SATUKANAL.COM
BERITA

Tak Ada Kebun Kopi, Kota Malang Ingin Tonjolkan Gastronomi Kopi Sebagai Brand. Seperti Apa?

Satuchannel.com, Kota Malang – Malang merupakan suatu kota dengan potensi wisata kuliner dan budaya yang mumpuni. Berbagai macam jenis keunikan pun muncul di Kota Malang, bahkan beberapa gelar disematkan untuk kota ini yakni, ‘Kota Pendidikan’, ‘Kota Apel’, ‘Kota Bunga’, dan hingga ‘Kota Kopi’. Dengan demikian, lewat Badan Perencanaan Pariwisata Daerah (BPPD), pihaknya ingin melakukan branding Malang sebagai kota kuliner, salah satunya produk kopi. Kok bisa?

Meski begitu, bukan berarti Kota Malang mempunyai kebun kopi yang luas sehingga BPPD berani melakukan branding ‘Malang Sejuta Kopi’. Sebab, pihak BPPD lebih melihat, bagaimana menjamurnya kedai – kedai kopi di Kota Malang sebagai pengatrol perekonomian kerakyatan.

Kegiatan roasting kopi (aris)

Kepala BPPD, Gagoek Sunar Prawito menyatakan, meski Kota Malang tak memiliki kebun kopi, bukan berarti tak bisa menjadi branding kopi sebagai ikon wisata.

“Saya kira, kalau kita mengangkat gastronomi (red : tata boga/kuliner), para wisatawan bisa sambil ditemani secangkir kopi dan penyaji pun bisa menceritakan mengenai asal usul kopi yang ia buat. Tentu hal itu akan lebih menarik,” ujar Gagoek saat ditemui Satuchannel, Senin (25/9).

Gastronomi sendiri sebagaimana dilansir dari Wikipedia, muncul pertama kali di Prancis, dua ratus tahun lalu atau sekitar tahun 1804 dari puisi karangan Jacques Berchoux.

Studi gastronomi lebih memfokuskan mengenai hubungan antara budaya dan makanan sebagai pusatnya (seni kuliner). Hubungan inilah yang membentuk produk budidaya pada kegiatan pertanian, pengejewantahkan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan, sehingga dapat ditelusuri asal usul bahan baku yang dihasilkan.

Dapat dikatakan, gastronomi merupakan studi dan apresiasi dari semua makanan dan minuman. Selain itu, gastronomi juga mencakup pengetahuan mendetail tentang makanan dan minuman nasional dari berbagai negara besar di seluruh dunia.

Bermain ke kebun kopi (aris)

“Jadi gastronomi ini mengaitkan food (makanan, red), culture (budaya, red), dan, story (cerita, red), sehingga bisa menjadi unggulan. Bila food dan culture saling bertemu, maka perlu ritual minum kopinya. Sebab, akan ada cerita yang menarik dibalik penyajiannya, ” jelas Gagoek yang juga pengusaha agensi perjalanan wisata ini.

Misalnya, pada hubungan kultur dan cerita, akan menghasilkan penjelasan mengenai latar belakang kopi itu berasal darimana dan bagaimana proses olahan dari bahan baku mentah hingga siap saji.

Menurutnya, yang terpenting para penyaji kopi atau kerap disebut barista ini harus bisa bercerita semua jenis kopi di kedainya. Barista pun harus tahu dan paham keunggulan kopi buatannya.

“Sehingga pengunjung pun bisa tahu lebih detail mengenai kopi, bila perlu pengunjung kita ajak berkunjung ke kebunnya langsung. Sejarahnya mengapa kopi itu bisa ada di tempat tertentu,” tambahnya.

Pihaknya menambahkan, bisa juga para barista ini menceritakan, bagaimana manfaat meminum kopi untuk kesehatan. Mengingat, selama ini kopi diidentikkan dengan kafein tinggi, sehingga muncul stigma ‘negatif’ sebagai minuman yang tidak sehat.

“Padahal kan ada manfaatnya juga, tidak melulu memberikan efek negatif selama tidak berlebihan. Hanya memang kopi terlanjur distigmakan di masyarakat,” tuturnya.

Ada beberapa cerita terkait sejarah asal usul kopi, pengolahannya dari bahan baku biji yang telah dipanen, hingga ke proses penyajiannya dengan berbagai macam tahapan penyajian dan jenis penyajiannya. Proses inilah yang nanti membuat pengunjung paham betapa berharganya setiap biji kopi mentah yang diolah dan disajikan. (Aris)

Kanal Terkait