Sosok Wanita Paruh Baya yang Sulap Tanah Liat Jadi Pundi-Pundi Rupiah - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Sosok Wanita Paruh Baya yang Sulap Tanah Liat Jadi Pundi-Pundi Rupiah
Enang beserta furniture tanah liat buatannya (Foto: Anggit/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Straight

Sosok Wanita Paruh Baya yang Sulap Tanah Liat Jadi Pundi-Pundi Rupiah

Seorang wanita di Jombang berani melawan arus modernisasi. Dengan kreatifitas, dia menyulap tanah liat menjadi furniture. Bersaing dengan furniture plastik yang saat ini justru lebih populer.

Anggit Puji – Satukanal.com

BERADA di sekitar rumah ini, kita seakan dibawa ke suasana masa lalu. Bentuk rumah yang sangat sederhana. Berdinding kayu serta beralaskan tanah. Puluhan gerabah bertumpuk di samping kandang ayam.

Rumah yang terletak di Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang ini selaras dengan aktivitas pemiliknya.  Enang Sulastri, sang empunya rumah tak ubahnya sosok yang lekat tradisi nenek moyang,  kerajinan berbahan baku tanah liat.

Tanah liat yang bagi masyarakat umum seakan tak berguna, namun sentuhan tangan kreatif Enang Sulastri  menyulapnya menjadi produk bernilai. Seakan melawan modernisasi, dia memproduksi furniture dari bahan tanah liat. Seperti pot bunga, asbak, gerabah dan beberapa produk lainnya.

Keterampilan mengolah kerajinan dari tanah liat ini sudah diasah sejak kecil. Ketika itu, Enang membantu ibunya membuat kerajinan.

Baca Juga :  Bukti Komitmen Untuk Masyarakat, Pemkab Blitar Lakukan Nota Kesepahaman Bersama Lintas Sektor Instansi Vertikal dan Ormas

“Saya bekerja  puluhan tahun atau sejak  Sekolah Dasar (SD). Waktu itu, hanya membantu ibu. Setelah itu, baru saya meneruskan usahanya sampai sekarang,” ucap wanita 45 tahun ini.

Setiap hari, ia menyempatkan waktu untuk mencari tanah liat kemudian memproduksinya menjadi benda bernilai. Sehari ia bisa membuat 10 – 20 furniture yang ia stok di rumahnya, selain dari pesanan.

Dengan bahan utama tanah liat, Enang mengaku, usahanya  naik turun. Karena harga jual produknya juga tidak terlalu mahal. “Memang tidak terlalu mahal, karena bahan tanah liat dan pasir. Setelah itu, dibentuk dan ditunggu sampai matang,” ungkapnya.

Puluhan tahun menekuni usaha ini, Endang mengatakan, omset pendapatan hasil jualannya mencapai Rp1 Juta hingga Rp1,5 juta, dengan harga pasaran penjualan tiap produk yang dihasilkan, mulai dari harga Rp3 ribu hingga Rp7 ribu.

Baca Juga :  GPK Sebut Program Bupati Jombang Sudah Sejalur dengan Keinginan Rakyat

Meskipun tidak besar, Endang mengaku penghasilannya selama ini cukup dan tetap bisa bertahan. Produk yang ia buat biasanya dijual ke beberapa di area Jombang, Mojokerto dan Surabaya. “Cukup untuk kehidupan sehari-hari,” katanya.

Terlebih, saat ini masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Sedikit banyak, ia mengaku usahanya sempat mandek karena pesanan menurun. Namun, untuk tetap bertahan, dia melakukan produksi meski pesanan menurun.

“Sempat sepi, tapi sekarang beberapa bulan terakhir ya lumayanlah meskipun tidak banyak. Semoga cepat selesai saja kondisi seperti ini biar bisa produksi seperti biasa lagi,” pungkasnya.

Produktif setiap hari tidak membuat Endang tenang di zona nyaman. Dia masih belajar untuk memainkan media sosial untuk mempromosikan produknya.

“Ya semoga produk saya ini bisa terjual luas dan semakin banyak yang minat. Apalagi sekarang ini masih belajar sosmed. Sebelumnya tidak tahu untuk berjualan online,” tukasnya. (*)

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait