Puthu Lanang, Kuliner Legendaris Kota Malang Nan Menggugah Selera - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Puthu Lanang, Kuliner Legendaris Kota Malang Nan Menggugah Selera
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Puthu Lanang, Kuliner Legendaris Kota Malang Nan Menggugah Selera

SATUKANAL.com, MALANG– Saat melintasi kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto Gang Buntu, Kota Malang nampak puluhan orang berbaris berjajar sembari berdiri. Sementara di depannya, seorang bapak paruh baya tengah sibuk menghadap meja berisi aneka sambil terus menggerakkan tanggannya melayani pelanggan.

Itulah Puthu Lanang, kuliner khas Kota Malang sejak 1953 yang tak pernah sepi pengunjung. Meskipun namanya Puthu Lanang, namun yang dijual tidak hanya puthu saja, melainkan ada berbagai jenis kue tradisional lainnya. Seperti, cenil, klepon dan lupis.

Saat berkunjung ke tempat ini , sabar menjadi kunci utama jika ingin menikmatinya. Bagaimana tidak, hampir seluruh peralatan dan cara yang digunakan terbilang sangat sederhana. Untuk memotong lupis misalnya, jemari kanan pekerja memegang sebuh benang sedangkan sisi satunya memegangi sebatang lupis berbentuk silinder berbungkus daun pisang dan kemudan dipotong dengan benang sebagai pengganti pisau.

“Kalau pakai benang lebih rapi mbak, hasilnya juga rapi dan gak lengket,” ungkap salah seorang pekerja Puthu Lanang.

Ada juga  yang menarik selain lupis yakni puthu. Puthu dimasak menggunakan potongan bambu yang diisi dengan adonan tepung puthu dan campuran gula merah, kemudian dikukus di atas tungku sederhana. Sesekali, puthu dicek secara bergantian dan akan diangkat apabila telah matang.

Sedangkan pekerja lainnya tak kalah sibuknya. Menyiapkan daun pisang berlapis kertas minyak yang nantinya digunakan sebagai wadah kudapan itu. Tangannya terlihat cekatan memasukkan klepon, lupis, puthu dan klanting yang ditaburi parutan kelapa dan gula merah cair di atasnya.

Baca Juga :  Selamat! Kota Malang Sabet Penghargaan PPD Predikat Terbaik Kedua Kategori Kota

Untuk itu, Puthu Lanang menjadi salah satu destinasi kuliner wajib yang patut dikunjungi kala berkunjung ke Kota Malang. Meski letaknya di dalam gang kecil, lokasi Puthu Lanang sangat mudah ditemukan. Puthu Lanang berada di ruang terbuka dengan gerobak sederhana yang dilengkapi kursi panjangnya.

Usaha Puthu Lanang ini milik Rini yang dikelola bersama suaminya Siswoyo. Siswoyo sendiri menjadi generasi kedua. Pada tahun 1953, orang tua Siswoyo berjualan puthu berkeliling dari rumah ke rumah. Lantas, membuka warung di lokasi sekarang sejak 25 tahun.

Awalnya warga mengenalnya dengan sebutan warung Puthu Celaket, lantaran lokasinya berada di Celaket. Namun, semenjak warung tersebut diserahkan ke suaminya di tahun 2020, kemudian diberikan nama Puthu Lanang.

“Biasanya namanya kan Puthu Ayu, biar ada pasangannya jadilah nama Puthu Lanang,” tuturnya. Lanang dalam bahasa jawa berarti laki-laki yang menyimbolkan laman dari kata Ayu yang berarti cantik. Tak lupa, Siswoyo juga mendaftarkan hak paten atas merek Puthu Lanang nya tersebut.

Saat ditanya hal apa yang menjadi pembeda Puthu Lanang dengan puthu lainnya, Rini menyebut yaitu terletak pada kualitas keaslian bahan baku yang dijaga sejak dulu. Ia menggunakan bahan-bahan pilihan, tanpa pengawet, aman dan sehat. Sehingga terus menjadi pilihan pelangan hngga sekarang.

Baca Juga :  Satpol PP Tambah Personel Usai Insiden di Rumah Dinas Wali Kota Malang

Selain itu, menurutnya daya tarik lain dari warungnya terletak pada suara yang dikeluarkan saat proses pembuatan puthu. Suara ini tentu menarik perhatian sehingga banyak yang antri membeli kudapan tradisional ini.

Dalam sehari, ribuan potong jajanan ini habs terjual. “Biasanya sampai 500 hingga 600 porsi, ditambah pesanan yang ada dirumah pagi sampai sore,” kata Rini.

Puthu Lanang buka mulai pukul 17.30-22.00 WIB. Namun tak jarang, kudapan ini tiba-tiba habis sebelum jam tutup karena antriannya yang terlalu panjang. Untuk harganya seporsi yaitu 12.000 ribu dan bisa dipilih campur atau satu jenis saja.

Dari proses pembuatannya pun terbilang sulit. Dimulai sejak 04.00 WIB, sebelum fajar dan telah disiapkan bahan baku dan kemudian dioleh untuk dikirim sesuai pesanan. “Sehari menghabiskan bahan baku sekitar 70 kilogram,” katanya melanjutkan.

Wajar apabila banyak wisatawan yang datang dari berbagai daerah untuk mencicipi kuliner tradisional ini. Perpaduan rasa manis dan gurihnya seakan membawa memori ke masa lalu, saat dimana jajanan tradisional menjadi kuliner andalan.

 

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait