SATUKANAL.COM
Sektor Pariwisata Indonesia
BERITA COVID-19 EKONOMI INFOGRAFIK RISET STRAIGHT NEWS

Sektor Pariwisata Indonesia dalam Pusaran Pandemi

SATUKANAL, NASIONAL – Sektor pariwisata adalah salah satu sektor yang mengalami keterpurukan di masa pandemi. Mobilitas manusia dibatasi yang berakibat pada penurunan jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Data dari Kemenparekraf (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) menunjukkan terjadi penurunan jumlah wisatawan mancanegara melalui seluruh pintu masuk di Indonesia sebanyak 87,4%, yakni dari 1.272.083 di bulan Januari menjadi 160.282 wisatawan pada Juni 2020.

Sementara, jika dibandingkan dengan tahun 2019, penurunan yang terjadi pada bulan Februari hingga Juni berkisar 30-80% yoy (year on year), dengan penurunan tertinggi terjadi pada bulan Juni 2020 sebesar 88,82% yoy dibandingkan Juni 2019. Jumlah ini belum termasuk wisatawan domestik.

Kelesuan ini berpengaruh terhadap kondisi tenaga kerja dan tingkat pendapatan, terutama bagi beberapa daerah, seperti Bali, yang pemasukannya banyak bertumpu pada sektor pariwisata. Data dari CEIC (Global Economic Data, Indicators, Charts & Forecasts) yang diolah kembali oleh LPEM (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat) FEB UI menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata menyerap langsung sekitar 10% (13 juta pekerja) dari total tenaga kerja nasional di tahun 2019.

Terpuruknya sektor pariwisata mengakibatkan banyaknya tenaga kerja yang harus dirumahkan. Kelesuan di sektor pariwisata juga berimbas pada penyedia makanan dan minuman, akomodasi dan perjalanan. Misalnya, terlihat adanya penurunan pada tingkat okupansi hotel di Bali dari 63% di bulan Desember 2019 menjadi 46% di bulan Februari 2020.

Baca Juga :  Bek Persik Kediri Andri Ibo Akhirnya Dinyatakan Negatif Corona

Hal ini juga didukung oleh survei sosial demografi dampak COVID-19 yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik) menyatakan bahwa 76,84% responden yang bekerja di sektor akomodasi dan makan minum mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Sayangnya, langkah untuk menghidupkan kembali perekonomian di sektor pariwisata tak semudah yang dibayangkan. Penelusuran yang dilakukan LPEM FEB UI berbasis laporan dari IATA (International Air Transport Association) memaparkan bahwa pemulihan akan berlangsung lama.

Sebagai perbandingan, dengan menggunakan perjalanan udara sebagai indikator pemulihan ekonomi, dampak yang diakibatkan kasus SARS saja setidaknya berlangsung selama 1-3 bulan dan membutuhkan waktu pemulihan 6-7 bulan. Sementara itu, penularan COVID-19 di Indonesia sendiri belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Data terbaru yang dirilis Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menunjukkan sebanyak 153.535 kasus terkonfirmasi per 24 Agustus 2020, yang artinya bertambah 2.037 kasus baru.

Dengan kata lain, geliat ekonomi sektor pariwisata di Indonesia masih akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk pulih. Bahkan, jika sektor pariwisata dibuka kembali selama vaksin belum ditemukan, muncul kekhawatiran akan ada gelombang baru penyebaran COVID-19 seperti yang terjadi di Vietnam.

Baca Juga :  Menko PMK Apresiasi Pengadaan Mesin PCR di RS Kabupaten Kediri

Pemerintah kemudian mencoba mengatasi ketegangan antara faktor kesehatan dan ekonomi ini dengan sejumlah kebijakan. Dari sisi ekonomi, pemerintah memberikan stimulus ekonomi kepada pelaku wisata melalui subsidi listrik, keringanan pajak, bantuan sosial dan pinjaman tanpa bunga kepada UMKM terdampak. Sementara dari sisi kesehatan, Kemenparekraf mengeluarkan program CHS (Cleanliness, Health and Safety) sebagai implementasi kebijakan adaptasi kebiasaan baru yang selaras dengan protokol kesehatan.

Program ini sekaligus jawaban terhadap kemungkinan perubahan gaya berwisata yang akan lebih mengutamakan keamanan dan kesehatan. Salahsatunya, Kemenparekraf mengeluarkan panduan pencegahan dan pengendalian COVID-19 bagi restoran/rumah makan. Panduan ini, diantaranya, berisi himbauan untuk tidak berjabat tangan, menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker dan lain sebagainya.

Meski begitu, sejumlah kebijakan ini tetap perlu dibarengi dengan pembenahan sistem kesehatan yang memadai di setiap daerah yang menjadi destinasi wisata. Pasalnya, penelusuran yang dilakukan oleh peneliti LIPI dan Atmajaya, Sitohang dan Hadiyanto, menunjukkan bahwa kondisi dan kemampuan puskesmas di Indonesia tidak semuanya memiliki kesiapan yang memadai, baik dari segi infrastruktur, manajemen, informasi dan sumber daya. Jika hal ini tidak dibenahi, pembukaan kembali sektor pariwisata hanya akan menjadi buah simalakama.

Kontributor: Ainun Mardliyah
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait