Secuil Jejak PKI di Kota Santri - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
PKI pada zamannya.
Santri saat ikut berperang melawan PKI kala itu
BERITA Kanal Feature

Secuil Jejak PKI di Kota Santri

Satukanal.com, Jombang – Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau disingkat G30SPKI jadi isu hangat yang selalu dibicarakan setiap Bulan September. Isu maupun cerita kekejaman PKI selalu menjadi perbincangan setiap tahunnya.

Hal tersebut juga rupanya menjalar ke Kota Santri, yakni Kabupaten Jombang. Siapa yang mengira, kabupaten yang identik dengan santri dan pondok pesantren ini juga menyelipkan segelintir kisah PKI didalamnya.

Sejarawan Jombang, Nasrul Illah, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, PKI pada zaman itu juga ada di Jombang. Namun, tidak semua wilayah Jombang dihinggapi, PKI kala itu hanya menyasar masyarakat abangan di sisi utara dan sebagian lagi di selatan.

Dia menyebut keberadaan PKI kala itu memang terpaksa diterima atau tidak bisa ditolak. Hal itu karena memang secara umum terjadi di seluruh Indonesia.

“Secara politis memang PKI di Jombang tidak strategis, berbeda dengan daerah di Jawa Timur lainnya seperti Madiun dan Blitar,” ucapnya pada Kamis (30/9/2021).

Ia melanjutkan, waktu itu memang sebagian besar masyarakat abang menjadi pengikut, simpatisan PKI atau PNI.

Disisi lain, ada kalangan masyarakat Ijo yang kebanyakan menjadi pengikut Masyumi dan kemudian juga NU (Nahdlatul Ulama).

Kendati terbagi, saat itu tata kelola kehidupan masyarakat bisa dikatakan tanpa gejolak. Semua berjalan baik-baik saja dan tanpa ada masalah.

Lalu, sesaat pasca NU memisahkan dari Masyumi terkait perbedaan pendapat soal Nasakom (Nasional Agama Komunis), seketika suasana menjadi tidak nyaman.

Saat Masyumi membubarkan diri, mereka sejatinya tetap beraktivitas sosial keagamaan, kala itu melalui Muhammadiyah, Al Irsyat, Persis, dan lainnya. Ia pun melanjutkan ceritanya, pada waktu itu, ada satu orang asal Jombang bernama Semaun yang menjadi sekertaris Syarekat Islam.

Baca Juga :  Terus Uji Coba, Kemistri Pemain PSID Mulai Terbentuk

Dalam ceritanya, warga Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang itu, Ia masih mengingat jelas baris lirik nyanyian ‘Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu’.

Lebih jauh, ketika ditanya apakah PKI pernah melakukan tindakan yang dianggap brutal ketika jejaknya tertulis di Jombang? Cak Nas sapaan akrabnya ini menyebut, tindakan yang dianggap brutal yakni pada masa pemerintahan Bupati R. Hasan Wirjoekoesomo.

“Dari tahun 1962 hingga tahun 1966. Dikenal sebagai seorang pengagum Bung Karno. Jika dikatakan tindakan diluar nalar itu terjadi pada sosial budayanya. Ketika itu PKI memusuhi umat Islam, terlebih pada kalangan yang menolak paham Nasakom itu,” katanya.

Akhirnya, ia melanjutkan, mereka (PKI) ini punya kendaraan yang bernama Lekra. Kendaran bukan diartikan sebagai alat transportasi umum, melainkan cara mereka menyampaikan sebuah pesan.

Lekra ini sendiri, punya kecenderungan ungkapan melalui kesenian ludruk. Salah satunya yakni Ludruk Arum Dalu di Sengon Jombang. Dengan kendaraan itu, mereka punya wadah yang kala itu memang dibuat untuk melecehkab keyakinan umat Islam.

“Melalui parikan/kidungan, lawakan, maupun lakon, sering melecehkan keyakinan Ummat Islam,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyambung, lakon yang sering dipentaskan misalnya, ‘Gusti Allah Mantu, Sunatan Massal Malaikat. Selain itu, ada juga gerakan menyanyi bersama di sepanjang jalan dan lapangan yang kebanyakan dibawakan para Gerwani (kelompok wanita PKI).

Mereka, biasa melakukan kegiatan tersebut saat menjelang maghrib sampai menjelang Isya. Memilih waktu tertentu, bukannya tanpa alasan, itu dipakai untuk memancing ketegangan kedua belah pihak, PKI dan Umat Islam kala itu.

Baca Juga :  Gus Hans; Calon Ketua PBNU Harus Bisa Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Apakah gerakan itu tidak dilaran waktu itu? Pada masa itu, mereka didukung oleh pemerintah yang saat itu berkuasa. Sehingga aktifitasnya cenderung dibiarkan.

Disis umat Islam, ketika G 30 S/PKI meletus, sakit yang telah lama dirasakan akhirnya meletus. Pelampiasan dilakukan dengan memerangi kaum yang dirasa telah secara nyata menghina Tuhan. Bahkan, anti Tuhan, tidak bertuhan dan tidak mengakui keberadaan Tuhan.

Bagi Cak Nas, jika ditarik ke era baru ini, Jombang sudah lama cenderung dingin, tidak mudah panas situasi kondisi sosial politiknya. Insan Jombang sudah kenyang dalam konflik dan perbedaan. Masyarakat kota Santri sudah terbiasa bekerja sama dalam hal yang tidak berbeda dan bisa menghormati perbedaan.

“Sifat orang Jombang itu brah-breh (jujur, isi hati, ucapan, prilaku sama), brang-breng (omong apa adanya, terus terang, tanpa tedheng aling-aling), brak-bruk (luman, suka memberi), dan bareng-bareng (guyub-rukun),” tukasnya.

Menurutnya, sekarang ini, PKI akan sulit berkembang di Jombang. Terlebih jika menjelang G30SPKI, isu bangkitnya PKI selalu menggema di kancah informasi Nasional.

“Jombang kota santri, kota budaya. Tanah dan insan Jombang tuwo lan towo*(tuwa dan tawar), gak nggumunan. Orang Jombang tak mau melakukan kesalahan yang sama. Soal PKI tidak mudah masuk Jombang, trauma pengkhianatan PKI masa lalu. Jombang akan tetap terjaga,” pungkasnya.

 

 

Pewarta: Anggit Puji

Editor: Ubaidhillah

  • Nasrul Illah.
    Nasrul Illah.
    Cak Nas saat ditemui di kediamannya.
    Foto by Anggit.

Kanal Terkait