SATUKANAL.COM
Impor Cangkul Capai 292,4 Ton
Impor Cangkul Capai 292,4 Ton
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Impor Cangkul Capai 292,4 Ton, Apa Kendala Pengusaha Lokal?

SATUKANAL – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Januari hingga Oktober 2019 impor cangkul mencapai 292,4 ton. Nilainya mencapai Rp 1,49 miliar.

Padahal, di tingkat lokal pun masih banyak perajin-perajin cangkul tradisional. Lantas apa kendalanya?

Kepala Bidang Industri Manufaktur Kementerian Koperasi Dan UMKM, Yogia Prihartini mengatakan industri cangkul lokal masih mengalami kendala klasik, yakni masalah standarisasi kualitas serta permodalan.

Menurut Yogia, industri cangkul menjadi perhatian presiden Joko Widodo setelah melihat data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Padahal negara kita merupakan negara agraris, sektor pertanian terbesar dan cangkul merupakan alat pokok yang sangat dibutuhkan,” kata Yogia.

Atas dasar tersebut, pemerintah mengharapkan agar para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memahami tentang perkoperasian dan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk cangkul untuk memenuhi standar kualitas.

“Untuk mengatasi masalah impor cangkul ini, kementerian memfasilitasi dengan Program Kemandirian Cangkul. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi pemahaman koperasi, standarisasi, dan pendampingan pelatihan teknis pada pengusaha cangkul agar dapat bersaing,” ujar Yogia.

Jika melihat proses produksi yang masih menggunakan cara tradisional, Yogia yakin jika kualitas produk cangkul lokal yang ada sebenarnya jauh lebih bagus. Namun, pemilihan bahan baku dan untuk memenuhi kebutuhan pasar, pengusaha diharapkan mampu meningkatkan produksi dengan standar SNI.

“Bahan baku akan menggunakan pihak Krakatau Steel, bagaimana memilih bahan yang berkualitas,” paparnya.

Senada dengan Yogia, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi Dan UMKM, Karto menyampaikan pentingnya langkah bersama elemen-elemen terkait industri cangkul. Terutama untuk menekan atau bahkan menghentikan impor cangkul.

“Kita bersama-sama atau keroyokan untuk mencapai target, kementerian memfasilitasi baik dari modal, pelatihan, standarisasi dan pemasaran,” terangnya.

Modal yang dimaksud bisa mengambil skema pembiayaan dari pihak ketiga. Misalnya kerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) serta Krakatau Steel (KS) sebagai penyedia bahan baku.

Hal ini disampaikan di sela kegiatan Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Manajemen Usaha dan Bisnis yang digelar Dinas Koperasi UMKM Tulungagung. Kegiatan yang melibatkan puluhan pelaku usaha dan perajin cangkul tersebut berlangsung sejak Rabu (12/2/2020) hingga Sabtu (14/2/2020) mendatang.

“Pelatihan ini adalah kelanjutan dari program sebelumnya. Tulungagung merupakan salah satu dari tiga yang menjadi pilot projek dalam program pemerintah ini,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Tulungagung, Slamet Sunarto dalam sambutannya.

Tiga kabupaten yang menjadi pilot projek itu adalah Sukabumi, Klaten dan Tulungagung. Dalam pelatihan itu, pihaknya mendatangkan pengusaha dari Desa Kiping Kecamatan Gondang yang berjumlah 22 pengusaha cangkul dan dari Desa Bolorejo Kecamatan Kauman ada 8 perajin cangkul.

Redaktur: N Ratri

Kanal Terkait