Rahasia Cita Rasa Kopi Khas Lereng Wilis - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Kopi Robusta dan Arabika Gunung Wilis Banyak Digandrungi Penikmat Kopi
Umi Niati saat memetik kopi di ladang miliknya (Foto: Ubaidhillah/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature

Rahasia Cita Rasa Kopi Khas Lereng Wilis

Satukanal.com, Kediri – Matahari belum menunjukan sinarnya, saat itu kawasan wisata Air Terjun Irenggolo yang berada di lereng Gunung Wilis, Desa Besuki, Kecamatan Mojo masih diselimuti kabut pekat. Sesosok wanita paruh baya terlihat membawa sebaskom penuh biji kopi berjalan di ladang yang memiliki tingkat kemiringan yang cukup tinggi.

Rupanya perempuan tersebut adalah Umi Niati pemilik Giras (Warung Kopi) di dalam area wisata Air Terjun Irenggolo. Ladang miliknya memang agak curam, karena berada di pinggiran tebing yang cukup terjal.

Kebiasaannya memetik kopi di pagi buta ini dilakukan bukan tanpa sebab, itu lantaran biji kopi harus segera diolah agar rasa kopi khas wilis ini keluar.

Kopi yang di petik perempuan 50 tahun ini bukan kopi biasa pada umumnya, namun kopi ini merupakan jenis kopi robusta lereng Gunung Wilis yang sedang digandrungi para penikmat kopi di sekitar Kediri.

“Saya sengaja memetiknya di pagi hari, karena kopi ini harus segera diolah dan segera di keringkan di panas matahari. Kalau ditunda pengolahannya rasa khas kopi ini tidak bisa keluar,” ujar Umi kepada Satukanal.com di ladang miliknya yang ada didalam kawasan wisata Air Terjun Irenggolo, Senin, (14/6/2021) pagi.

Menurut Umi, kopi robusta wilis sangat berbeda dengan kopi robusta pada umunya. Sebab ada rasa gurih, pahit dengan sedikit kandungan asam yang melekat pada kopi wilis ini. Karena itu banyak yang menyukai kopi jenis ini.

Baca Juga :  Tingkat Keterisian Ruang Isolasi di Kabupaten Kediri Hampir 100 Persen
Buah kopi dan Biji Kopi Robusta (Foto: Ubaidhillah/Satukanal.com)

Selama ini kopi robusta wilis miliknya banyak di beli para pemilik kafe di Kediri, Nganjuk, dan sekitaranya untuk dijual kembali. Selain itu kopi ini juga disenangi banyak turis dari asia tenggara yang mampir ke warung miliknya.

Alhasil stok kopi yang ia buat selama satu minggu dengan berat 20 an Kilogram selalu ludes terjual tanpa sisa. “Dalam sehari itu saya biasanya ambil buah kopi di ladang sekitar 5 Kg sehari, kadang lebih kadang kurang. Kalau yang jenis robusta ini 5 Kg buah kopi bisa dijadikan 1 Kg bubuk kopi,” katanya.

Umi mengatakan, satu kilogram Kopi Robusta Wilis miliknya dijual dengan harga Rp. 85 ribu saja. Tak jarang pembeli kopi darinya dijual kembali dengan harga yang lebih mahal dari yang ia jual.

Tak hanya Kopi Robusta, komoditas kopi lain yang tak kalah berkualitas yakni Kopi Arabika yang ditanam dalam satu ladang yang sama. Dua komoditas ini bukan sengaja ia budidayakan namun dahulu dirinya mendapat pelatihan dari beberapa instansi yang akhirnya muncul komoditas Robusta dan Arabika khas wilis.

“Saya dahulu merupakan satu dari beberapa binaan Bank Indonesia Kediri, bibit banyak dari bantuan juga, karena itu saya banyak belajar dan bisa memunculkan produk ini,” tutur Umi.

Berbeda dengan harga kopi robusta, kopi arabika dijual jauh lebih mahal, 1 Kg kopi ini dihargai Rp. 180 ribu. Hal itu lantaran dari sisi bahan jauh lebih banyak membutuhkan biji kopi. Perbandingannya adalah 1 Kwintal biji kopi arabica jika dimasak akan menjadi 1 Kg bubuk kopi.

Baca Juga :  Persik Perkenalkan Tian, Playmaker Anyar Asal Brasil

Menurut dia, dalam pengolahannya tidak ada campuran apapun di setiap bubuk kopi. “Semuanya murni, tanpa tambahan apapun, kalau dicampur pastinya rasa dan aroma akan berbeda,” tukasnya.

Umi meneruskan, selama ini kopi miliknya diberi merk ‘Kopi Alas Kediri, Ayu Putri Wilis’. Bubuk kopi yang sudah jadi biasanya ia jual di lapak miliknya yang ada di Warung Giras sekitar area wisata Air Terjun Irenggolo. Selain itu penjualan juga dilakukan secara online dan ditampilkan di beberapa pekan budaya seperti di Jakarta, Kalimantan, beberapa daerah di Jawa Timur hingga di Negeri China.

“Sementara yang banyak memberi pangaruh penjualan itu online, terakhir kami mengirimnya ke beberapa daerah di luar Jawa Timur, dan mengirimnya di acara pekan budaya,” tuturnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, hampir setiap hari dirinya membuat bubuk kopi tersebut, namun untuk jumlah yang biji kopi tidak menentu, sebab biji kopi yang diambilnya dari ladang tidak selalu berjumla besar.

“Itu karena saya hanya mengambil buah kopi yang sudah matang yang berwara merah saja. Itu dilakukan karena biji kopi yang sudah matang memiliki tekstur yang pas. Dan itu juga yang mempengaruhi rasa kopi kami,” pungkasnya.

 

 

Penulis: Ubaidhillah
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait