Sejarah Black Friday, Dari Diskon Jadi Korban Nyawa | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
belanja
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Sejarah Black Friday, Dari Diskon Jadi Korban Nyawa

SATUKANAL.com, NASIONAL– Black Friday bukan menjadi hal yang asing bagi para pemburu diskon. Black Friday merupakan ajang belanja yang bermula di Amerika Serikat (AS) sama seperti halnya Single Day yang berasal dari Tiongkok,

Black Friday biasanya diperingati sehari setelah hari raya khas Amerika Serikat yaitu Thanksgiving yang jatuh pada hari kamis.

Pada hari Jumatnya, sejumlah perusahaan ataupun tempat belanja online menggelar diskon dan promo secara besar-besaran.

Berdasarkan pantauan tim satukanal.com, minat penelusuran Black Friday di mesin pencarian Google satu tahun terakhir meningkat tajam. Hal ini ditunjukkan dari grafik yang menunjukkan kurva keatas menjelang 29 november 2020.

Selain itu, mitos terkait Black Friday juga berkembang di masyarakat. Istilah black Friday berasal  dari perubahan pembukuan perusahaan dari merugi (biasanya berwarna merah) menjadi untung (berwarna hitam)

Peningkatan tersebut juga menandakan bahwa masyarakat Indonesia mulai tertarik dengan promosi-promosi pada Black Friday.

Ben Zimmer, kolumnis The Wall street Journal mengungkapkan asal-usul istilah black Friday sering disalah artikan. Banyak yang mengira istilah black diartikan sebagai ‘suram’ yang merujuk turunnya angka pendapatan gerai, karena banyaknya barang yang dijual dengan harga diskon.

Dalam bukunya yang berjudul The Origins of “Black Friday”, sejarah black Friday dimulai jauh sebelum era digital.

Awalnya pesta belanja itu dilakukan oleh peretail offline sejak 1950. Tetapi di 1960 oleh polisi Philadelphia istilah itu digunakan untuk menggambarkan fenomena kemacetan  yang terjadi di seluruh kota karena antrean panjang di sekitar pertokoan.

Suramnya Black Friday tidak hanya dialami para polisi, tetapi juga para konsumen dan pegawai toko. Mereka kerap kali melakukan perkelahian atau pertengkaran untuk berebut barang yang diinginkan. Bahkan, pesta diskon besar-besaran itu tak jarang juga menimbulkan korban jiwa.

Dilansir dari kaatadata.co.id, pada tahun 2006 tercatat 12 korban jiwa dan lebih dari 100 orang mengalami luka-luka dalam insiden Black Friday di seluruh AS.

Saat toko-toko online bermunculan, berbagai promo Black Friday pun menyebar ke jagat raya. Termasuk ke negara-negara selain AS. Seperti halnya di tiongkok bahkan Indonesia.

Di Indonesia sendiri, e-commerce yang turut berpartisipasi di Black Friday diantaranya yaitu lazada, zalora, shopee dan masih banyak lagi.

Tak hanya toko online, beberapa toko offline pun juga memberikan diskon serta promo kepada para pelanggannya. Untuk itu, sebagai seorang pembelanja yang baik sudah sepatutnya untuk tetap mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi ini. Dan tentunya,  juga harus berbelanja dengan bijak agar tidak mengalami jumat suram.

 

 

 

Pewarta: Adinda A.I.U.
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait