Stabilkan Pasokan Pangan, Kementan Atur Strategi Antisipasi Dampak La Nina - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Stabilkan Pasokan Pangan, Kementan Atur Strategi Antisipasi Dampak La Nina
Petani padi (Foto: Pixabay.com)
BERITA Kanal Straight

Stabilkan Pasokan Pangan, Kementan Atur Strategi Antisipasi Dampak La Nina

Satukanal.com, Nasional – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan akan terjadi di rentang bulan Desember 2021 hingga Februari 2022, terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyampaikan peringatan dini datangnya La Nina menjelang akhir tahun ini. Hal ini sekaligus mengingatkan bagi masyarakat untuk tetap waspada.

Adanya fenomena la nina tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) lakukan antisipasi seperti merumuskan program aksi adaptasi antisipasi fenomena cuaca La Nina. Rumusan program aksi itu untuk mengantisipasi sedini mungkin dampak yang akan ditimbulkan.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil mengatakan, setidaknya ada delapan program aksi yang telah dirumuskan, diantarannya:

  1. Membentuk gerakan brigade yang terdiri dari brigade La Nina (Sargas OPT-DPI), brigade Alsintan dan tanam, serta brigade panen dan serap gabah kostraling.
  2. Pompanisasi in-out dari sawah, rehabilitasi jaringan irigasi tersier atau kwarter terutama di wilayah rawan banjir.
  3. Penyiapan bibit varietas padi tahan rendaman (Inpara 1-10, Inpara 29, Inpara 30, Ciherang sub-1, Inpara 42 agritan). Lalu juga varietas toleran salinitas dan varietas unggul lokal yang sudah teruji, varietas OPT pada daerah endemik (tahan WBC/Inpara 2, 3, 4, 6), blast, hawar daun bakteri.
  4. Memperbaiki cara pascapanen dan mempersiapkan bantuan untuk kegiatan panen dan pascapanen dengan menggunakan pengering (dryer) dan RMU (Rice Milling Unit).
  5. Mengoptimalkan penampungan air dengan pemanfaatan biopori, bangunan penampung air (BPA), normalisasi saluran drainase.
  6. Penerapan bedengan tinggi dan pengunaan sungkup plastik pada tanaman hortikultura.
  7. Pembuatan rorak, parit diskontinu, tanaman penutup tanah pada lahan perkebunan untuk menangkap air dan mencegah erosi.
  8. Optimalisasi luas tanam pada lahan kering seperti tanaman hortikutura cabai dan bawang merah dengan penerapan PHT secara efektif, penggunaan varietas unggul toleran OPT dan teknologi inovasi budidaya lainnya.
Baca Juga :  Animedoro, Pilihan Metode Belajar Untuk Para Pecinta Anime

Sementara, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengatakan dalam kondisi dan situasi apa pun, pertanian harus tetap berproduksi. Ia mencontohkan, negara-negara yang mengalami 4 musim, mereka kini tengah mengalami kesulitan dalam hal produksi pangan.

Adanya ancaman La Nina, Mentan mengharapkan kepada Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) untuk membuat rekomendasi teknologi pertanian yang tepat.

Sebagai informasi, Direktur Jenderal Tanaman Panga, Kementan, Suwandi, meyakini kondisi stok pangan aman dan lebih dari cukup. Sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa produksi padi 2021 diperkiraan 55,27 juta ton GKG lebih tinggi 620 ribu ton GKG dibanding 2020.

Baca Juga :  Rekomendasi 4 Lipcream lokal untuk Ombre Lips

 

 

Editor : Naviska

Kanal Terkait