalasan Kediri Sudah Terdaftar Sejak 1996 - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Temuan Kepala Kala di Sungai Kalasan Kediri Sudah Terdaftar Sejak 1996
Penemuan Kepala Kala di Sungai Kalasan Dusun Kranggan Desa Nambakan Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri (Foto: Anis Firmansyah/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Temuan Kepala Kala di Sungai Kalasan Kediri Sudah Terdaftar Sejak 1996

Satukanal.com, Kediri – Penemuan Kepala Kala saat revitalisasi Sungai Kalasan di Dusun Kranggan Desa Nambakan Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri, rupanya bukan termasuk hal baru.

Kepala Kala ini sudah tercatat dalam register temuan benda purbakala  BPCB Jawa Timur (Jatim) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri, sejak tahun 1996 silam.

Kasi Museum dan Purbakala Disparbud Kabupaten Kediri, Eko Priatno mengatakan, Kepala Kala ini tercatat bersama tiga penemuan lainnya.

“Jadi ada 3 artefak yang ada di sungai ini yang pertama Kala, kedua Batu Hitam, sama Cungkup,” ungkap Eko, kepada satukanal.com saat meninjau lokasi temuan kala, Senin (8/11/2021) siang.

Baca Juga :  Dukungan Psikososial bagi Anak-anak Terdampak Pandemi Covid-19

Dia menjelaskan, masing-masing temuan benda purbakala itu sudah punya nomor register dengan nomor 10 – 11 /KDR/1996 yang juga merupakan satuan dari Situs Kranggan serta menjadi rangkaian dengan Situs Nambaan.

Alasan mengapa Kepala Kala tersebut tidak dipindahkan, dia mengungkapkan, ini masih dalam wujud menghargai masyarakat yang masih mempunyai ikatan adat emosional dan kepercayaan yang kuat.

Diprediksi temuan Kepala kala ini berasal dari Abad ke-12. “Makanya tetap ada di sini, prakiraan dari bentuk pahatannya itu setidaknya abad ke-12, masa peralihan Jawa Tengah ke Jawa Timur, masa kerajaan Kediri,” jelas Eko.

Baca Juga :  Nestapa Rohman, Tukang Becak asal Kampung Putih yang Rumahnya Hanyut Terbawa Banjir

Lebih lanjut, disebutkan bahwa momentum temuan ini menjadi waktu yang tepat untuk meletakkan Kepala Kala di lokasi yang layak. Dibandingkan sebelumnya, temuan tersebut berada di bantaran sungai warga. Meski begitu, peletakan tersebut tentunya dengan izin para tokoh desa, karena masih terkait erat rasa emosional dengan masyarakat.

“Dari kami, pimpinan sudah berkomunikasi dengan pihak desa. Sebaiknya memang disemayamkan di tempat yang lebih layak. Makanya, mulai dari waktu momentum revitalisasi ini, ada pembicaraan untuk yang lebih baik, menempatkan lokasi yang lebih layak,” pungkasnya.

Pewarta : Anis Firmansyah
Editor : Adinda

    Kanal Terkait