PG Mritjan Kediri, Catatan Investasi Asing Hingga Produksi Senjata Militer Jepang | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
PG Mritjan Kediri, Saksi Bangunan Investasi Asing Era Kolonial Belanda
BERITA HIGHLIGHT KOTA KEDIRI LIPUTAN KHUSUS

PG Mritjan Kediri, Catatan Investasi Asing Hingga Produksi Senjata Militer Jepang

SATUKANAL.com, KEDIRI – Terlihat aktivitas masyarakat berlalu-lalang melintasi rel kereta angkut tebu Pabrik Gula (PG) Mritjan yang (masih) beroperasi di Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri.

Masih menjadi bagian bangunan PG Mritjan, sepatah tulisan tahun “1939” di cerobong dan atap Gedung. Menegaskan keberadaanya (kini) menjadi saksi, industri tua yang masih kokoh hingga saat ini.

Menurut sejarawan Sigit Wiatmoko, PG Mritjan merupakan simbol sejarah kejayaan industri ekonomi di wilayah Kediri, dari beberapa industri lain yang tumbuh pada masa kolonial Belanda.

“Mrican penyuplai ekonomi Kediri, yang masih utuh. Lainnnya banyak dibakar oleh rakyat ketika penjarahan. Semua habis,” ucap Sigit, kepada Satukanal.com, Senin (21/12/2020).

PG Mritjan dibangun oleh gabungan investor dari Belanda bernama Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM). Salah satu pengelola industri swasta asing pertama di Jawa timur yang mempunyai banyak industri juga di Pulau Jawa.

Sigit menyebutkan, suburnya potensi pertanian tebu dengan tanah vulkanis, menjadi salah satu alasan utama mendirikan PG Mritjan. Dilanjutkan adanya regulasi dan fasilitas jalan strategis yang menjadi daya tarik bagi investor asing kala itu.

Baca Juga :  Waspadai Lonjakan Harga Pangan Akhir Tahun, TPID Kota Kediri Lakukan Sidak Pasar

Pada tahun 1870, perusahaan swasta berkembang semakin pesat setelah terbit beberapa aturan Undang-undang (UU) Agraria yang menguntungkan bagi para pengusaha. Disebutkan aturan UU, dua diantaranya yakni UU-Budidaya Tebu dan UU-Budidaya Teh.

Beberapa pembangunan fasilitas semakin massif dampak dari aturan UU yang telah di-sah kan. Pembangunan seperti irigasi, pendidikan, dan tenaga industri. Secara tidak langsung menjadi awal pembangunan besar perekonomian industri di Kediri.

“Investor di wilayah Kediri terfasilitasi regulasi (aturan) Akhirnya bermunculan spot industri dimasyarakat. Salah satunya Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM). Mereka (Pabrik investor Belanda) tertarik karena untungnya besar, juga tanah subur vulkanis,” ucap Sigit, dengan nada lantang.

Saat krisis dunia tiba, (masih) kata Sigit saat tahun setelah 1903. Sangat berdampak ke seluruh negara, hingga dilanjutkan pada tahun 1933 terjadi perang dunia pertama dan kedua semakin mencengkram di seluruh penjuru dunia. Begitu pula, PG Mritjan sangat terdampak hingga mangalami kebangkrutan.

Sigit juga menyampaikan, catataan sejarah PG Mritjan menjadi perebutan oleh penjajahan Jepang tahun 1939. Dikosongkan serta di alih fungsikan sebagai produksi senjata, penyokong kebutuhan militer Jepang.

Baca Juga :  Dinsos Kabupaten Kediri, Lakukan Koordinasi dengan 9 Desa Ekslokalisasi PSK

Lanjut setelah kekalahan Jepang, dilakukan penyerahan kembali perekonomian kepada Belanda. “Dan diambil alih lagi oleh Belanda. Adanya pengambil alihan kekuasaan Belanda ke Indonesia setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Menjadi hak milik Indonesia, dan sejak itu dikelola oleh PTPN (PT Perkebunan Nusantara),” tegasnya.

Secara historis keberadaan cikal bakal Pabrik Gula (PG) sudah banyak yang habis di hancurkan. Disebutkan oleh Sigit, beberapa bekas industri yang sudah habis seperti, PG Purwoasri, PG Plemahan, PG Bendo, PG Minggiran,

“Setelah kemerdekaan 1945, pabrik-pabrik asing swasta semakin tidak jelas kepemilikannya. Tahun 1948, pembakaran dan penjarahan besar-besaran terjadi dimana-mana. Tak lain juga di Kediri,” tambahnya.

Dikatakan keberadaan PG Meritjan ini, sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia. Sempat mendapat istilah ‘Kediri kota besar, dengan 1000 pabrik’, pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1830 silam.

Pewarta : Anis Firmansah
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait