Ritual Tolak Pagebluk, dari Doa Lintas Agama, Mocopat hingga Tarian Dugder - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
IMG20210804203829-1013ec7d
Tarian Dugder sebagai bagian dari ritual Tolak Pagebluk (foto: Anis Firmansyah)
Kanal Feature Kanal Highlight

Ritual Tolak Pagebluk, dari Doa Lintas Agama, Mocopat hingga Tarian Dugder

Tak sekadar kebijakan preventif dan upaya medis yang bisa dilogika, ikhtiar spiritual juga dilakukan untuk mengusir pagebluk Covid-19. Seperti dalam doa lintas agama dan ritual tolak pagebluk di Situs nDalem Pojok, Kabupaten Kediri. 

Anis FirmansyahSatukanal.com

Berbagai konsep unik yang dirangkai dalam doa bersama dan ritual digelar di Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (4/8/2021) malam.

Di depan pohon Kanthil,  rangkaian lampu ublik disusun, menggambarkan kepulauan Indonesia.  Sejumlah tokoh agama dan aliran kepercayaan berderet di hadapan rangkaian cahaya ini. Mereka bergantian membaca doa. Disusul tarian Dugder yang diyakini bisa mengusir pagebluk.

Setelahnya, seseorang membacakan mocopat tembang Jawa diikuti dibukanya tombak Kyai Sidem. Pusaka peninggalan eyang RMP Soemoatmodjo, leluhur keluarga Situs nDalem Pojok yang tak pernah dikeluarkan itu, lantas dibawa berkeliling halaman situs. Doa bersama diakhiri dengan makan nasi tumpeng bersama-sama.

Baca Juga :  Yuk, Kunjungi Pameran Seni ARTFLAG di Gedung Dewan Kesenian Malang

“Kita ingin membantu pemerintah untuk bersama-sama menyelamatkan masyarakat kecil dari dampak corona. Kita prihatin orang kecil  sulit mencari nafkah,” ungkap Ari Hakim, ketua panitia.

Dia juga menyebutkan doa bersama ini dilakukan berdasarkan Pembukaan UUD 1945 bangsa Indonesia. Menyatakan dirinya bukan hanya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa saja, tapi bangsa Indonesia juga percaya bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu adalah Allah Yang Maha Berkat dan Maha Rahmat.

Baca Juga :  Ngopi Asyik sembari Menikmati Kesejukan Hutan Pinus di Kafe Alas Pacet Mojokerto

Menurut Hakim, dampak besar akibat virus corona  menghantam hampir disemua sektor. Baik sosial, ekonomi, politik, ketahanan nasional, pendidikan bahkan sampai kepada mental masyarakat.

“Maka kita berdoa keyakinan masing-masing kita bersama-sama memohon agara masyarakat terbebas dari dampak Corona,” terangnya.

Dari gelaran pentas, selain doa-doa berupa ucapan lesan ada juga, mantra, pusaka, sesaji, aji-aji, ramuan, tembang. Bahkan ada doa dalam bentuk lagu, syair, puisi, tari-tarian, rajah, benda-benda dan lain sebagainya.

Nah, permohonan yang berada di dalam jiwa ini kan  bisa dilambangkan dengan macam-macam cara, dan juga bisa menggunakan macam-macam sarana. Inilah kearifan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (*)

Editor : Danu Sukendro

    Kanal Terkait