Rocky Gerung Versus Rhenald Kasali Debatkan Hoaks, Warganet: Seharusnya Kasih Waktu Panjang Bung... - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA

Rocky Gerung Versus Rhenald Kasali Debatkan Hoaks, Warganet: Seharusnya Kasih Waktu Panjang Bung…

Dua akademisi yang sama-sama memiliki reputasi di bidangnya masing-masing, akhirnya berhadapan. Rocky Gerung yang mengusung akal sehat dan membuatnya dijuluki presiden akal sehat berhadapan dengan guru besar UI Rhenald Kasali, dalam acara debat ILC, Selasa (26/03/2019) malam tadi.

Sayangnya, debat kedua akademisi tersebut tidak diberi waktu panjang. Ping pong adu argumentasi keduanya dibatasi waktu.
Hal inilah yang membuat warganet menyayangkannya. Padahal, adu akal sehat dari dua sosok tersebut cukup dinanti masyarakat maupun warganet.

“Seharusnya debat beliau berdua diberi waktu lebih lama, jadi biar ketahuan mana yang Profesor asli dan abal-abal,” tulis @jo_hendra di @ILVtv1.
Senada, @FalsSuara pun menyayangkan hal tersebut, “Kenapa direhat pak @karniilyas…Ulasan menarik dua akademisi toh, Harusnya beri waktu lagi tadi mereka saling berargumen,” komentarnya.

Debat Rocky Gerung versus Rhenald Kasali dimulai saat Karni Ilyas memberikan waktu kepada guru besar UI ini. Dimana, Rhenald Kasali merasa kecewa dengan arah debat yang mengusung tema hoaks dibasmi dengan UU Terorisme. Rhenald pun menyampaikan, bahwa dunia diciptakan  dari awal dari kebohongan. “Hoaks itu strategi Iblis. Dimana strategi ini sedang memporak-porandakan dunia saat ini. Inggris, Italia, Perancis sedang diracuni hoaks ini,” ucapnya.

Rhenald pun menyampaikan definisi hoaks menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) yang mengartikan bohong. Sedangkan definisi hoaks dalam sains adalah kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. 

Baca Juga :  Anggaran Tak Terduga Pemkot Malang Bakal Ditambah Rp 35 Miliyar

Di titik itulah Rocky pun memberikan tanggapan mengenai asal usul hoaks yang dikatakan jahat oleh Rhenald. Rocky menyampaikan, kata hoaks muncul dari Profesor Fisika Alan Sokal saat dirinya menguji standar intelektual akademisi humaniora Amerika Serikat. Melalui paper karyanya sepanjang 39 halaman yang ditulis asal-asalan berjudul Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity. Serta dipublikasikan oleh Social Text, jurnal ternama di Amerika Serikat, pada edisi ke-46/47 Spring-Summer 1996.

“Itu untuk menguji para redaktur itu punya otak apa enggak. Ternyata enggak punya. Sekarang kita ajukan ujian kepada kekuasaan dan kekuasaan bereaksi negatif,” ujar Rocky yang sesekali dibantah Rhenald dengan kata-kata, “Bukan, bukan. Saya akan koreksi Anda,” sambil geleng-geleng kepala.

Rocky melanjutkan, “Kalau hoaks itu pekerjaan Iblis, lalu yang menjanjikan Rp 50 juta ke rakyat Lombok itu presiden atau Iblis?”.
Rhenald pun angkat bicara dengan menyampaikan bahwa referensi itu jangan hanya satu. “Anda harus banyak baca buku. Anda harus banyak referensi, kalau hanya satu referensi jadinya seperti ini,” ujarnya sambil menegaskan kalau referensi hanya tinggal jadinya berbahaya.

Debat yang ditunggu-tunggu masyarakat pun akhirnya terhenti saat Karni Ilyas menghentikan sesi tersebut. Hal inilah yang disayangkan oleh warganet. Padahal, debat dua akademisi tersebut terbilang cukup berbobot dan akan menampilkan pengetahuan baru bagi masyarakat terkait hoaks. Walaupun dengan gaya khasnya Rocky kembali melontarkan kata-kata dungu.

Baca Juga :  Level PPKM Kota Malang Turun, BOR Tinggal 22 Persen

Tapi, kata @UnderGrounderN1 debat kedua profesor tersebut merupakan sesuatu yang menarik. “Bagi yg mau koment hendaknya dinonton, diamati, dijalankan analisanys…agar dpt memahami dan mendapatkan  titik pointnya. Prof @rockygerung dan prof @Rhenald_Kasali sama² pelaku akademisi. Hormat saya untuk ke 2 nya,” tulisnya.

Pun @2019_wisnuPAS berkomentar, “Akhirnya….kemajuan dari dunia berpikir kita, ketika dua insan berargumen menggunakan data dan sangat ilmiah…Mantab…semoga besok2 akan ada tokoh2 yg dapat mengimbangi RG…”.

Seperti diketahui dalam menyikapi wacana penyebar hoaks bisa ditindak melalui UU Terorisme, Rocky menyampaikan, hal tersebut dikarenakan terjadinya kekurangan pikiran di pemerintah. Hal ini yang juga menyebabkan lahirnya rezim otoriter. Hoaks bagi Rocky lahir karena akses informasi tertutup dan ketidakbebasan. Sehingga masyarakat memproduksi kebebasan alternatif.

Sedangkan untuk melawan hoaks tidak perlu adanya hal seperti yang disampaikan Menko Polhukam Wiranto. “Tapi melawan hoaks adalah dengan menambahkan jumlah pikiran yang beredar di publik,” tegas Rocky.

Sedangkan Rhenald menyampaikan dengan metafora terjungkalnya Adam dan Hawa dikarenakan bisikan Iblis yang menyebarkan kebohongan terkait buah Khuldi. Strategi Iblis sejak nenek moyang manusia ini terus berlangsung sampai saat ini dengan kekuatan teknologi. Rhenald juga mencontohkan berbagai negara yang juga sedang melawan hoaks yang membuat masyarakatnya cemas.

Kanal Terkait