SATUKANAL.COM
Hoaks Corona
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Waspada Info di Grup FB dan WA, Ada Ancaman Pidana Penyebar Hoaks Corona

SATUKANAL – Telitilah saat menerima informasi di grup-grup komunitas Facebook atau pesan WhatsApp soal virus Corona atau Covid-19. Ada ancaman pidana bagi pihak-pihak yang sengaja menyebarkan hoaks atau kabar palsu.

Di Jember, anggota grup Facebook Info Warga Tanggul sempat heboh saat salah satu membernya mengunggah foto terkait info suspect Corona.

Akun atas nama HuLif membagikan postingan milik Dwi Irmaya Sari yang berisi percakapan di WhatsApp dalam bentuk screenshot.

Disebutkan, ada salah satu bidan di Jember yang menyatakan ada pasien terpapar Corona dirawat di rumah sakit di kawasan Kaliwates dan telah dirujuk ke RS Jember Klinik.

Tidak berapa lama setelah diunggah, foto terkait adanya suspect Corona di Jember telah dihapus oleh akun yang bersangkutan.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Jember, Diah Kusworini saat dikonfirmasi mengatakan, sejauh ini di Jember tidak ada pasien yang terpapar virus Corona.

Hal senada terjadi pula di Malang. Publik ramai memperbincangkan ada satu pasien meninggal karena virus Corona di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Kabar ini, ditepis oleh pihak rumah sakit dan dijamin bahwa satu pasien yang dirawat tersebut meninggal karena penyakit radang paru akut.

Ketua Tim Corona RSSA Malang, Didi Candradikusuma menyatakan memang satu pasien ini ter-suspect atau terduga terkena virus Corona.

Selain kecurigaan awal dari gejala demam yang tak kunjung usai, pasien sebelumnya beraktivitas dengan menghadiri acara di luar kota dengan akses bersama warga negara asing (WNA).

“Setelah kembali ke Malang akhir Februari lalu, pasien mengalami batuk dan berobat jalan di rumah sakit swasta. Dari dasar riwayat itu, pasien berinisiatif kemungkinan Corona, sehingga dirujuk ke RSSA. Dan kami menangkap ini dugaan virus Corona itu,” jelasnya, Rabu (4/3/2020).

Setelah menjalani perawatan, pemeriksaan sesuai standart operasional prosedure (SOP) penanganan pasien Corona selama kurang lebih 9 jam, pasien ini meninggal dunia. Meski begitu, pihak RSSA telah menjamin pasien tersebut bukan terindikasi virus Corona.

“Di sini kita juga lakukan analisa lagi, semakin memburuk dan pasien meninggal. Tapi kami sempat mengambil prosedur pengambilan sampling, cuma saat pengiriman itu tidak diterima (Kemenkes). Karena kasus ini tidak masuk kriteria PDP,” jelasnya.

Pekan ini pula, telah beredar pesan berantai WhatsApp mengatakan bahwa ada pasien di salah satu rumah sakit di Makassar, Sulawesi Selatan positif virus Corona.

Faktanya menurut kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr Naisyah Tun Azikin, hingga saat ini belum ada satupun warga Makassar yang terjangkit virus Corona.

“Jadi kami tegaskan belum ada satupun warga Makassar yang terjangkit virus Corona. Yang beredar kabar itu hanya hoax,” ujar Naisyah.

Maraknya penyebaran informasi yang meresahkan semacam itu mendapat perhatian khusus dari Polri.

“Kami tindak tegas secara hukum bila ditemukan hoaks,” tegas Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Asep Adi Saputra.

Penyebaran hoaks terkait corona bukan isapan jempol di dunia maya. Dari data Kementerian Komunikasi dan Informatika, dari 23 Januari hingga 3 Februari 2020, telah terpantau 147 berita hoaks.

Tak hanya Polri yang bergerilya di dunia maya, pemerintah pun akan melakukan penindakan tegas terhadap siapa pun yang melakukan penyebaran identitas seseorang atau pasien yang dinyatakan positif Corona.

Penyebaran identitas pasien melanggar Pasal 17 Huruf h dan i Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Disebutkan, informasi pribadi dikecualikan bila terkait dengan riwayat, kondisi anggota keluarga, perawatan kesehatan fisik dan psikis seseorang.

Perlindungan atas identitas pribadi juga dijamin dalam Pasal 29 Huruf g UUD 1945. “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yang berada di bawah kekuasaannya serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi”.

Penyebaran identitas pasien corona terjadi pada kasus ibu dan anak di Depok, Jawa Barat, serta menyebar di medsos. Maka pemerintah pun secara tegas menyatakan ada sanksi hukum bagi siapa pun pihak yang menyebarkan identitas pasien corona.

“Kemenkum HAM dan Kemenkominfo tadi sudah koordinasi, lapor juga ke presiden akan ada law enforcement terhadap pelanggaran itu,” ujar juru bicara pemerintah terkait penanganan virus corona Achmad Yurianto, Selasa (3/3/2020) kemarin.

Tak hanya itu. Keresahan masyarakat dengan adanya warga Indonesia yang positif terkena corona juga membuat oknum bermain. Yakni dengan melakukan penimbunan masker dan hand sanitizer yang di pasaran menjadi sangat laris.

Polri akan menjerat para oknum itu bila terbukti melanggar Pasal 107 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. “Pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat dan/atau terjadi hambatan kelangkaan lalu barang, lintas gejolak perdagangan harga, barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)”.

Redaktur: N Ratri

Kanal Terkait