Tahun 2040 Pakar Sebut Zona Bahaya Deforestasi Akan Ancam Indonesia - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Tahun 2040 Pakar Sebut Zona Bahaya Deforestasi Akan Ancam Indonesia
Kanal Straight

Tahun 2040 Pakar Sebut Zona Bahaya Deforestasi Akan Ancam Indonesia

Satukanal.com, Nasional – Pada tahun 2040, Indonesia diproyeksi memasuki zona bahaya deforestasi. Hal tersebut disebabkan karena kehilangan 55 juta hektare degradasi (penurunan tutupan hutan).

Deforestasi sendiri adalah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nir-hutan, seperti pertanian, peternakan atau kawasan perkotaan.

Pernyataan tersebut merupakan salah satu pendapat dari Dodik Ridho Nurrochmat selaku Pakar kebijakan hutan dan ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Proyeksi tutupan hutan, forest lost-nya 55 juta hektare itu 22 tahun dari tahun 2018, kurang lebih tahun 2040. Itu sudah mencapai limit, mendekati garis irreversible. Harus kita stop,” tuturnya dalam diskusi yang disiarkan akun Youtube dengan tema “Deforestasi di Indonesia: Kondisi dan Penyebabnya”.

Proyeksi tersebut didapat Dodik dari studi yang dilakukan IPB pada periode analisa 2016-2018 yang berjudul “Conversation about the turning point of forest loss in Indonesia: a review of government targets to achieve sustainable development“.

Pada hasil studinya tersebut, ia memproyeksi jumlah penurunan tutupan hutan mencapai 55 juta hektare. Jika pemerintah tidak berupaya membuat kebijakan pertumbuhan ekonomi yang baru.

Baca Juga :  Metode Pembayaran Digital, PT KAI Luncurkan KAIPay

Namun, jika pemerintah berupaya melakukan kebijakan yang meminimalisasi deforestasi, penurunan tutupan hutan hingga 55 juta hektare baru akan terjadi pada tahun 2057 nanti.

Dodik juga menjelaskan, kondisi bebas deforestasi itu bukan berarti tidak ada aktivitas penebangan hutan sama sekali. Melainkan, angka deforestasi seimbang atau kurang dari luasan reforestasi (penanaman kembali) dan aforestasi (pembentukan hutan).

Penghentian aktivitas penebangan hutan sama sekali tidak mungkin dilakukan, menurutnya mengingat Indonesia memiliki kebutuhan pangan yang membutuhkan setidaknya 15 juta hektare lahan dalam beberapa tahun ke depan.

Wilayah yang mengalami peningkatan angka penebangan hutan terjadi di Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Papua dan lima provinsi lain di Indonesia Timur.

Peningkatan laju deforestasi di Papua dan Papua Barat terjadi selama era Kepresidenan Jokowi. Dalam 20 tahun terakhir, hutan alam di Papua dan Papua Barat menyusut 666.443 hektare, dimana 71 persennya terjadi pada 2011-2019.

Baca Juga :  Varian Baru Omicron, Ini Cara Pencegahannya Menurut WHO

Selain berdampak buruk terhadap lingkungan, kebijakan pemerintah saat ini juga dinilai tidak membantu mempercepat langkah Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dengan pendapatan per kapita di atas US$29 ribu pada 2045.

Untuk mengatasi persoalan ini, Dodik mengatakan perlu adanya penetapan batasan kawasan hutan untuk menentukan kategori aktivitas deforestasi, degradasi (penurunan tutupan hutan), aforestasi, dan reforestasi berdasarkan batas formal yang ditentukan.

“Konsensus ini (kebijakan yang berkelanjutan) yang sampai sekarang kita belum ada kesepakatan formal. Berapa luasan hutan yang akan kita pertahankan,” tambahnya.
Adanya pernyataan tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun ini juga berupaya untuk menargetkan rehabilitasi hutan dan lahan terhadap 264 ribu hektare kawasan hutan dan lahan guna menekan laju deforestasi. KLHK juga telah menyiapkan bibit 136 juta batang untuk penanaman dan pemeliharaan hutan.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska 
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait