Pulau Jawa Rentan Hujan Asam, Sulawesi-Sumatera-Kalimantan Masih Ideal | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
images (1)
Ilustrasi hujan asam di Indonesia (Foto : goriau.com)
BERITA HIGHLIGHT RISET

Pulau Jawa Rentan Hujan Asam, Sulawesi-Sumatera-Kalimantan Masih Ideal

SATUKANAL, MALANG – Memasuki musim penghujan, ada baiknya masyarakat menghindari aktivitas di bawah hujan, terutama di Pulau Jawa. Pasalnya, kadar keasaman air hujan di pulau berpenduduk terpadat ini cukup tinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengategorikan beberapa tingkatan kadar keasaman atau Power of Hydrogen (pH) air hujan. Yakni > 7: pH basa; 6,1-7: air hujan sangat baik, cenderung netral seperti air permukaan; 5,6-6: pH air hujan ideal; 4,1-5,5: hujan asam; 3-4: hujan asam (tinggi); < 3: hujan asam (ekstrem).

Pemantauan tingkat keasaman air hujan (pH) di Indonesia dilakukan di 52 stasiun. Pengambilan sampel menggunakan metode Wet Deposition dan Wet & Dry Deposition dengan alat Automatic Rain Water Sampler (ARWS). Analisis sampel air hujan dilakukan di laboratorium kualitas udara BMKG dengan menggunakan alat ion chromatograph.

Hasilnya, pH air ideal yang berada di kisaran 5,6-6 merupakan kondisi hujan yang jauh dari kadar hujan asam. Di antaranya terjadi di daerah Jalaludin, Gorontalo dengan kadar konsentrasi pH 5,98; Mutiara, Sumatera Barat 5,94; Siantan, Kalimantan Barat 5,65; Supadio, Kalimantan Barat 5,79; dan Indrapuri, Aceh Besar 5,61.

Tercatat pula, konsentrasi pH air hujan terendah adalah di wilayah Semarang dengan kadar pH air hujan sebesar 4,37. Disusul dengan daerah Juanda yang berada di Kabupaten Sidoarjo dengan konsentrasi pH sebanyak 4,61. Serta wilayah Kemayoran yang berada di wilayah Jakarta Pusat dengan konsentrasi pH sebesar 4,71. Keseluruhan jumlah konsentrasi pH tersebut artinya berada dalam kategori hujan asam.

Dilansir dari ilmugeografi.com, hujan asam merupakan sebagai segala bentuk hujan yang memiliki tingkat keasaman atau pH dibawah normal, yakni dibawah 5,6. Di Indonesia sendiri umumnya hujan yang turun memiliki pH normal sekitar 6. Dan hujan asam ini mempunyai kandungan pH di bawah kadar normal tersebut.

Asamnya hujan ini dikarenakan adanya kandungan karbondioksida atau CO₂ yang larut dengan air hujan tersebut dan memiliki bentuk sebagai asam lemah.

Adapun ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh hujan asam ini antara lain memiliki pH di bawah kadar normal, yakni dibawah 5,7. Terjadi karena adanya peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat yang ada di dalam polusi udara, terjadi karena peningkatan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang ada di atmosfer.

Jika tubuh terkena paparan hujan asam, bisa meningkatkan seseorang terserang gangguan jantung dan juga paru-paru. Juga kulit menjadi gatal- gatal dan memerah, serta beresiko menyebabkan pusing bagi orang dengan tingkat kekebalan tubuh yang rendah.

Hujan asam secara alami dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa, dan laut. Namun, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia).

Gas-gas yang dihasilkan oleh proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.

Melihat banyaknya dampak negatif dari hujan asam sebaiknya menghindari kegiatan yang memicu hujan asam. Seperti banyak menggunakan bahan bakar yang rendah kandungan belerang, menggunakan bahan bakar secara bijak. Mengurangi emisi gas SO2 dan NOX serta mengurangi penggunaan sulfur sebelum melakukan kegiatan pembakaran. Bila telah terjadi hujan asam setidaknya hindari semaksimal mungkin terkena air hujan.

Pewarta : Sherla Naya
Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait