Sempat Meroket Sampai Singapura, Kini Malah Tak Berdaya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Sempat Meroket Sampai Singapura, Kini Malah Tak Berdaya
Salah satu topeng karya pengrajin Kampung Topeng (Foto: Chosa Setya/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Pesona

Sempat Meroket Sampai Singapura, Kini Malah Tak Berdaya

Satukanal.com, Malang – Selain wisatanya, Kampung Topeng memiliki potensi kerajinan yang tidak kalah laris. Bahkan, pasarnya tembus hingga Singapura. Lantas dengan kondisi mangkraknya wisata, bagaimana kondisi penjualan kerajinan topeng kini?

Salah seorang pengrajin Topeng di Kampung Topeng Wahyu Setyawan mengungkapkan, dia pernah menerima pesanan topeng malang hingga ratusan pieces, untuk dikirim ke Singapura. “Waktu itu ada pasangan yang mau menikah, kemudian pesan disini buta sovenirnya. Lupa jumlah berapa, pokoknya itu pas waktu rame-ramenya dulu itu,” ujar Wahyu.

Dari keterangannya, tidak banyak pengrajin yang tersisa disana. Mayoritas dari mereka memilih untuk meninggalkan topeng demi menyambung hidup. Pasalnya, matinya perekonomian akibat mandeknya wisata memiliki pengaruh besar terhadap pesanan. Mirisnya beberapa dari mereka terpaksa kembali ke jalan untuk mencari sesuap nasi.

Baca Juga :  Reaksi Pemain Asing Arema di Hari Raya Kurban

“Mau bagaimana lagi, dulu pengunjung itu satu-satunya harapan kita untuk memasarkan. Ya beberapa kali ada yang kesini pesan tapi tidak banyak, hanya beberapa buah saja,” imbuhnya.

Wahyu juga menceritakan bagaimana ruwetnya proses pembuatan topeng. Bahan baku yang tidak murah turut mendorong warga Kampung Topeng memilih tidak produksi lagi. Belum lagi pemasaran yang sulit membuat kondisi makin kritis.

Untuk mendapatkan 1 buah topeng dengan bahan fiber, dibutuhkan waktu produksi 3 hingga 4 hari. Proses pencampuran bahan hingga pengecatan membutuhkan waktu lama karena sangat dipengaruhi oleh sinar matahari.

Meski perlu mencampur beberapa bahan dengan takaran yang pas, namun bahan fiber memberi keuntungan tersendiri. Harganya yang lebih terjangkau membuat pembeli banyak yang lebih memilih topeng dari bahan ini, untuk sekedar jadi oleh-oleh.

Baca Juga :  Buka Jalur Mandiri Gelombang 2, Calon Mahasiswa Wajib Simak!

Tidak hanya dari fiber, Kampung Topeng juga memproduksi topeng dari bahan kayu. Bahan baku inilah yang terlebih dahulu ditinggalkan warga. Bahan baku yang sulit didapat dan mahal, menjadi alasan utamanya.

“Bikin nya juga lama bisa 1 Minggu lebih, yang beli pun susah karena mahal juga,” terang pria yang kini menjadi satu-satunya pengrajin topeng.

Kini, Wahyu hanya berharap agar wisata Kampung Topeng segera kembali beroperasi, hingga akhirnya pengrajin pun dapat kembali beroproduksi.

 

 

Pewarta : Chosa Setya Ayu Widodo
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait