Sunarti, Demi Cucu di Usia Senja Rela Jual Jamu - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Sunarti, Demi Cucu di Usia Senja Rela Jual Jamu
Sunarti saat berjualan jamu (Foto: Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature

Sunarti, Demi Cucu di Usia Senja Rela Jual Jamu

Satukanal.com, Batu – Kulit keriput dan tangannya yang sudah bergetar saat mengangkat botol jamu, tak mematahkan Sunarti seorang penjual jamu, untuk mengais rezeki. Dengan suara yang sudah pelan terdengar. Meski sering mendapat penolakan dari wisatawan, dia tetap sabar untuk menawarkan jamunya.

Penjual jamu di area Alun-alun Kota Batu. Usianya yang sudah menginjak masa senja, dia tetap memikul tanggung jawab untuk memberi nafkah keluarga kecilnya. Bahkan, ketika diberi pertanyaan oleh wartawan Satukanal.com tentang usianya. Ia sudah lupa berapa lama tinggal di dunia ini.

Cerita tentang awal perjalanannya dalam berjualan jamu dibeberkannya. “Dimulai ketika saya ditinggalkan suami. Sementara ada anak di rumah yang harus tetap disekolahkan dan makan,” ungkap wanita yang khas dengan topi saat berjualan itu.

Kehidupannya setelah menikah tak menyenangkan. Selepas dari Kalimantan, dia merantau bersama keluarga kecilnya ke Kota Batu. Tapi seseoraang tidak bisa mengatur nasib sendiri maupun orang lain. Suaminya yang berasal dari Jawa Tengah menikah lagi bersama perempuan lain dan meninggalkannya.

Pasca ditinggalkan, ia yang tak mengetahui seluk-beluk Kota Dingin dan berusaha berjuang sendirian. Dia hanya memikirkan sang buah hati yang menjadi bagian dari hidupnya saja. Seiring berjalannya waktu, dua orang anak dari suaminya kini telah bekerja. Seorang lelaki dan seorang perempuan.

Baca Juga :  Potret Pembelajaran Awal Semester di Tengah PPKM Darurat

Kedua anaknya telah berkeluarga dan memiliki tempat tinggal. Masing-masing di Surabaya dan Gresik. Walaupun jaraknya tak terlalu jauh, mereka sangat jarang mengunjunginya hingga kini. Bahkan, cucu dari kedua anaknya itu dititipkan untuk tinggal bersama Sunarti dan menjadi tanggungan hidupnya.

Cucu yang dititipkan berjumlah 3 orang. Dua orang di antara mereka berjenjang pendidikan SD, sedangkan seorang lain SMP. Kebutuhan guna terus menyambung hidup, belum lagi pengeluaran untuk sekolah selalu diusahakannya guna tetap terpenuhi.

Kondisi saat ini yang masih dalam bayang-bayang pandemi, tentu juga berdampak padanya. Pengunjung alun-alun tempatnya berjualan tidak seramai dulu lagi. Sekarang, perempuan yang tinggal di Kelurahan Sisir ini hanya mendapat penghasilan sejumlah Rp 80 hingga 150 ribu per-harinya.

“Saya buat sendiri (jamu) dari Shubuh. Setelah jadi, langsung berangkat berjualan sampai malam,” ucap wanita asli Kalimantan ini. Tak sedikit rasa simpati mengalir deras dari para tetangganya. Mereka membuatkan Sunarti sebuah alat dorong kecil. Terbuat dari keranjang yang disambungkan menggunakan roda kecil, dengan pegangan plastik.

Baca Juga :  Beri Trauma Healing, Semangati Tiga Anak Isoman Tanpa Orang Tua

Jamu yang dia buat beracam-macam seperti beras kencur, temulawak dan sinom. Semuanya dijual perbotol dengan harga yang berbeda. Karena bahan bakunya yang begitu banyak, setiap sebelum subuh dia harus berbelanja ke pasar. Hanya seorang diri tanpa ada yang menemani.

Dengan berlinang air mata, ia mengungkapkan tujuan besar dihidupnya untuk dapat menyekolahkan anak setinggi-tingginya telah tercapai. Meskipun kedua anaknya tidak selalu ada di masa senjanya, ia tetap bersyukur dan ikhlas dalam melalui segala cobaan.

Sekarang fokusnya hanyalah untuk dapat mencukupi segala kebutuhan para cucunya. Agar tidak bernasib sama dengannya. Ia pun sengaja tak memperbolehkan cucunya ikut berjualan. Meskipun terkadang mereka ingin membantunya. Alasannya, lantaran ia tak mau mereka bernasib sama dengannya.

Banyak pelajaran yang didapatkan dari wanita tangguh tersebut. Betapa teguhnya ia dalam menghadapi semua masalah dengan tetap semangat. Meski tangis kadang menghiasi kerutan wajahnya. Namun senyum juga banyak terlihat. Sebagai pelipur lara akan peluh yang tiap hari dirasakannya. “Semoga pandemi segera berlalu dan kegiatan dapat berjalan seperti dulu lagi,” harapnya singkat.

 

 

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait