Supersemar Dan Misteri Yang Masih Menyelimutinya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Supersemar Dan Misteri Yang Masih Menyelimutinya
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Supersemar Dan Misteri Yang Masih Menyelimutinya

SATUKANAL.com, NASIONAL– Tepat di usianya yang ke 55 tahun, keberadaan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) masih menjadi misteri. Supersemar berisi perintah Presiden Sukarno kepada Soeharto selaku Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam mengawal jalannya pemerintahan.

Surat perintah 11 Maret yang dikeluarkan Sukarno di Istana Bogor pada tahun 1966 dikatakan dapat membuka jalan kekuasaan bagi Soeharto saat itu. Meski begitu, ada beragam versi yang mencuat ke permukaan soal bagaimana keadaan kala itu di Istana Bogor. Karena, sebelum surat tersebut dikeluarkan, Presiden Sukarno didatangi oleh tiga jenderal utusan Letnan Jenderal Soeharto.

Ada yang menyebut, Sukarno memberikan mandat tersebut secara sukarela kepada Seharto. Ada pula versi yang mengatakan bahwa Sukarno dalam todongan pistol oleh salah satu Jenderal utusan Soeharto. Namun, dari berbagai versi Supersemar yang dicatat oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) tak satupun diyakini sebagai 100 persen keasliannya. Bahkan hingga kini salinan asli Supersemar belum diketahui keberadaannya. Sedangkan versi Angkaatan Darat yang selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran juga dikatakan tidak asli.

Baca Juga :  Animedoro, Pilihan Metode Belajar Untuk Para Pecinta Anime

Naskah Supersemar versi Jenderal  Muhammad Jusuf menyebut, Komandan Tjakrabirawa Brigjen Saboer mengetik surat itu dengan karbon rangkap tiga (cara lama untuk menggandakan surat dengan mesin ketik). Brigadir Jenderal Muhammad Jusuf sendiri adalah salah satu jenderal utusan Soeharto yang menghadap Sukarno di Istana Bogor.

Surat pertama diserahkan dan ditandatangani Presiden Sukarno. Surat itulah yang kemudian dikenal sebagai naskah asli yang diserahkan Brigjen Basuki Rachmat pada Jenderal Soeharto. Copy kedua surat disebut lalu disimpan oleh Brigjen Saboer. Sedangkan copy surat ketiga diambil oleh Jenderal Muhammad Jusuf.

Alih-alih ditandatangani, baik copy kedua dan ketiga Supersemar tidak pernah ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Hingga kematiannya, Jenderal Muhammad Jusuf tak pernah lagi menyinggung surat tersebut. “Kalau surat yang asli sudah dibawa Basuki (Rachmat) ke Soeharto. Jadi jangan kau tanyakan lagi padaku,” kata dia dalam biografinya, Panglima Para Prajurit yang ditulis Atmadji Sumarkidjo.

Sementara itu, Supersemar versi Orde Baru mempunyai tiga isi yakni pertama, mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

Baca Juga :  Buntut Tuntutan 1 Tahun, Kasus Istri Omeli Suami Mabuk Diambil Alih Kejagung

Kedua, Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik-baiknya. Ketiga, Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.

Dikutip dari Detik, ANRI bekerja sama dengan Pusat Laboratorium Forensik Badan Reserse Kriminal Polri telah menguji berbagai versi Supersemar. Kesimpulannya, tidakk ada satu pun yang orisinal. ANRI mengakui arsip Supersemar yang dimilikinya kini tidak asli.

Pengakuan itu disampaikan pada 13 Desember 2020 oleh Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Konservasi ANRI, Multi Siswanti. “Kita memiliki arsip Supersemar, tapi itu dari berbagai versi. Setelah kita lihat dari autentikasinya, ternyata itu bukan arsip yang asli,” kata Multi Siswanti dikutip dari Antara.

Keberadaan Supersemar yang kini berusia 55 tahun ternyata masih misterius. Pencarian naskah Supersemar asli pun masih terus dilakukan.

 

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redakasi Satukanal

Kanal Terkait