SATUKANAL.COM
Predator Berkedok Investasi
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Predator Berkedok Investasi, Berikut Tips Cegah jadi Korban Dari Pakar Ekonomi IAIN Tulungagung

Satukanal – Predator Berkedok Investasi, Berikut Tips Cegah jadi Korban Pakar Ekonomi IAIN Tulungagung. Satgas Waspada Investasi (SWI) pada bulan April 2020 lalu menghentikan belasan usaha investasi ilegal. Salah satunya adalah Auto Gajian yang berpusat di Tulungagung.

Polres Tulungagung juga telah menerima surat dari OJK (otoritas jasa keuangan) terkait hal itu. Kapolres Tulungagung pun mengimbau agar masyarakat waspada dengan usaha investasi ilegal ini.

Menanggapi hal itu, Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung, Siswahyudianto, M.M yang sekaligus pemerhati perekonomian masyarakat desa memberikan tips, agar terhindar dari investasi ilegal.

Menurut pria bertubuh tambun ini, masyarakat Tulungagung khususnya ditawari investasi yang membuat investor mabuk kepayang oleh penawaran keuntungan yang aduhai di tengah sulitnya mencari uang di masa pandemi covid 19.

“Hal ini dimanfaatkan oleh segelintir oknum untuk membalikkan otak yang serba kebingungan untuk mencukupi kebutuhan,” ujarnya.

Di sinilah secara psikologis rasionalitas dikalahkan dengan emosi. Bila logika manusia sudah mencapai titik jenuh dengan berbagai usaha namun tidak berhasil, maka manusia akan dikalahkan dengan emosi.

Predator Berkedok Investasi

Investasi memang satu cara paling efektif untuk meraih keuntungan. Bahkan melalui investasi, seseorang bisa menyuruh uangnya “bekerja”. Jadi uang mencari uang, bukan Anda mencari uang, baik itu bekerja atau berwirausaha. Namun dalam kenyataannya investasi juga bisa membuat seseorang kehilangan kesejahteraan yang dimiliki. Karena investasi memiliki sisi gelap yang berkaitan dengan kepribadian seseorang.

Dalam investasi tidak ada yang gratis, tidak ada imbal balik hasil yang besar yang tidak diikuti oleh resiko yang besar. Apalagi jika pengelolaan dana tidak dilakukan dengan transparan, bisa dipastikan ada sesuatu di balik pengelolaan dana tersebut. “Investasi model seperti ini bisa dikatakan menggunakan skema ponzi,” terangnya.

Baca Juga :  Tak Terdampak Pandemi, Gubernur Jatim Apresiasi Sentra Tenun Ikat Bandar Kidul

Apa itu ponzi?  Itu sebetulnya nama belakang dari sang penipu legendaris, Charles Ponzi. Dia menanamkan persepsi terhadap produk yang dia tawarkan. Apa persepsi itu? Fantasi. Cara mudah kaya tanpa masalah rumit. Yang penting uang anda keluar, dan anda akan dapatkan uang lebih besar dalam waktu tertentu.

Sebetulnya tidak ada penghasilan real dari Ponzi, melainkan mendapatkan uang dari persepsi orang. Dari sanalah dia membayar janjinya. Semakin lama operasi ponzi itu semakin besar korban, dan semakin sulit untuk memenuhi janjinya. Sampai akhirnya jatuh berkeping keping, dengan korban tak terbilang.

Umumnya skema ponzi ini butuh trust dari publik. Caranya? menggunakan cara berpikir  Machiavellianisme dan narsisme. Yaitu kemampuan mempengaruhi orang banyak dengan cara berbohong. Hebat dalam retorika dan paham bagaimana meyakinkan persepsi  kepada orang lain, bagaimana jalan untuk meraih obsesi dan fantasi dengan mudah.

Media massa juga berperan menanamkan persepsi fantasi kepada orang banyak dengan menampilkan kehidupan glamor dari para pengelola beserta mereka yang sudah sukses bergabung dalam skema ponzi ini. Ya kebanyakan narsisme.

“Makanya jangan kaget bila mereka juga menggandeng patron. Itu bisa saja politisi, tokoh agama, artis, dan para seleb kaya raya,” terang Siswahyudianto.

Misal Madoff menggunakan tokoh gereja agar orang membeli produk investasinya. Pernah juga investasi emas menggandeng oknum MUI. First travel menggunakan ustaz untuk ikut memasarkan Umrah murah. Properti syariah juga sama menggunakan ustaz kondang. MeMiles menggunakan artis tenar sebagai endorsement. Jiwasraya menggunakan bank sebagai perantara. Itu semua karena ponzi butuh trust. Agar orang malas berpikir dan mudah jadi korban buruan.

Baca Juga :  Kabupaten Kediri Sudah Zona Kuning

Sebetulnya sambung Siswahyudianto, mudah sekali terhindar dari skema Ponzi. Yaitu cukup perhatikan dua hal. Pertama, percayalah tidak ada yang mudah. Apapun itu kalau mudah, itu artinya anda sedang dibohongi.

Kedua, untuk sadar hal yang pertama, gunakanlah akal sehat. Selagi akal anda berfungsi, siapapun yang berusaha menanamkan persepsi tentang ide kepada anda, dapat dengan cepat anda tahu bahwa anda sedang berhadapan dengan predator.

“Segeralah menghindar. Sebetulnya dua hal tersebut harus jadi mindset keseharian anda. Bukan hanya dalam mendeteksi bisnis ponzi tetapi juga dalam kehidupan keseharian, dalam bidang politik, agama, dan sosial,” paparnya.

Bagaimanapun pengawasan terhadap berbagai bentuk tawaran investasi tidaklah mudah dilakukan. Keterbatasan jangkauan aparat menjadi kendala di lapangan.

Oleh sebab itu, pembatasan praktik ilegal investasi bodong ini ada pada diri investor itu sendiri. Dengan semakin memahami permasalahan dalam investasi, menjadikan anda tidak mudah terjerumus dan terjebak dalam berbagai bentuk tawaran investasi bodong.

Apalagi di era sekarang serba digital, investor harus cerdas dalam menggunakan media elektronik. Sebelum memutuskan anda bisa menggunakan review tentang tawaran investasi tersebut melalui mesin pencari internet yang anda gunakan.

Editor : Redaksi Satukanal

 

Kanal Terkait