SATUKANAL.COM
Tak Lagi Diminati, Disnakertrans Kabupaten Kediri Kesulitan Cari Transmigran Baru
Kabid Transmigrasi dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Kediri Jumadi
BERITA STRAIGHT NEWS

Tak Lagi Diminati, Disnakertrans Kabupaten Kediri Kesulitan Cari Transmigran Baru

SATUKANAL, KEDIRI – Program transmigrasi tak lagi menarik hati.

Peminatnya terus menurun dari hari ke hari.

Pada 2019, hanya tiga keluarga sebanyak 10 jiwa dari Kabupaten Kediri yang memilih transmigrasi.

Pada November 2019, mereka memulai lembar baru di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Di sana, mereka dibekali rumah seluas 36 meter persegi yang berdiri di atas tanah seluas satu hektar.

Sebagai modal, mereka juga mendapatkan lahan pertanian seluas satu hektar.

Bagi mereka yang tinggal di daerah basah seperti dekat sungai, ada tunjangan jatah hidup selama 1,5 tahun.

Sementara, jatah hidup bagi mereka yang tinggal di daerah kering hanya selama satu tahun.

Baca Juga :  Bawaslu Temukan 24 Calon PPK Rawan Tak Netral

Jatah hidup yang diberikan berupa bahan makanan pokok.

Setelah lima tahun, fasilitas lahan yang diberikan akan menjadi hak milik transmigran.

Meski begitu, iming-iming ini ternyata tak cukup persuasif.

Kabid Transmigrasi dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kabupaten Kediri Jumadi mengaku sangat sulit mendapatkan tiga pendaftar program transmigrasi pada 2019.

Akses jalan yang masih sulit di daerah tujuan menjadi penyebab utamanya.

“Pernah saya tinjau, memang betul jalan masih makadam. Apalagi aksesnya harus lewat sungai besar naik perahu mesin,” tutur Jumadi.

Namun, untuk pemberangkatan transmigran 2020, terhitung sudah ada empat keluarga yang mendaftar melalui Disnakertrans.

Sejauh ini, warga Kabupaten Kediri bertransmigrasi ke Kalimantan, Gorontalo, hingga Maluku.

Baca Juga :  Layanan Keliling Satu Hari Jadi, Cara Dispendukcapil Mudahkan Pelayanan

Tak banyak syarat untuk menjadi calon transmigran.

Maksimal, usia 50 tahun, sudah menikah, dan memiliki kecakapan dan sifat pekerja keras.

Menteri Pembangunan Desa Tertinggal Abdul Halim Iskandar saat hadir di Ponpes Lirboyo, Rabu (12/2/2020) juga sempat menyinggung soal transmigrasi.

Jika sebelumnya pemerintah mempengaruhi masyarakat untuk mau pindah, kini paradigma itu diubah.

“Sekarang, bagaimana membuat daya tarik masyarakat untuk mau pindah. Tempatnya kita siapkan dulu, baru kita tawarkan,” ujarnya usai menghadiri pembukaan pertemuan pondok pesantren se-Jawa Madura.

Program transmigrasi, lanjut Halim, masih akan diteruskan.

Program ini sebagai upaya pemerintah untuk melakukan pemerataan penduduk dan pembangunan.

Pewarta: Isnatul Chasanah

Editor : Heryanto

    Kanal Terkait