Sepanjang 2019, Akademisi UB Sebut Ada 11.800 Konten Bermuatan Radikalisme Tersebar | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
IMG-20191230-WA0029
Para speakers saat acara refleksi akhir tahun yang membahas tentang radikalisme di Fisip UB (Foto : Sherla)
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Sepanjang 2019, Akademisi UB Sebut Ada 11.800 Konten Bermuatan Radikalisme Tersebar

SATUKANAL, MALANG – Pasca insiden penyerangan yang menimpa Menkopolhukam Wiranto di Banten, Oktober 2019 lalu, Presiden Joko Widodo menyerukan masyarakat untuk bersama-sama memerangi radikalisme. Kementerian Kominfo pun melakukan pemblokiran belasan ribu konten di jagad maya yang diindikasikan bermuatan radikalisme.

Instruksi presiden yang dibarengi dengan berbagai kebijakan soal radikalisme ini, turut menjadi perbincangan masyarakat. Di akhir 2019, para akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) mengadakan acara refleksi akhir tahun dengan tema Indonesia dalam Potensi Ancaman Radikalisme.

“Di FISIP UB banyak pakar di bidang sosial politik. Semoga bisa mencerahkan masyarakat. Serta bagi para pengambil kebijakan mungkin juga perlu masukan,” ungkap Dekan Fisip UB, Prof Unti Ludigdo.

Baca Juga :  Hadiah Dies Natalis Ke-58, UB Raih Penghargaan Zero Project Dari PBB

Tercatat setidaknya sekitar 11.800 data konten-konten radikal teridentifikasi pada tahun 2019. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan pada tahun 2018 yang sebanyak 10.449 kasus. Kemenkominfo sendiri telah memblokir konten tersebut pada tahun 2019.

Isu radikalisme ini juga sangat pro dan kontra di lingkungan pemerintah. Pihak yang kontra menganggap pemerintah memberangus kebebasan berekspresi, batasan radikal belum jelas, dan ada yang menganggap umat Islam didiskriminasi.

Dalam konteks NKRI, radikalisme diterjemahkan sebagai ideologi atau gerakan yang berisi ajaran mengkafirkan orang lain yang tak sejalan, dan ingin mengubah dasar negara serta mengubah negara.

Sosiolog UB, Ali Maksum menambahkan bahwa tercatat sejumlah fenomena pada 2019 terkait radikalisme. Beberapa di antaranya, seperti ledakan bom bunuh diri di Mapolresta Medan, ledakan bom bunuh diri di Kartasura, aksi menolak hormat bendera merah putih oleh siswa SMP di Batam akibat keyakinan berbeda, kerusuhan di Papua dan Penusukan Wiranto.

Baca Juga :  Terapkan Pembatasan Kegiatan Kampus, UB Haruskan Tamu Bawa Hasil Tes Swab

Tak hanya di lingkungan masyarakat, menurut Ali, isu radikalisme juga menghinggapi dunia pendidikan. “Sejumlah kampus juga terpapar radikalisme dari hasil penelitian. Kampus besar seperti UB juga termasuk dengan tujuh kampus lainnya. Bisa jadi pengaruh lingkungan di luar kampus,” papar Ali.

Ali juga menambahkan bahwa untuk menangkal radikalisme perlu adanya tindakan preventif. “Antara lain dengan meneguhkan modernisasi Islam Indonesia, menanamkan jiwa nasionalisme, berpikir terbuka, berjejaring dalam komunitas positif dan menjalankan aktivitas keagamaan dengan toleran,” pungkas Ali.

Pewarta: Sherla Naya
Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait