Rangkul Kaum Millenial, Sawahrojo Art Farming jadi Sawah Modern - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Rangkul Kaum Millenial, Sawahrojo Art Farming jadi Sawah Modern
Sawahrojo Art Farming, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu (Foto: Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Rangkul Kaum Millenial, Sawahrojo Art Farming jadi Sawah Modern

Satukanal.com, Batu – Berlokasi di Sawahrojo Art Farming, Hamparan sawah dengan warna yang berbeda setiap petaknya. Semua tertata rapi dipadu bersama keindahan yang elok ditatap mata.

Sawah modern yang terletak di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, tepatnya di belakang Balaikota Among tani ini, merupakan salah satu garapan para milenial yang memanfaatkan kecanggihan teknologi masa kini.

“Konsep dari tempat ini adalah pertanian dengan teknologi yang juga digarap oleh para milenial. Wisatawan yang datang kesini akan disuguhi pengalaman dan pengetahuan tentang bertani,” terang Founder Sawahrojo Art Farming, Herman Aga.

Selain itu, menurut Herman, selama ini mereka menggunakan sistem membership untuk wisatawan yang akan datang. “Jadi mereka akan memesan lewat website yang ada. Dengan itu mereka bisa belajar menanam, merawat sekaligus memanen yang sulit didapatkan di tempat lain,” ucapnya.

Sewa kelola lahan yang diterapkan membuat para penyewa tidak akan kerepotan dan mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan. Ada dua paket yang disediakan untuk pengunjung.

Paket pertama, luas 50 meter persegi dengan biaya Rp. 3 juta dan luas 100 meter persegi dengan harga Rp. 5 juta. Kurang lebih terdapat sepuluh pekerja yang rutin merawat tanaman tersebut sampai panen.

Selain dapat menyuguhkan wisatawan akan pengalaman baru, hadirnya trobosan ini juga menguntungkan bagi petani. Pria yang lekat dengan topi ini menyebutkan, jika petani diuntungkan dengan penjualan hasil sawah yang pasti.

“Kalau dikelola sendiri mereka banyak merugi. Karena harganya selalu mengikuti tengkulak, tapi disini harga yang ada sudah pasti,” katanya.

Baca Juga :  Pasca Lebaran, Kondisi Vila Songgoriti Berangsur Normal

Luas lahan yang ada total yaitu 4000 meter persegi. Mereka juga menyediakan lebih dari 27 varian tanaman. Contohnya tomat, cabai, terong dan paprika. Penyewa lahan bebas memilih tanaman yang akan ditanam di tempatnya.

“Saat ini tanaman masih kecil, tapi kalau sudah besar akan terlihat keindahannya. Dengan warna tanaman yang berbeda dan tertata rapi akan memunculkan art yang dimaksudkan,” ucapnya.

Hal lain yang diharapkan dari adanya Sawahrojo ialah sebagai konservasi para petani supaya tetap mempertahankan sawahnya. “Harga stabil, jadi petani tak ada niatan untuk jual lahan. Kalau terlalu banyak sawah yang dijual, dampaknya akan parah,” imbuhnya.

Kaum millenial yang hadir, tentu memberi sumbangsih yang tinggi. Mereka mengolah sistem pertanian dan pemasaran berdasarkan era digital yang sedang berjalan kini. Contohnya adanya alat pengukur kelembapan.

Kelebihan alat pengukur kelembapan ini jika kelembapan tanaman dirasa kurang, maka mesin secara otomatis akan menyemprotkan air. Ada juga sistem menanam beberapa tanaman berbeda di satu lahan.

Selain untuk tujuan art farming, hal tersebut juga turut menguntungkan para petani. Sebab, para petani bisa selalu melakukan panen sewaktu-waktu. Lantaran waktu panen yang berbeda disetiap tanamannya.

“Hasil panen yang pasti juga menguntungkan bagi petani. Karena ide awalnya pun karena kepedulian kami akan nasib petani yang hampir selalu merugi,” kata pria yang juga aktif di komunitas Sabers Pungli itu.

Para pemuda yang ada juga turut aktif dalam kegiatannya. Meski tidak secara langsung terjun ke sawah mereka ambil bagian dalam pemasaran produk, promosi dan inovasi.

Baca Juga :  Harkitnas Diharapkan Jadi Momentum Untuk Bangkit dan Bersatu

“Awalnya karena bosan tidak ada sekolah. Saat ditawari, langsung saya terima karena mengurus pertanian adalah sesuatu yang beda dilakukan anak muda,” jelas salah satu petani millenial, Fadillah Akbar. Ia mengaku sangat antusias dan menikmati pengalamannya akan hal baru.

Kini, ada 9 anak muda yang ikut dalam pengelolaan Sawahrojo. Dengan rata-rata umur 17 tahun, sudah banyak ide dan inovasi yang dituangkan. Salah satu contohnya adalah dengan menciptakan sawahrojo.com.

Melalui laman web tersebut, para petani bisa memasarkan hasil panennya secara luas dan tanpa takut harga hasil panen tanamannya anjlok.

Sementara, Database juga dipersiapkan guna mengetahui klasifikasi varian tanaman dan tempat lahan. Tujuannya agar para member dapat memilih tempat juga tanaman sesuai dengan yang diinginkan.

“Harga pasti stabil karena kami jual dari petani langsung ke konsumen,” imbuhnya.

Ditengah jadwal sekolah yang akan mulai kembali pulih, mereka tetap bisa mengontrol lahan lewat smart phone-nya. Sudah ada aplikasi yang disiapkan untuk mendeteksi kesehatan tanaman memanfaatkan era digital.

Konsep pertanian modern akan terbentuk dengan sistem yang telah terkondisi. Pengalaman akan suasana pertanian yang akan diperoleh secara langsung sekaligus edukasi, menjadi point pentingnya. Diharapkan kolaborasi antara pertanian dan wisata menyulap kembali Kota Batu menjadi agrowisata seperti dulu.

 

 

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait