PPKM Darurat, Penjualan Makanan Take Away Berpotensi Merugi - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
PPKM Darurat, Penjualan Makanan Take Away Berpotensi Merugi
Mie Kober  yang terletak di Jalan PK Bangsa Kota Kediri (Foto: Anis Firmansah/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

PPKM Darurat, Penjualan Makanan Take Away Berpotensi Merugi

Satukanal.com, Kediri – Kebijakan take away untuk makanan ataupun minuman selama PPKM Darurat, nyatanya tak berdampak menguntungkan bagi penjual makanan di Kota Kediri. Bahkan, beberapa di antaranya harus mengurangi gaji karyawan, untuk meminimalisir potensi kerugian.

Muhammad Zulkifli, salah satu Supervisor Mie Kober  yang terletak di Jalan PK Bangsa Kota Kediri, mengaku bahwa penjualanya mengalami penurunan pendapatan secara drastis. Dari semula, sebelum kebijakan PPKM Darurat bisa mencapai 100 persen.

Namun, kini menurun hingga 30 persen. “Ya pendapatan kita sekarang sangat kecil, terdampak PPKM Darurat ini,” ungkap Muhammad Zulkifli kepada Satukanal.com.

Bermula pada tahun 2018, gerai Mie Kober ini kerap menjadi tempat nongkrong bagi para milenial kota Kediri. Sebelum penerapan PPKM Darurat oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, dalam sehari setidaknya ada 50 pengunjung yang makan ditempat.

Ditambah lagi, diberlakukan penyekatan di sepanjang Jalan PK Bangsa Kota Kediri mulai pukul 20.00 – 03.00 WIB. Tentu, membuat gerai penjualan miliknya harus ditutup lebih sore dari biasanya. “Kita kan di pinggiran jalan Besar, kalau sudah ditutup udah gak ada yang beli. Kebanyakan Ojol (Ojek Online). Apalagi kalau siang harus take away dibawa pulang,” terangnya.

Baca Juga :  26 Pelanggar PPKM Darurat Jalani Sidang Tipiring

Menurut Zulkifli, aturan bagi penjual makanan secara take away tidak berkontribusi besar terhadap penjualan. Apabila dibandingkan dengan penjualan makan di tempat. Permintaannya pun jauh berbeda yakni berada di bawah 50 persen untuk take away.

Hal tersebut lantaran, kebanyakan orang yang makan di tempat merasakan suasana yang berbeda dan lebih enak. Kecuali kalau orang itu beli dalam jumlah besar, misalnya untuk hajatan. “Sebelum PPKM ada 50 orang lebih makan di tempat. Setelah PPKM gak ada sama sekali, dilarang,” jelasnya.

Baca Juga :  Siap Siap! Bansos PPKM Kota Malang Segera Cair

Dia berharap untuk aturan mendatang tidak terlalu menekan produktifitas para penjual makanan. Terlebih juga sudah mempersiapkan protokol kesehatan (prokes) ketat di lokasi makanan. Seperti, mengatur jarak antar pengunjung, menyiapkan tempat cuci tangan, serta membatasi pengunjung yang makan di tempat hanya 50 persen.

“Setuju seperti aturan pemerintah yang kemarin, menghindari kerumunan. Makan di tempat gak masalah, yang penting jaga jarak dibatasi untuk beberapa persen aja. Biar pendapatan kita gak terlalu merosot,” tegasnya. Dengan kondisi penurunan pendapatan kali ini, dia mengaku karyawan harus menerima dampaknya pula.

Zulkifli mau tak mau harus membebankan gaji kepada para karyawannya. Sebanyak 19 karyawan harus mengurangi jam kerjanya, sehingga gaji yang diterima belum maksimal. “Mungkin dari gaji awal Rp 1 juta menjadi Rp 500 ribu. Karena pendapatan kita menurun lebih dari 50 persen,” tutupnya.

Pewarta : Anis Firmansah
Editor : Adinda

Kanal Terkait