SATUKANAL.COM
Tantangan Kebutuhan Pangan dan Teknologi Digital Akuakultur Indonesia
Sumber: theaseanpost.com
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Tantangan Kebutuhan Pangan dan Teknologi Digital Akuakultur Indonesia

SATUKANAL – Teknologi baru membantu Indonesia menggarap potensi yang sangat besar dalam akuakultur, serta memantapkan posisinya sebagai salah satu negara dengan budi daya air terkaya dunia.

Sektor akuakultur Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Dengan hasil budi daya sebesar 6,2 juta metrik ton pada 2017, menempatkan Indonesia tepat di belakang Cina dan India dari sisi kuantitas produk.

Tercatat produksi perikanan laut tumbuh sekitar 34 persen dari tahun 2008 sampai 2017, sementara pertumbuhan sektor akuakultur di Indonesia meledak sebesar 264 persen selama periode yang sama menurut data dari United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO).

Di sisi lain, sektor akuakultur juga menyerap sekitar 3,3 juta tenaga kerja yang berkecimpung langsung dalam industri tersebut. Namun, 80 persen dari semua produsen ikan dan 70 persen dari semua produsen udang adalah petani kecil yang masih menggunakan metode manual.

Angka tersebut menjanjikan perkembangan pesat jika para peternak ikan dan udang mau beralih dari metode manual dengan yang lebih modern. Sektor budi daya perairan ini diharapkan dapat memasok hampir dua pertiga konsumsi ikan pangan global pada 2030 mendatang.

Yang dibutuhkan adalah alat-alat dengan teknologi yang efektif, serta kediapan analitik data dan Internet of Things (IoT) untuk membantu menjaga keberlanjutan industri dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Baca Juga :  Turis China Jarang ke Malang, Sektor Pariwisata Tak Terdampak Pembatasan

Terlebih, Indonesia memiliki sekitar 26 juta hektare lahan pantai yang cocok untuk ekspansi budi daya. Sebagian besar lahan itu termasuk habitat dari organisme seperti mangrove dan terumbu karang.

Keberadaan bentang pantai ini memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi dan memainkan peranan penting dalam ketahanan perubahan iklim. Lahan pantai juga menyediakan ekosistem penting yang merupakan fondasi sektor ekonomi, seperti perikanan dan pariwisata.

Keuntungan ekonomi terbesar kemungkinan akan dicapai melalui pelaksanaan proses yang lebih produktif pada peternakan yang ada sebagai acuan untuk membuat yang baru.

Penerapan teknologi digital dalam akuakultur bukan hal yang baru, bahkan sudah mulai diterapkan. Perusahaan baru seperti eFishery, yang memasarkan diri mereka sendiri sebagai penyedia teknologi perikanan pertama di Indonesia.

Perusahaan ini membantu para petani dengan alat yang tepat yang mereka butuhkan untuk mendapatkan hasil maksimal dari peternakan ikan mereka.

Didirikan pada 2013, eFishery menyediakan sistem pemberian makan otomatis dengan teknologi IoT yang memungkinkan petani memantau dan menjadwalkan waktu makan.

Sensor berbasis getaran dalam air, dikombinasikan dengan kecerdasan buatan atau sering disebut AI, yang mendeteksi dan menentukan nafsu makan ikan. Teknologi ini sangat berguna untuk menghindari kelebihan atau kekurangan makanan dan melepaskan jumlah pakan yang optimal.

Teknologi ini menghitung dari 60 sampai 90 persen dari total biaya produksi dalam akuakultur komersial, yang sebelumnya hanya dilakukan dengan menggunakan metode manual.

Baca Juga :  Bawaslu Kabupaten Kediri Panggil KPU Soal Lembaga Survei

Metode ini sering mengakibatkan kekurangan atau kelebihan pakan yang kemudian menyebabkan kekurangan gizi, pemborosan dan dampak lingkungan negatif.

“Smart feeder eFishery telah memperpendek siklus panen kami dan meningkatkan kualitas air kami. Kondisi pakan kami selalu dalam kondisi bergizi tinggi karena berada di atas air untuk jangka waktu yang jauh lebih singkat sebelum dimakan,” kata Rio Albab, seorang petani udang dari Karawang, Jawa Barat.

“Kualitas ternak telah meningkat secara signifikan dan ukuran udang menjadi sama rata karena Smart feeder mendistribusikan pakan lebih merata,” tambahnya.

Rio adalah salah satu dari lebih dari 1.300 peternak ikan dan udang yang menggunakan teknologi eFishery di seluruh 3.000 kolam. Rata-rata, para peternak ini telah melaporkan peningkatan laba lebih dari 20 persen.

Perusahaan lainnya, Jala, menyediakan perangkat IoT yang memonitor kualitas air kolam di kolam udang. Data ini dapat diakses secara online secara real-time, dan analisis yang handal pada parameter air kemudian disediakan bagi peternak untuk secara efektif mengelola dan merawat kolam mereka-sehingga meminimalkan risiko kegagalan panen.

Dengan rekam jejak yang kuat sebagai eksportir utama di pasar global, digitalisasi akuakultur Indonesia akan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan makanan laut di ASEAN dan sekitarnya.

Pewarta: (Mg) Nuha Faza
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com

Kanal Terkait