Salam Pembuka La Nina yang Menyapa Batu - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Konferensi pers perihal waspada La Nina yang digelar BMKG pada 18 Oktober 2021. (SC; bmkg.go.id)
BERITA Kanal Highlight Kanal Lipsus

Salam Pembuka La Nina yang Menyapa Batu

Bermula dari hujan ekstrem mencapai 80,3 milimeter selama dua jam. Banjir Bandang Batu yang merenggut tujuh nyawa dan merusak puluhan rumah bagian awal dari La Nina. BMKG memprediksi puncak La Nina pada Januari – Februari 2022.

Satukanal.com, Batu – Lutfia Indah

LA NINA berasal dari bahasa Spanyol. Artinya anak perempuan atau putri. La Nina merupakan fenomena alam ketika udara lebih dingin atau curah hujan lebih tinggi. Berkebalikan dengan El Nino (anak-laki-laki) yang menyebabkan udara lebih panas.

Selama fenomena La Nina berlangsung, suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik yang dekat atau berada di garis khatulistiwa mengalami penurunan sebanyak 3° hingga 5° C dari suhu normal. Kemunculan fenomena La Niña ini biasanya berlangsung paling tidak lima bulan. Fenomena ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap cuaca bahkan iklim di sebagian besar wilayah dunia,

Peringatan dini kehadiran La Nina  yang berpotensi memunculkan bencana hidrometeorologi seperti banjir di Kota Batu hingga Kota Malang telah diungkapkan oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 18 Oktober 2021. Sebelumnya, BMKG  telah memperkirakan musim hujan di wilayah Indonesia maju lebih awal pada bulan Oktober.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawat. (foto: bmkg.go.id)

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, pada tahun ini La Nina diperkirakan akan berdampak pada curah hujan yang meningkat selama periode musim hujan. “Kita harus bersiap menyambut kehadiran La Nina 2021/2022 yang diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah-sedang, setidaknya hingga Februari 2022,” ungkap Dwikorita dalam konferensi pers  yang digelar 18 Oktober 2021.

Berdasarkan monitoring BMKG pada awal Oktober 2021,  data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, menunjukkan nilai anomali melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar -0.61. Kondisi ini berpotensi untuk terus berkembang dan kita harus segera bersiap menyambut kehadiran La Nina 2021/2022 yang diprakirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah – sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

Didasarkan pada kejadian La Nina tahun 2020 lalu, hasil kajian BMKG menunjukkan bahwa curah hujan mengalami peningkatan pada November-Desember-Januari terutama di wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan. La Nina tahun ini diprediksikan relatif sama dan akan berdampak pada peningkatan curah hujan bulanan berkisar antara 20 – 70 persen di atas normalnya.

Baca Juga :  Ketika Bendungan Alam di Kaki Gunung Arjuno Jebol

Secara umum, sampai dengan bulan November 2021, BMKG memperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia memasuki musim hujan. Lantas, pada akhir Desember 2021 meluas hingga 96,8 persen wilayah di Indonesia.

Potensi meningkatnya curah hujan bulanan dikatakan oleh BMKG akan terjadi terutama di wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan, juga Sulawesi bagian selatan pada November hingga Januari.

Curah Hujan 80,3 Milimeter Dua Jam di Kota Batu

Sebelum banjir bandang, terjadi hujan yang sangat deras di Kota Batu pada Jumat (4/11/2021) sore. Berlangsung pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, intensitas curah hujan mencapai 80,3 milimeter. “Secara intensitas masuk kategori ekstrem,” kata Miming Saepudin, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG dikutip dari liputan6.com

Hasil analisis citra satelit dan radar cuaca, curah hujan dengan intensitas yang lebat di Batu diakibatkan oleh adanya pertumbuhan pembentukan awan hujan berjenis cumulonimbus. Itu menjadi pemicu kondisi cuaca ekstrem wilayah tersebut.

Pihaknya memprakirakan bahwa untuk sepekan ke depan, secara umum wilayah Jawa Timur masih akan berpotensi menghadapi cuaca ekstrem yang tidak hanya terjadi di Batu, tetapi juga beberapa wilayah lain di Jawa Timur.

Curah hujan ekstrem ini diperparah dengan rusaknya daerah resapan air di hulu aliran. Hal ini menyebabkan banjir membawa material lumpur, batu dan kayu.  “Curah hujan yang cukup tinggi ini diperparah dengan kondisi tangkapan airnya yang sudah terbuka itu menyebabkan banyak sekali erosi tanah dan batu, kemudian juga kayu-kayu yang memang perlu diperbaiki supaya itu tidak terjadi lagi,” kata Muhammad Rizal, kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas seperti dikutip dari kompas.com.

Perlu Mitigasi Terhadap Potensi Bencana Hidrometeorologi

Dwikorita Karnawi mengingatkan agar pemerintah daerah, masyarakat, dan semua pihak terkait dengan pengelolaan sumber daya air dan pengurangan risiko bencana yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak La-Nina, agar bersiap segera untuk melakukan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap peningkatan potensi bencana Hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung ataupun terjadinya badai tropis

Baca Juga :  BPBD Jombang Minta Masyarakat Antisipasi Bencana Sejak Dini

Salam pembuka La Nina memang sudah dirasakan dampaknya. Tak hanya di Batu, banjir juga terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Seperti di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, kemudian Garut, Jawa Barat dan Kalimantan Timur.

BMKG menghimbau masyarakat untuk lebih waspada lagi pada periode puncak musim hujan yang diperkirakan akan lebih dominan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022. Pencegahan dan mitigasi terkait potensi bencana Hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga puting beliung harus segera disiapkan oleh berbagai komponen dalam masyarakat.

Baca juga berita Lipsus terkait:

Menelisik Sebab Musabab Air Bah yang Menerjang Kota Batu

Banjir bandang yang menerjang Kota Batu Kamis (4/11/2021) sore terhitung paling dahsyat di kota wisata tersebut. Berbagai pihak berupaya menelusuri apa penyebab banjir bandang untuk mengantisipasi kejadian serupa di kemudian hari.

Selengkapnya

Salam Pembuka La Nina yang Menyapa Batu

Bermula dari hujan ekstrem mencapai 80,3 milimeter selama dua jam. Banjir Bandang Batu yang merenggut tujuh nyawa dan merusak puluhan rumah bagian awal dari La Nina. BMKG memprediksi puncak La Nina pada Januari – Februari 2022.

Selengkapnya

Ketika Bendungan Alam di Kaki Gunung Arjuno Jebol

Hujan berintensitas tinggi akibat dari La Nina membuat kawasan hulu longsor di sejumlah titik yang menyebabkan terjadinya bendungan alam pada aliran sungai.

Selengkapnya

 

150 Hektar Beralih Fungsi, Hambat Resapan Air di Bagian Hulu

Banjir bandang Batu merupakan dampak dari alih fungsi lahan pada kawasan resapan air. Data WALHI menyebutkan, sekitar 150 hektar kawasan hutan pada hulu sungai dialihfungsikan menjadi ladang dan lahan pertanian.

Selengkapnya

Strategi Pemkot Batu Mengantisipasi Banjir Bandang Susulan

Jangka pendek, Pemkot Batu akan melakukan susur sungai untuk memantau bendung alam dan pembersihan pohon tumbang. Berikutnya, mengupayakan untuk menjaga resapan air di hulu.

Selengkapnya

 

Editor: Danu Sukendro

Kanal Terkait