Polemik Penggunaan Obat Ivermectin di RI - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Polemik Penggunaan Obat Ivermectin di RI
ilustrasi Ivermectin, obat terapi Covid-19 (Foto: Satukanal.com)
BERITA Kanal Artikel Kanal Highlight

Polemik Penggunaan Obat Ivermectin di RI

Satukanal.com, Nasional – Polemik Ivermectin sebagai obat Covid-19 belum usai. Baru-baru ini, pernyataan Erick Thohir yang menyebut bahwa Ivermectin telah mendapat izin edar BPOM RI menimbulkan sejumlah kontroversi.

Di sisi lain BPOM telah mengeluarkan informasi penggunaan obat ivermectin melalui laman resminya pada Kamis (10/06/2021). Dimana, dalam informasi tersebut dinyatakan masih diperlukan bukti ilmiah atau uji klinis yang lebih meyakinkan terkait keamanan, khasiat dan efektivitas Ivermectin sebagai obat Covid-19.

Namun, Menteri BUMN Erick Thohir melalui akun instagramnya menyebut jika PT Indofarma, sebagai bagian dari holding BUMN farmasi, telah mendapat izin edar Badan POM RI untuk produk generik Ivermectin 12 miligram yang bisa digunakan untuk terapi penanganan Covid-19.

Pernyataan Erick Thohir

Erick Menyebut bahwa obat Ivermectin, yaitu obat antiparasit. “Yang alhamdulillah hari ini sudah keluar izin edarnya dari BPOM, dan kami terus melakukan komunikasi intensif kepada Kementerian Kesehatan, karena dari studi yang ada Ivermectin ini dianggap bisa membantu dari pada terapi pencegahan,” kata Erick dalam konferensi pers yang dilansir dari akun Instagramnya, Senin (21/06/2021).

Obat yang dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.000 per tablet. Erick menambahkan, Ivermectin adalah obat antiparasit yang sudah digunakan terbatas untuk terapi penyembuhan Covid-19 di berbagai negara dari India, Amerika, juga Indonesia.

Menurut Erick, PT Indofarma siap memproduksi empat juta tablet Ivermectin 12 miligram per bulan setelah mendapatkan izin edar BPOM RI bernomor GKL2120943310A1. Selain Ivermectin, Indofarma telah memproduksi dan memperoleh izin edar antara lain Oseltamivir 75 mg kapsul dan Remdesivir 100 mg injeksi dengan merek Desrem.

Baca Juga :  Perhatikan! Ini Aturan Menikah Saat PPKM Darurat

Akan tetapi, pernyataan Erick yang menyebut Ivermectin telah mendapatkan izin edar BPOM untuk dapat digunakan dalam terapi pengobatan Covid-19 menimbulkan kontroversi.

Pernyataan Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada

Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Gadjah Mada, Zullies Ikawati dilansir dari bbc.com, melihat pernyataan itu menyesatkan atau misleading.

“Izin edar pasti disertai dengan indikasi. Ini menjadi misleading, karena izin edar yang dikeluarkan untuk obat itu dengan indikasi antiparasit atau anticacing tapi kemudian dibungkus atau digunakan untuk Covid-19,” kata Zullies.

Ivermectin pertama kali diwacanakan sebagai obat terapi Covid berdasarkan penelitian di Australia menyebut, obat ini dapat menimbulkan efek antiviral terhadap virus SARS-CoV2 namun baru secara in vitro (laboratorium) dan belum diuji kemanusian, sebut Zullies.

“Memang sudah ada uji klinis beberapa negara tapi bukti klinisnya masih bervariasi. Bahkan WHO belum berani merekomendasikan digunakan manusia, baru dalam koridor uji klinis,” katanya.

Menurutnya, ivermectin tidak salah digunakan untuk terapi Covid-19. Namun, diperlukan kehati-hatian dalam melihat potensi efek samping yang ditimbulkan. efek samping obat ini relatif ringan. Efek samping itu antara lain seperti, nyeri otot, ruam dan demam.

Namun akan berbahaya jika digunakan dalam jumlah besar dan sembarangan oleh masyarakat. Ia menyarankan agar masyarakat menunggu keputusan BPOM terkait izin edar Ivermectin untuk Covid-19 dan menanyakan ke dokter apakah bisa digunakan atau tidak.

Baca Juga :  Seleksi Administrasi CPNS 2021 Segera Diumumkan, Simak Cara Pengecekannya

Pernyataan BPOM

BPOM menyebut dalam siaran persnya, Ivermectin kaplet 12 miligram yang terdaftar di Indonesia untuk indikasi infeksi kecacingan (Strongyloidiasis dan Onchocerciasis) yang masuk dalam kategori obat keras sehingga pembeliannya harus dengan resep dokter dan penggunaannya di bawah pengawasan dokter.

“Data uji klinik yang cukup untuk membuktikan khasiat Ivermectin dalam mencegah dan mengobati Covid-19 hingga saat ini belum tersedia. Dengan demikian, Ivermectin belum dapat disetujui untuk indikasi tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa penggunaan obat ini pada manusia masih baru di Indonesia sehingga BPOM memberikan batas waktu kedaluwarsa selama enam bulan terhadap obat tersebut.

Hal ini juga senada dengan pernyataan BPOM Amerika, yang belum menyetujui penggunaan Ivermectin dalam pengobatan Covid-19. Obat ini hanya disetujui pada dosis yang sangat spesifik untuk mengobati cacing parasit, kutu kepala, dan gangguan kulit wajah seperti rosacea.

Kontroversi Ivermectin sebenarnya sudah lama muncul, seperti pada akhir 2020. Dilansir dari liputan6.com (20/10/2022), dr. Herman Sunaryo MSc dari Departemen penelitian dan Pengembangan PT Harsen Laboratories menjelaskan soal obat infeksi cacing, Iverection.

“Ivermectin ditemukan pada tahun 1975. Obat ini awalnya digunakan oleh veteriner untuk mengobati hewan ternak dan peliharaan yang sakit akibat parasit misalnya heartworm,” katanya, melalui keterangan pers (26/10/2020).

 

 

Pewarta : Adinda
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait