Pokja KIPI Kabupaten Jombang Sebut Kematian Dua Anak Usai Divaksin karena Pendarahan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Konferensi pers oleh pihak Dinkes, RSUD Jombang dan Komda KIPI Jombang di ruang Bung Hatta RSUD Jombang Kemarin.
BERITA Kanal Straight

Pokja KIPI Kabupaten Jombang Sebut Kematian Dua Anak Usai Divaksin karena Pendarahan

Satukanal.com, Jombang – Kasus kematian anak usai divaksin yang menghebohkan Kota Santri, banyak spekulasi bahwa kematian dua anak usai diva

Ketua Pokja KIPI Kabupaten Jombang dr. Soewarsit, menyebut tidak ada keterkaitan kasus kejadian pasca vaksinasi baik yang meninggal maupun yang masih dirawat di RSUD Jombang dengan vaksinasi Covid 19.

“Kematian pertama anak di Kabupaten Jombang pasca vaksinasi Covid 19 disimpulkan tidak terkait dengan vaksin karena pertama, hasil investigasi terhadap kronologis pasien tidak menunjukkan adanya anafilaktik syok akibat vaksin,” ucapnya pada Rabu (5/1/2022).

Kesimpulan tersebut didasarkan pada fakta objektif rentang waktu antara pemberian vaksin dan penurunan kesadaran pasien yang terlalu panjang untuk bisa diklasifikasikan sebagai anafilaktik syok akibat vaksin. 

Kedua, studi literasi tidak menunjukkan peningkatan tekanan pembuluh darah di dalam otak (Tekanan Intrakranial/TIK) sebagai efek samping vaksin Pfizer. Sehingga sangat sulit untuk mengaitkan kasus tersebut dengan vaksinasi Covid 19.

Baca Juga :  Soal Perkataan Arteria Dahlan, Ridwan Kamil: Sudah Ada Permohonan Maaf dan Kita Terima

“Demikian halnya dengan kematian kedua yang terjadi pada anak di Jombang pasca dilakukan vaksinasi juga disimpulkan tidak terkait dengan vaksinasi Covid 19,” katanya. 

Kematian pasien tersebut lantaran adanya perdarahan yang masif. RSUD Kabupaten Jombang sudah berusaha memberikan pertolongan yang optimal kepada pasien namun karena perdarahan yang masif menyebabkan pasien tidak bisa tertolong.

Pokja KIPI bersama Komda KIPI dan Komnas KIPI setelah melakukan audit terhadap kasus anak yang mengalami biduran (urtikaria) pasca imunisasi, juga menyimpulkan bahwa kasus tersebut tidak berkaitan dengan vaksin. 

Pada pasien memang didapati adanya biduran (urtikaria) namun rentang waktu kejadian biduran dengan vaksinasi terlalu panjang sehingga biduran tersebut tidak bisa dikatakan sebagai reaksi alergi terhadap vaksin. 

“Dimungkinkan ada allergen (zat pemicu alergi) lain yang memapar yang bersangkutan sehingga yang bersangkutan mengalami biduran,” jelasnya. 

Komnas KIPI mengklasifikasikan kasus ini sebagai koinsiden (kejadian yang terjadinya secara kebetulan bersamaan dengan pasca vaksinasi).

Baca Juga :  Pemerintah Kota Malang Sediakan 70 Ribu Dosis Vaksin Booster Bagi Warganya

Kasus anak yang mengalami kejang pasca imunisasi yang terjadi di Jombang juga disimpulkan sebagai kasus kejang yang tidak berkaitan dengan vaksin. 

Penelusuran terhadap riwayat penyakit terdahulu pasien didapati ada riwayat kejang pada pasien, hasil pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan oleh RSUD Kabupaten Jombang juga membuktikan bahwa ada penyebab lain yang menyebabkan yang bersangkutan mengalami kejang.

Disebutnya, Pokja KIPI, Komda KIPI dan Komnas KIPI adalah lembaga yang kredibel dan independen yang bertugas untuk melakukan kajian kausal terhadap kejadian yang diduga berkaitan dengan vaksin. 

“Kajian secara profesional terhadap fakta objektif dengan melibatkan para pakar dari berbagai disiplin ilmu terkait menjadi hal terpenting dalam melakukan audit kausal yang dilakukan oleh Pokja KIPI, Komda KIPI dan Komnas KIPI,” pungkasnya.

 

Pewarta: Anggit Puji 

Editor: Ubaidhillah

    Kanal Terkait