Pesona Batik Tulis Malang, Padukan Gaya Kekinian dan Eksistensi Budaya | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA KABUPATEN MALANG

Pesona Batik Tulis Malang, Padukan Gaya Kekinian dan Eksistensi Budaya

Batik sebagai warisan besar bangsa Indonesia memang selalu menjadi kebanggaan sendiri. Bukan hanya masyarakat Indonesia. Tak sedikit warga asing dan tokoh dunia yang merasa bangga saat mengenakan kain batik. Ini menunjukkan eksistensi batik di kancah global terus meroket dari waktu ke waktu.

Jika ditelusuri, tentunya ada banyak motif batik tulis yang diciptakan para perajin batik. Motif-motif pakem yang dipadukan dengan gaya kekinian tentunya juga menjadi salah satu pilihan. Itu sebabnya, batik saat ini tak hanya bercorak monoton. Tapi lebih beragam dengan penggunaan warna yang lebih berani.

Salah satu contohnya adalah batik Liris Tlogosari karya warga Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Motif batik yang mengangkat tema kekayaan desa itu pun telah mendapat banyak apresiasi secara lokal, nasional, maupun internasional.

Owner Batik Lintang Ita Fitriyah ST yang juga berperan menciptakan Liris Tlogosari bercerita, motif tersebut diambil dari pohon tlogosari yang hampir punah. Pohon tersebut dulunya tumbuh subur di kawasan Dusun Telaga, Desa Ngijo.

Namun saat ini pohon Tlogosari memang sudah tak sebanyak dulu, bahkan tergolong hampir punah. Sehingga untuk mengenalkan pohon yang khas akan aroma wanginya itu, Ita dan perangkat desa sepakat untuk mengangkat tema Tlogosari dalam perlombaan yang digelar Pemkab Malang pada 2018 lalu.

“Alhamdulillah saat itu menang kategori desain terbaik dengan beberapa motif lain yang dikembangkan masyarakat,” kata Ita saat ditemui digaleri miliknya.

Meski telah diakui, sampai saat ini motif yang dia ciptakan itu sama sekali belum didaftarkan untuk ditetapkan hak patennya. Ita berpendapat yang berhak mematenkan motif Liris Tlogosari adalah atas nama Dusun Telaga, Desa Ngijo, meski dia berperan untuk menciptakan motif batik tersebut.

“Motif tersebut diciptakan bersama untuk kemaslahatan masyarakat. Sangat egois jika harus saya yang mematenkan. Nanti akan dipatenkan oleh desa, tapi memang sampai sekarang belum berproses ke sana,” ungkap perempuan berhijab itu.

Hal itu juga Ita lakukan untuk sederet motif lain yang ia ciptakan. Sampai saat ini, ia belum berpikiran untuk mematenkan setiap karyanya. Baginya, goresan warna dan canting yang ia sematkan di atas kain selalu memiliki makna dan tujuan. Salah satu yang terpenting baginya adalah kemaslahatan masyarakat.

“Kalau saya patenkan, ketika saya meninggal, maka akan berhenti di saya. Tapi jika ditularkan, maka akan terus dikenal,” kata alumnus ITN Malang itu.

Berkarya dengan batik tulis, menurut Ita, memang bukan hal yang mudah dan juga tak sulit. Terlebih di era global seperti sekarang,  ada banyak teknologi baru yang diciptakan untuk menghasilkan kain batik. Namun, batik tulis tetap mendapatkan hati para pecintanya.

Selama ini, para perajin batik memang dituntut untuk terus berinovasi. Sehingga setiap karya yang dihasilkan selalu memiliki ciri tersendiri dan kualitas  tinggi. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah tetap mempertahankan pakem yang ada dan memadukan dengan tren yang berkembang saat ini.

“Semisal Liris Tlogosari ini, saya padukan liris dan motif tlogosari yang itu adalah paduan pakem batik tulis dan perkembangan saat ini. Hal itu juga berlaku pada pilihan warna kain. Anak muda suka dengan warna cerah, dewasa warna lembut. Itu bisa disesuaikan,” pungkas Ita.

Kanal Terkait